
Persis dugaanku, James tidak mengarahkan pelurunya kepadaku. Dia tidak akan membiarkan aku mati sebelum tujuannya tercapai. Setidaknya, itu pemikiranku berdasarkan niat awalnya, dia ingin mendapatkan semua uang dari bisnis mendiang ayahnya.
Dan, ketika aku membuka kedua mataku, pria itu sudah berdiri tepat di hadapanku, di depan wajahku.
"Kenapa, James? Kenapa kamu masih membiarkanku hidup? Kenapa?"
Refleks, aku mencengkeram kerah bajunya. Tetapi pria itu diam saja.
"Kamu belum puas menyiksaku? Hmm? Atau karena uang itu, karena kamu belum mendapatkan uang itu? Iya?"
Hening. James tetap membisu. Dia menatapku dalam diam. Dan itu membuat emosiku semakin meluap.
"Jawab aku, James! Jawab!"
James memalingkan pandangannya. Tepat pada saat itu, aku berhasil merebut pistol dari tangannya. Aku mundur dua langkah, menciptakan cukup jarak lalu menodongkan senjata itu ke arahnya.
"Kalau kamu tidak bisa membunuhku, biar aku yang membunuhmu."
James tidak bereaksi. Sebab itu, terlintas di benakku bahwa senjata yang ada di tanganku itu tidak memiliki peluru yang tersisa. Jika aku memaksakan untuk menarik pelatuknya, maka James hanya akan menertawaiku dan sandiwaraku selama ini akan berakhir sia-sia. Dia tidak akan memberikan peluang lagi kepadaku untuk bebas berada di dekatnya. Lagipula, seandainya di dalam senjata itu ada pelurunya, aku tidak boleh menembak James. Aku tidak ingin menghabisinya dengan cara seperti ini. Aku tidak ingin diriku berakhir di penjara begitu saja.
Well, pada akhirnya, aku mengarahkan senjata itu kepada diriku sendiri. Dan, hasilnya sama. James tetap tidak bereaksi. Kini ada banyak kemungkinan yang menyusup ke dalam benakku. Jika James tidak ingin aku mati, maka dia akan mencegahku. Tapi dia tidak melakukannya, dia membiarkan aku menodongkan pistol itu ke kepalaku sendiri. Jadi, kemungkinan dan keyakinanku bahwa senjata di tanganku itu benar-benar tidak memiliki peluru jadi semakin kuat. Tetapi, sebaliknya, jika senjata itu memiliki peluru dan James tidak berusaha menghalangiku, berarti dia memang ingin aku mati dengan tanganku sendiri, bukan dengan tangannya. Itu berarti aku akan mati dan dia akan mengubur atau mengkremasi jenazahku. Hanya Tuhan dan dia yang tahu jawabannya. Yap, sejujurnya aku siap. Mati tinggal mati, bukan? Sudah berapa kali aku menantang maut seperti ini? Jadi aku tidak takut mati. Namun, bagaimanapun juga, meskipun aku ikhlas akan mati dalam usahaku dan permainanku sendiri, tetap saja, instingku mengatakan bahwa senjata itu memang tidak memiliki peluru.
__ADS_1
Kupejamkan mataku dan kuyakinkan diriku untuk mengambil langkah ini. Aku menarik pelatuknya.
Dan...
Tidak terjadi apa pun. Senjata itu benar-benar tidak memiliki peluru. James hanya menguji keberanianku, dia hanya ingin tahu apakah aku benar-benar ingin bunuh diri atau hanya bersandiwara.
Ketika aku membuka kembali kedua mataku. James masih dalam keadaan yang sama. Hanya saja kali ini dia terpaku, meski aku tidak mengetahui kebenaran yang ada di benaknya, tapi aku bisa melihat ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Apa dia sekarang mempercayaiku? Kenapa ekspresinya begitu aneh? Begitu asing untuk kupahami.
Tetapi aku harus mengenyahkan hal itu: reaksi yang muncul di wajah James yang sedikit -- atau -- banyak -- berhasil mempengaruhiku, menggugah -- sesuatu yang tidak kumengerti -- yang terjadi di dalam benakku. Aku harus mengenyahkan perasaan itu.
