Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Romantic Dinner


__ADS_3

Tiga hari kemudian....


Please, berdandanlah untukku dan pakai gaun ini. Aku menunggumu di rooftop jam 7 malam.


Ya Tuhan, aku menggeleng-geleng keheranan. James memberikan gaun pengantin untukku? Apa sesulit itu membuat seorang pria mengerti tentang kesetiaan? Tapi baiklah, James. Hanya untuk malam ini. Aku sudah menunggumu, dan kau pun sudah berjanji akan menceritakan segalanya kepadaku, maka aku akan mendengarkan. Aku ingin mengetahui segalanya. Dan setelah ini, jika kau tetap memaksa, aku lebih baik mati daripada harus merebut hak dan milik orang lain. Tidak akan.


Jam tujuh malam, aku sudah berdandan dan mengenakan gaun yang James berikan. Gaun pengantin putih yang menjadikan aku bak seorang pengantin untuk semalam.


Tok! Tok!


"Nyonya, Tuan James sudah menunggu."


Dengan seanggun mungkin, aku keluar dari kamar dan menemui James di rooftop. Di sana, dia sudah menungguku dengan tuksedo putih selayaknya seorang mempelai pria yang sedang menunggu pengantinnya. Tempat itu didekorasi dengan sangat indah, dengan tirai-tirai putih mengelilingi kami, satu set meja untuk makan malam romantis dengan hidangan yang mewah, dan lampu-lampu hias berikut bunga-bunga cantik menghiasi setiap sudut tempat itu sehingga menambah kesan romantis malam itu.


Tidak, James. Seindah apa pun kejutan yang kau siapkan ini, ini semua di atas pengkhianatan. Ini tidak akan berarti, hanya akan menambahkan rasa sakit untuk semua pihak.


"Terima kasih sudah memenuhi permintaanku."


Aku mengangguk. "Untuk yang pertama sekaligus yang terakhir. Aku tidak akan bisa memberimu apa pun lagi selain waktuku malam ini."


"Maksudnya?"


"Terserah padamu mengartikannya seperti apa."


"Oke, baiklah. Tidak usah membahas apa pun. Fokus untuk malam ini saja."


"Ya, seperti janjimu yang akan menceritakan segalanya, aku menunggu untuk itu."


James hanya mengangguk pelan. "Aku akan menepatinya. Sekarang makan malam bersamaku. Kamu bersedia, kan? Please...?"


James mengulurkan tangan, dan, walaupun enggan, aku tetap menyambutnya. Kami pun duduk di meja makan dan menyantap makan malam bersama. Sejujurnya aku tidak memahami betul apa tujuan James di balik perlakuan romantisnya malam itu, tapi satu yang kupikirkan, dia berusaha membujukku untuk mempertahankan pernikahan kami: hal yang sangat mustahil untuk kulakukan.


"Kuharap kamu tidak salah paham," kataku seraya menatap fokus isi piringku dan memain-mainkan garpu. "Aku memenuhi permintaanmu ini hanya untuk momen terakhir kebersamaan kita. Jangan berharap kalau aku akan bersedia mempertahankan pernikahan kita. Tidak akan pernah. Aku tidak akan merebutmu dari istri dan anak anak-anakmu. Aku bersedia mati untuk itu, supaya kamu bisa kembali kepada mereka."

__ADS_1


James mengangguk. "Kalau aku memilih bercerai demi bersamamu...?"


"Kamu bebas memilih, James. Tapi aku tidak akan bersedia. Sudah kubilang aku lebih baik mati. Kamu menceraikannya, maka kamu akan mendapatkan jasadku. Bukan aku, tidak pula dengan cintaku."


Hening. Baik aku dan James, kami sama-sama berjibaku dengan pemikiran masing-masing dan santapan masing-masing. Aku sangat mengontrol diriku malam itu, aku tidak boleh mengedepankan emosiku karena tujuanku malam itu untuk mengetahui informasi. Sebisaku, aku tidak akan menciptakan kekacauan dan keributan.


