
"Kamu marah padaku?" Bang Jack bertanya. Dia masih berada di atasku dengan kedua mata yang kini menatap dalam ke dalam mataku. Menghipnotis.
Aku menggeleng, tak mampu berkata-kata.
"Sungguh?"
Aku mengangguk.
"Maaf jika kamu marah. Aku--"
"Tidak. Aku tidak marah."
"Rose?"
"Aku mengerti. Aku percaya padamu."
"Baiklah. Tidak usah dibahas. Tapi yang pasti, aku akan berusaha menahan diriku."
"Em, sudah, ya. Tidak usah dibahas lagi. Aku percaya padamu. Sebaiknya kita masuk, sarapan."
Bang Jack mengangguk, dengan satu kecupan kecil di hidungku, dia tersenyum lalu bangkit. Pun aku, dengan sambutan tangannya, aku berdiri dan masuk ke dalam apartemen -- dalam gandengan tangannya yang mesra.
Di dalam, Bang Jack langsung duduk di meja makan sementara aku masih berdiri di sisinya, memotongkan telur dadar lalu menyerokkan beberapa sendok potongan kentang goreng ke piringnya. Dia nampak antusias ingin segera melahap hasil masakanku.
"Sudah hampir dingin kan jadinya. Gara-gara kamu, sih, terlalu lama di luar," gerutuku, tapi aku mengulum senyum.
Seulas senyum lebar mencerahkan wajah si pria dewasa itu ketika ia melihatku tersenyum. "Mungkin maksudmu kurang lama. Iya, kan, Sayang?"
"Abang...."
Bang Jack tertawa senang. "Nanti bisa kita ulangi lagi, kok. Tenang saja."
"Iiiiih... Abang!"
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa bersamanya, sekaligus tersipu. Kuletakkan sepiring penuh telur dadar dan kentang goreng di depan Bang Jack, lalu mengisi piringku sendiri, kemudian duduk.
Bang Jack menyelimuti kentang dan telurnya dengan saus tomat, lalu menawarkan botol itu kepadaku.
"Tidak, terima kasih." Kuraih saus cabai ke dalam genggamanku lalu menuangkannya di sisi piringku. "Aku lebih suka yang hot," kataku dengan sedikit *esahan seksi. Membalas keisengannya.
Sambil menahan tawa, Bang Jack berpaling ke sarapannya, lalu menelan satu sendok penuh telur dan kembali melayangkan tatapan ke wajahku.
"Omong-omong, maaf, ya, aku bangunnya lebih lambat dari Abang."
Dia mengangguk. "Santai saja, Sayang. Tadi itu aku memang sengaja bangun lebih cepat. Tidak setiap waktu, kok. Kadang-kadang aku juga bangunnya lebih siang."
Aku manggut-manggut. Aku mengira kalau dia terbangun cepat itu karena lapar. "Lain kali kamu bangunkan aku saja, ya," kataku. "Biar aku yang masak. Tidak apa-apa, kok. Kapan pun kamu ingin dibikinkan makanan, bangunkan aku. Aku siap, kapan pun kamu lapar, aku bisa memasakkan apa pun untukmu. Ya?"
Dan kali ini Bang Jack tersipu. "Sejujurnya, tadi itu aku kepingin membuatkan sarapan untukmu. Tapi kamunya malah sudah terbangun duluan."
"Oooh... manis sekali...."
__ADS_1
"Tidak manis. Kan gagal."
"Tidak apa-apa. Yang penting niatmu tulus. Aku tersanjung. Tapi lain kali tidak perlu. Biarkan itu menjadi tugasku. Aku istrimu, kan?"
Jiaaaaah... Bang Jack tersenyum-senyum. Dia mengangguk dengan binar mata bahagia terpancar dari kedua matanya. Dengan tangan terjulur, dia merema* lembut jemariku. "Kamu istriku," ujarnya. "Teman hidupku yang terbaik. Terima kasih."
Ah, Bang Jack. Aku balas tersenyum dan balas merema* lembut jemarinya. "Lanjut makan, ya."
Lagi. Dia mengangguk. "Em," gumamnya. "Ini nikmat sekali. Terima kasih, ya, Sayang."
"Apanya, Bang? Apa yang nikmat? Hmm? Telurmu? Eh?"
Hahaha! Aku tertawa geli.
"Sayang...," Bang Jack merengek manja ala rengekanku terhadapnya.
"Apa, sih...? Memangnya ada yang salah? Kan ini memang telurnya Abang. Aku hanya koki khusus yang bertugas mengocok-ngocok dan memasukkan telurmu itu ke dalam wajanmu yang hangat, ya kan?"
"Sebaiknya jangan memancingku, Sayang. Atau nanti kamu akan menyesal karena tepaksa menjinakkan aku. Memangnya kamu mau? Hmm? Satu kali tidak akan cukup. Butuh waktu lama untuk menjinakkan aku."