"Berengsek! Tidak berguna!" raungku seraya membanting senjata itu. "Kenapa? Aku sudah bosan hidup, kenapa susah sekali untuk mati? Kenapa?"
Prang!
Kaca itu pecah dan berserakan. Aku sudah melakukan hal ini pada Bang Jack, sekarang pada James. Dan, aku tahu kali ini aku harus berbuat lebih nekat, aku harus melukai pergelangan tanganku dengan serius, tepat pada urat nadiku.
Tapi tidak begitu kejadiannya. Persis ketika aku hendak meraih pecahan kaca di lantai, James mencegahku. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Dia menarikku berdiri.
"Hentikan, Rose! Hentikan!"
__ADS_1
Tapi aku tidak mungkin mendengarkannya. Sandiwaraku harus dilakukan dengan sempurna. Aku berontak, berteriak-teriak kepadanya. "Lepaskan tanganku, James! Biarkan saja aku mati!"
"Hentikan!"
"Apa pedulimu? Biarkan aku mati!"
"Rose!"
"Emilia!"
James terdiam.
"Aku Emilia," kataku, nadaku sedikit turun. "Aku bukan Rose. Dan aku sudah muak dengan semua sandiwaramu. Aku lelah kamu jadikan boneka. Dan tentang uang dari bisnis ayahmu itu, kamu melakukan kesalahan besar. Kamu menukar keperawananku dengan materi. Waw, James! Keperawanan yang katamu sudah hilang dariku. Skenario yang sempurna. Aku sudah memintamu membawaku pulang ke paviliun, tapi kamu bersikeras menyuruhku pulang ke apartemen. Harusnya aku menuruti kecurigaanku, tapi aku percaya padamu. Ingat, kamu bilang apa? Tidak akan terjadi apa pun padaku tanpa seizinmu. Hebat! Aku menyesal percaya padamu. Aku menyesal mengasihanimu yang sebatang kara. Aku menyesal! Dan kamu tahu, tepat pada saat itu, saat kamu menukar keperawananku dengan materi itu, kamu sudah membuatku mati. Kamu bukan manusia! Kamu tidak layak terlahir dari seorang wanita! Kamu tidak pantas menjadi seorang suami, apalagi seorang ayah. Kamu iblis! Dan sekarang kamu mencegahku mati demi uang? Tidak akan! Aku lebih baik mati daripada kamu mendapatkan uang itu dengan memanfaatkan aku! Aku lebih baik mati!"
James menggeleng. Kini dia terlihat resah meski ia berusaha menutupinya. Kemudian, tanpa mengatakan apa pun, James menarikku ke arah nakas. Dari dalam laci, ia mengambil suntikan dan menancapkan jarum kecil itu kepadaku.
Obat bius. Instingku mengatakan demikian. Bagus, pikirku. Itu berarti James sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Dan itu artinya dia sudah mulai mempercayaiku.
"Apa ini? Obat bius? Hmm? Bunuh saja aku, James! Bunuh saja aku! Suntikkan racun supaya aku mati!"
Sekarang aku melihat ketakutan di matanya. Kemudian, ketika aku merasa tubuhku mulai melemah, dia menahanku, lalu ia menggendongku dan mambawaku ke ranjang. Aku terbaring. Entah benar atau tidak, di ujung kesadaranku, pria itu menatapku dengan perasaan bersalah. Ada penyesalan di matanya. Ketika aku memejamkan mata, aku masih bisa mendengarkan suaranya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Rose. Emilia. Atau siapa pun dirimu. Harusnya aku... aku tidak memperlakukanmu dengan buruk. Harusnya aku membahagiakanmu sebagai seorang istri. Tapi aku terlalu dibutakan oleh kebencianku. Aku selalu menyangkal kalau aku mencintaimu. Maafkan aku. Maafkan aku, Rose."
Tidak. Jangan percaya, Emilia. Dia monster. Dia iblis. Jangan pernah mempercayainya.