
Huh!
Kuhela napas dalam-dalam dan mencoba mendamaikan hatiku di pagi buta ini. "Aku butuh cokelat panas. Aku mesti ke dapur, setelah itu baru ke geladak atas. Pagiku mesti tetap baik meskipun aku memiliki suami yang sangat menyebalkan seperti James. Oke? Rileks, Rose. Rileks...."
Sekarang, aku melangkahkan kakiku ke arah dapur. Keadaannya hening. Kupikir para pelayan mungkin belum terbangun.
"Anda butuh apa, Nyonya? Biar saya panggilkan pelayannya."
Oh, jantungku nyaris saja copot karena suara Justin membuatku tersentak kaget. Aku berbalik dan menggelengkan kepala. "Tidak perlu," kataku. "Saya bisa membuat minuman sendiri. Tidak perlu memanggil pelayan."
"Tapi, Nyonya--"
"Tidak perlu, oke?"
"Baiklah. Silakan."
"Kamu tunggu di situ, jangan ikut masuk ke dapur."
Aku berbalik, perlu beberapa langkah lagi untuk masuk ke dapur. Tetapi, setibanya aku di dapur dan membuka pintu, aku malah menjerit. Seorang pelayan perempuan dan salah satu bodyguard James sedang bercinta di dalam sana.
"Maaf, Nyonya," kata keduanya bergegas menutupi tubuh mereka dengan pakaian masing-masing.
__ADS_1
Dan, di sisi lain, Justin ikut berlari ke arah dapur untuk menghampiriku. "Ada apa, Nyonya?" tanyanya dengan tangan yang sudah siap siaga dengan senjata api miliknya.
Aku menggeleng, melerainya dengan tanganku. "Berhenti di sana. Tidak ada apa-apa. Jangan masuk ke dapur. Mundur, oke? Saya hanya kaget. Hanya kaget. Tidak terjadi apa-apa. Oke?"
"Tapi, Nyonya--"
"Mundur!"
"Maaf. Tapi saya harus mengeceknya."
Dengan cepat, Justin menerobos masuk ke dapur dan...
Tidak ada apa pun. Hanya ada pelayan perempuan yang sudah kembali berpakaian rapi sementara yang lelaki sudah bersembunyi entah di mana.
Justin mengangguk, dia melangkah keluar dari dapur dan menungguku di depan pintu. Dan di saat bersamaan tiba-tiba aku merasa senang. Kurasa, ternyata asyik juga bisa mengendalikan asisten James itu hanya dengan berkata keras kepadanya.
Ah, andai saja aku bisa benar-benar menempati posisi nyonya bagi asisten yang super kaku itu, aku akan mengerjainya setiap kali ada kesempatan. Supaya dia melepaskan pistolnya dan malah membuatkan cokelat panas untukku atau membelikan pembalut di minimarket. Sebab, wajahnya yang kaku itu sungguh sangat menyebalkan.
"Nyonya, maafkan kami," si pelayan perempuan itu kembali memohon dengan agak berbisik.
Aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Aku tidak akan marah atau melakukan apa pun, itu bukan hakku. "Maaf sudah mengganggu," kataku. "Saya hanya ingin menggunakan dapur."
__ADS_1
"Nyonya butuh apa? Biar saya bantu."
"Tidak perlu."
"Tapi, Nyonya, kalau Tuan James tahu--"
"Dia masih tidur. Silakan kalau... kalau kalian mau... melanjutkan yang tadi. Saya tidak akan mengganggu lagi."
Tapi ia segan, aku tahu. Pelayan itu tetap berdiri di tempat dan merasa canggung.
Alhasil, karena ingin cepat, aku melangkah masuk ke dapur dan hanya mengambil kopi instan yang terlihat olehku, meraih cangkir dan menuangkan air panas lalu mengambil sendok, kemudian aku segera pergi dari sana. Aku mesti menghalangi Justin mengecek ke dapur lagi karena aku takut jika orang lain akan celaka gara-gara aku.
Di saat aku keluar dari dapur, tahu-tahu ada Bang Jack di dekat Justin, dengan wajah cemasnya, dia ikut memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
"Tidak ada apa-apa," kataku. "Aku hanya kaget karena ternyata di dapur ada orang."
Oh Tuhan... sekarang pagiku malah semakin kacau. Aku mesti kembali ke kamar. Dengan kejadian ini, Justin bisa mengira kalau aku diam-diam sengaja ingin bertemu dengan Bang Jack di dapur tanpa orang lain. Dan bisa-bisa dia akan mengadu pada James dan aku akan dihukum lagi.
Ini salahku. James sudah memperingatkanku kalau aku akan selalu diawasi. Tanpa kusadari, dalam pengawasan itu, segala sesuatu bisa terjadi di luar kendali. Tapi aku tidak mau dihukum lagi.
Tidak mau....
__ADS_1
Tepat pada detik itu, rasa-rasanya aku ingin menyerah. Rencana untuk membingkai kebahagiaan di masa depan bersama Bang Jack, terasa semakin sulit untuk kuraih.
Tapi, kebaikan dan ketulusan Bang Jack kepadaku, itu tak layak untuk kukhianati. Dia dan rasa cintanya kepadaku tak pantas untuk kucampakkan. Tetapi aku lelah, Tuhan. Sungguh, aku sangat lelah.