"Kamu tahu, kurasa saat ini aku pun berada di posisi yang sama denganmu. Seperti aku yang mengharuskanmu, maaf, maksudku mengharapkanmu untuk setia kepada keluargamu, aku pun mengutamakan kesetiaanku kepada pria yang mencintaiku. Aku memang menikah denganmu, tapi kamu tahu benar kalau aku tidak bisa menempatkanmu di hatiku. Dalam kehidupanmu, juga dalam kehidupanku, cinta tidak harus memiliki. Dan saling memiliki tidak harus dengan cinta, bukan? Bahagia atau tidak itu bukan tujuan utamaku, tapi menjaga kesetiaan, itulah yang utama. Yang kupertahankan. Aku minta maaf kalau keterusteranganku ini menyakiti hatimu. Tapi aku tidak ingin memberimu harapan lebih. Tolong dimengerti?"


Lagi. James mengangguk. "Sesungguhnya obrolan ini terlalu menyakitkan," katanya. "Aku mengerti dan aku memahami semuanya. Tapi, please, aku mohon, kita jangan membahas soal ini sekarang, sudah cukup, tolong?"


"Well, hanya jika kamu tidak menganggap kata-kataku ini sebagai omong kosong. Perceraianmu adalah belati yang akan merenggut nyawaku. Paham?"


Tidak ada jawaban, hanya ada anggukan kecil seolah pria itu benar-benar memahami perkataanku.


"Oke. Tapi aku punya satu pertanyaan, mumpung aku ingat." James menatap serius kepadaku. "Tentang rencanamu yang berniat membunuhku."


Deg!


"Sejak kapan kamu merencanakannya?"


Tak!


James terkejut, aku menancapkan garpu di permukaan meja, persis di hadapannya, di samping piringnya.


"Tapi sayangnya aku terlalu pengecut untuk menghabisi nyawamu, dan sialnya, aku juga selalu gagal membunuh diriku sendiri."


James hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukanku, sementara aku menertawakan keterkejutannya.


"Bersyukurlah karena kamu memiliki istri dan anak, jadi aku tidak sampai hati untuk menghabisi nyawamu."


Dia tidak menyahut, hanya mengangguk, kemudian ia menyorongkan sesendok makanan di depan mulutku.


"Jangan sok romantis, Tuan James."

__ADS_1


"Makanlah, aku mohon?"


"Aku tidak akan luluh."


"Ini bukan bujukan, Sayang. Aku hanya ingin memintamu bersikap baik. Jadikan malam ini malam yang indah untukku. Aku mohon?"


Harus kuakui, jika dia memang mencintaiku dan bukan sekadar bersandiwara, sikapnya sangat manis. Terlepas dari semua tindakan jahatnya, beruntung bagi seorang gadis yang mendapatkan cinta seorang James Harding. Aku jadi tidak habis pikir kenapa dulu Rose Emerson mengkhianatinya demi Bang Jack. Tapi aku yakin, Bang Jack tidak tahu-menahu perihal pengkhianatan Rose Emerson terhadap James yang melibatkan dirinya.


"Biarkan aku mencintaimu meski rasaku tak terbalas. Aku mohon, biarkan aku menikmati momen bersamamu malam ini."


Hmm... tidak ada gunanya mempertahankan ego. Aku pun membuka mulutku dan menerima suapan dari James. Tidak sekali, dia menyuapiku beberapa kali bahkan sampai kami berdua merasa kenyang. Dia tidak ingin melanjutkan obrolan sampai kami benar-benar selesai makan malam.


"Well, kita sudah selesai makan. Jadi?"


"Sabarlah, Sayang."


"Sudah kubilang aku tidak akan luluh."


"Sudah kubilang biarkan aku menikmati malam ini bersamamu."


Argh!


"Terserah!"


James tersenyum -- senyuman bahagia yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Senyuman -- yang membuatku percaya dia tidak sedang bersandiwara dengan perasaannya terhadapku.


"Kamu tahu, aku ingin kamu bisa merasakan perasaanku."


"Percuma, James. Walaupun aku bisa merasakannya, walaupun aku percaya, keputusanku tidak akan pernah berubah."


"Ya." Dia mengangguk. "Aku tahu kamu gadis yang berbeda. Kamu tidak silau dengan harta. Kamu tidak memimpikan apa pun yang kupunya."


"Ya. Jadi berhentilah berusaha. Berhentilah berharap. Kamu bukan milikku, dan aku tidak akan pernah merebutmu dari orang lain. Kita tidak akan pernah bersama. Tidak dalam kehidupan sekarang."

__ADS_1


Dia berdiri, menghampiriku dan mengulurkan tangan. "Setidaknya untuk malam ini. Hanya malam ini saja, bersikaplah baik, jangan rusak momen kebersamaan kita malam ini, please?"


__ADS_2