Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Firasat


__ADS_3

Walaupun kemarin aku bisa menghindari ajakan James untuk bermain game yang ia suguhkan kepadaku dengan alasan bahwa aku tidak tertarik dengan game dan lebih memilih menyibukkan diri dengan memasak, namun sampai pagi ini aku masih saja memikirkan poin-poin yang dituturkan oleh James. Aku memang tidak menanyakan satu hal apa pun pada James mengenai game itu apalagi secara terang-terangan menanyakan maksudnya. Biarlah aku seperti boneka yang ada di antara Bang Jack dan James, boneka yang dipermainkan atau justru diperebutkan oleh mereka. Toh, dengan aku diam dan menurut, sampai saat ini aku masih hidup, aku tidak dijadikan pelacu*, dijual, apalagi ia jadikan mangsa yang digilir oleh anak buahnya.


Masih sibuk dengan pemikiranku, aku tidak menyadari ketika James masuk ke dalam kamar dan ia menjentikkan jari tepat di depan wajahku. Aku pun tersentak, kembali ke dalam kesadaran dan melihat senyum bahagia terukir di wajah James. Dia nampak sangat ceria pagi ini karena segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan rencana dan prediksinya. Semua anak buah mendiang Tuan Johnson yang dinyatakan negatif narkoba sudah dibebaskan dan sudah kembali ke markas, rumah besar milik ayahnya, dan beberapa anak buah yang dinyatakan positif narkoba telah disetujui permohonan rehabilitasinya. Dan, pagi ini, kapal pesiar yang membawa kami berlayar sudah kembali mendarat di pelabuhan. James sudah siap untuk menempuh perjalanannya ke luar negeri untuk mengurus perihal pengalihan aset-aset Tuan Johnson yang diwariskan kepadanya. Sementara aku, seperti yang ia rencanakan, ia menitipkanku kepada Bang Jack.


Oh Tuhan... kenapa? Hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak nyaman bersama Bang Jack. Firasatku mengatakan bahwa James sedang merencanakan sesuatu terhadap kami. Tidak seperti biasanya, momen bersama Bang Jack yang selalu kunanti-nantikan, kali ini seakan-akan aku ingin sekali menghindarinya. Aku ingin menolaknya. Aku bahkan meminta kepada James untuk mengantarku pulang ke paviliun saja, tapi ia menolak dengan alasan bahwa aku akan lebih aman dan akan lebih nyaman jika aku bersama dengan Bang Jack.


"Lagipula, apa yang kamu takutkan, Sayang? Bodyguard-bodyguard kita akan selalu menjagamu. Mereka akan berjaga dua puluh empat jam di setiap area keluar dari apartemen. Setiap hari. Jadi... tidak akan ada siapa pun yang bisa membawamu pergi. Percaya padaku, oke? Kamu akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa pun padamu tanpa seizinku."


Aku mengangguk. Namun di hatiku, kekalutan itu tetap bertahta dan sangat nyata.


"Ayo," ajaknya. James menggandeng tanganku dan membawaku keluar dari kamar menuju area parkir mobil. Di sana, dia menyerahkanku langsung kepada Bang Jack, lalu ia berkata, "Nikmati momen kalian. Aku akan menjemput Rose setelah semua pekerjaanku selesai."


Aku menggeleng pelan. Ada yang tidak beres, pikirku. Tidak mungkin James mengatakan hal itu hanya untuk berbasa-basi. Ada apa? Kenapa? Pertanyaanku tak terjawab. Tetapi, aku begitu takut kalau-kalau James akan benar-benar melenyapkan Bang Jack.

__ADS_1


Mungkinkah perjalanan Bang Jack nantinya itu hanya akal-akalan James untuk membalas kematian Tuan Johnson? Mungkin di bagian akhirnya? Setelah James mendapatkan semua uangnya? Tidak. Jangan, James. Jangan....


"Sayang?"


"Emm?"


"Obat-obatanmu jangan lupa dikonsumsi. Kamu berani menyuntikkannya sendiri, kan? Bukan berarti aku tidak ada di sini program hamil yang kita jalani harus terhenti. Kamu paham?"


Aku mengangguk. "Aku... akan aku coba. Jangan khawatir."


Oh romantis. Saking romantisnya kau bahkan mengatakan hal ini di depan Bang Jack. Terima kasih, James. Terima kasih. Dasar menyebalkan....


"Pergilah." James membukakan pintu mobil di bagian penumpang. "Aku mencintaimu, Rose."

__ADS_1


Lagi. Aku hanya bisa mengangguk tanpa kata. Tetapi, sebelum aku masuk ke mobil...


"Rose."


Oh, Tuhan. James menahanku, dia membuatku kembali menghadapnya, lalu, dengan mesranya dia menangkup wajahku dan mencium bibirku, sangat lama.


"Aku tidak akan pergi terlalu lama. Dan aku pasti akan selalu merindukanmu. Tunggu aku pulang, ya. Aku sangat mencintaimu."


Dan, adegan itu dilengkapi dengan pelukan erat dan ciuman di keningku.


Lengkap. Sempurna.


Ketika aku masuk dan duduk di mobil, Bang Jack menderumkan mesin mobil hingga derumannya serasa menguliti hatiku.

__ADS_1


"Well, Kakak Ipar," --James kembali menunduk di jendela mobil di sampingku-- "aku menunggu jawabanmu sepulang aku menyelesaikan urusanku. Dan sesuai janjiku, akan kuberikan sesuatu yang sangat kau harapkan. Selamat jalan. Titip istriku."


Oh Tuhan, seakan genderang perang telah bertalu.


__ADS_2