Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Jiwa Yang Terluka


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore ketika Bang Jack mengajakku ke area supermarket. Dengan trolley besar yang ia dorongkan, dia menyuruhku mengambil apa pun barang yang kuinginkan, baik itu berupa camilan, makanan instan, ataupun jenis-jenis bumbu dapur dalam bentuk kemasan. Dia juga memberitahuku apa-apa saja kesukaannya, seperti merek kopi hitam yang sering ia konsumsi atau teh yang ia sukai.


Jujur, awalnya aku merasa segan. Bukan tidak mau, tapi segan. Benar-benar segan. Dan persis di saat aku ingin mengambil cokelat dan keju dari rak, aku merasa tidak enak hati jika aku menikmati kehidupan yang Bang Jack berikan kepadaku, sementara ibunya malah terkurung di rumah sakit khusus itu dalam keterbatasan. Aku merasa bersalah.


"Kenapa?" tanya Bang Jack karena aku mengembalikan apa yang sudah kupegang dan menaruhnya kembali ke rak.


Aku menggeleng. "Tidak usah saja," kataku.


"Memangnya kenapa?"


"Aku tidak enak."


"Alasannya?"


"Itu, anu...."

__ADS_1


"Katakan."


"Mama di rumah sakit. Dia... hidupnya terbatas. Makannya terbatas. Tapi aku malah...."


"Mama lebih baik tetap berada di sana," kata Bang Jack. Dia meraih kedua tanganku dan menggenggamku kuat-kuat, sedangkan matanya menatapku dalam-dalam. "Jangan berpikir yang aneh-aneh," tegasnya. "Ada dokter yang mengontrol kesehatan Mama. Perawat membantu mengurusi semua keperluannya. Dan soal asupan makanannya, ada ahli gizi. Dia makan dengan standar yang cukup supaya kesehatan tubuhnya terjaga. Kadar gulanya tidak berlebihan, pencernaannya juga terjaga. Dan kurasa mulai sekarang Mama sudah mau makan yang banyak karena mendengarkan permintaanmu tadi, ya kan? Jadi kamu tidak perlu khawatir. Dan tidak perlu merasa tidak enak. Bisa dengarkan aku, Rose?"


Aku mengangguk. "Jadi tidak apa-apa kalau aku...?"


"Tidak apa-apa. Beli apa pun yang kamu mau. Lagipula kita perlu banyak bahan makanan untuk stok jangka panjang. Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari apartemen tanpa aku, walaupun hanya sekadar ke minimarket untuk membeli sesuatu, tidak akan. Kamu hanya boleh keluar apartemen kalau ada aku atau kalau dalam keadaan genting. Selebihnya tidak boleh. Tidak akan kuizinkan. Kamu paham?"


"Aku tidak bermaksud mengekangmu, Rose," suaranya serak, dan terdengar lirih. Dia mengusap-usap rambutku dan mencium sisi keningku berkali-kali. "Aku sama sekali tidak bermaksud mengurungmu. Bukan seperti itu. Aku... aku hanya ingin kamu aman. Aku tidak ingin kehilanganmu, tidak ingin ada yang menculikmu, atau mengambilmu dariku. Kamu bisa memahamiku, kan? Aku akan sebisa mungkin membagi waktuku untukmu, mengajakmu jalan-jalan kalau aku sedang senggang. Tolong, ya, kamu jangan pernah pergi sendiri. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup. Sudah cukup aku merasakan kehilangan orang-orang di sekelilingku."


Fix, bagian dirinya yang terluka yang berbicara seperti itu.


"Rose, berjanjilah padaku, please?"

__ADS_1


Kudorong ia lembut, melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seraya menatap kedua matanya yang berkaca, aku mengangguk. "Aku tidak akan ke mana-mana tanpamu. Aku janji."


"Terima kasih...."


"Iya."


"Jangan ingkar?"


"Tidak akan. Aku tidak akan mempermasalahkan kesendirianku, rasa bosan, keterbatasan gerak, atau apa pun. Aku akan tetap berdiam diri di apartemen, menunggumu pulang. Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku janji."


Lega. Bang Jack menarikku lagi, sekali lagi mendekapku ke dalam pelukannya yang erat. Yeah, tidak akan masalah bagiku jika ragaku terkurung dalam bangunan bertingkat itu. Sebab cintaku yang begitu besar, aku memilih mengerti luka yang ada di dalam jiwa kekasihku. Siapa yang paling mengerti luka kehilangan selain orang yang sudah mengalaminya sendiri? Jadi aku tahu, sebab aku pun sudah mengalami tiga kali sakitnya kehilangan orang-orang yang kusayangi.


Well, bagaikan menyetok barang seperti orang yang hendak membuka warung, tidak terkecuali menyetok berbagai jenis buah-buahan dalam jumlah banyak, aku dan Bang Jack akhirnya tertawa sendiri. Termasuk menertawakan kehidupan kami yang bagaikan hidup dalam pengasingan. Sampai kapan kami akan terus bersembunyi?


Dan kau tahu, pada hari itu aku merasa takdirku tidak benar-benar beruntung. Aku merasa seperti buruan yang terlepas dari sarang macan, tapi malah terperosok ke sarang singa. Dan, terbesit dalam hati kecilku, meskipun ada sisi manis yang membuatku bahagia, kehidupan seperti ini membuatku ngeri, aku takut pada dunianya yang gelap, di mana hidupku juga ikut menjadi taruhan. Salah-salah, bisa saja suatu waktu nyawaku juga ikut melayang.

__ADS_1


Tapi cinta ini menuntutku untuk tetap berada di sini. Menjadi pengobat bagi jiwanya yang terluka. Dia membutuhkan aku.


__ADS_2