"O ya?" Sambil cekikikan, aku mengedarkan pandang ke sekeliling dapur yang besar dan terang itu. Lemari, meja, dan kursinya terbuat dari kayu ek, kemudian aku mengelus permukaan mejanya yang mengilap. "Kurasa meja ini kokoh, ya kan?"
"Well, ingin mencobanya?" Bang Jack langsung berdiri, ia bergerak ke dekatku dengan cepat, lalu mengangkat dan mendudukkan aku ke atas meja -- ke sisi yang kosong -- dengan secepat kilat hingga aku memekik. "Katakan kalau kamu mau." Dia nyengir lebar seperti orang gila!
Ckckck!
Yap. Ini salahku sendiri, si gadis belia yang beraninya bermain-main dengan seorang pria dewasa.
"Bagaimana? Kuat, kan? Dijamin, meja ini tidak akan roboh," dia berkata pelan di telinga seraya menindihku di atas meja -- dengan keseluruhan bobotnya, seperti yang tadi ia lakukan padaku di beranda belakang. "Jadi, katakan, masih ingin mengetesnya?"
Ukh!
Ssst... Bang Jack menekankan dirinya kuat-kuat kepadaku dengan sekali hentakan pinggul. Ya ampun, tekanannya luar biasa, bestie. Kugigit bibirku sendiri karena...
Oh, betapa nikmatnya hentakan itu, kekuatannya... dan... juga tekanan tubuhnya kepadaku. Kusadari, hasratku pun menyala dengan begitu liar.
"Hati-hati, Sayang," bisik Bang Jack dengan deru napas yang menyapu telinga. "Aku lelaki tiga puluhan yang sedang buas-buasnya. Aku bahkan bisa setangguh dan seliar kuda jantan. Kau ingin mencobanya? Hmm? Katakan saja, maka semua keinginanmu itu akan terpenuhi. Aku, di sini untukmu."
Hahaha!
Aku tertawa keras. "Aku ingin," kataku tak tahu malu. "Tapi nanti, ya, setelah kita menikah. Maafkan aku karena aku sudah memancingmu."
Ukh!
Dia menyentakku lagi.
"Abang...," pekikku.
"Emm?"
"Lepaskan aku, tolong?"
__ADS_1
"Yakin?"
"Emm... yaaa...kin."
"Serius?"
"Ukh!"
Dia menyentakku lagi....
Dasar! Nikmat, tahu!
Eh? Ckckck!
"Yakin?"
"Iya, Abang...."
"Baiklah."
"Ukh!"
Kembali kugigit bibir karena menahan rasa sementara Bang Jack tersenyum dan menahan tawa.
"Mau lagi, kan?"
Bingung. Hati bilang iya, tapi mulutku ingin berkata tidak. Aku menggeleng. "Aku takut kita tidak bisa berhent--"
Oh... eummmmm... satu ciuman super membungkam mulutku.
Sambil tertawa puas, Bang Jack pun turun dari atas tubuhku.
Ah, dasar Bang Jack. Enak sih enak, tapi aku sampai lemas, tahu!
Yap, aku bukannya takut, malah sama sekali tidak takut kalau dia akan berbuat macam-macam padaku. Bahkan, aku menginginkan dirinya, aku ingin kami bercinta. Tapi... tidak sekarang. Aku ingin dia menikahiku dulu. Aku ingin dia menghormati aku dan momen pertama-ku itu dengan ikatan suci pernikahan. Aku mesti menahan diriku, juga menahan dirinya.
Meski iseng, dan sekarang aku terkesan murahan dan nakal di depan Bang Jack, tapi jauh dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin momen pertama-ku itu berharga. Bukan terenggut cuma-cuma, termasuk olehnya: orang yang kucintai dan mencintaiku.
Tidak. Aku mengangguk yakin. Aku bisa menunggu momen itu tepat pada waktunya. Logika tidak boleh kalah oleh hawa nafs*.
"Omong-omong, kausmu basah. Asem, tahu!"
"Baiklah. Akan kubuka untukmu."
"Iyuuuuuh...." Aku tertawa geli.
Dengan percaya dirinya, Bang Jack membuka kausnya dan melemparkannya ke arah kamar mandi. Dia lanjut menikmati menu sarapannya dengan santai sambil memamerkan tubuh seksinya di hadapanku.
"Mau pegang? Hmm? Ayo, sini."
Aku menggeleng. "Mau, sih. Tapi nanti saja-lah. Takut kamu bergairah lagi," ledekku. Aku pun terkikik-kikik geli.
__ADS_1
"Ya sudah. Jangan menyesal, lo, ya."
Ah, dasar Bang Jack! Tahan, Rose, tahan....