Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Pagi itu aku dan James langsung terbang ke Indonesia. Di sepanjang jalan, James terus memperlihatkan wajah senduhnya, dan ia memegangi tanganku di sepanjang jalan. Dia hanya tersenyum beberapa kali untuk menunjukkan kepadaku bahwa dia mencoba untuk tetap tegar. Setidaknya, begitu penilaianku saat itu.


"My James," kataku sewaktu kami tiba di Bali, masih di bandara.


Dia menatapku dalam-dalam. "Ada apa?" tanyanya.


"Anu... kamu... kamu akan baik-baik saja, kan, kalau... ada polisi? Maksudku...."


Dia kembali tersenyum, sekarang agak lepas. "It's ok. Tenang saja, Sayang. Aku tidak akan kenapa-kenapa. Bahkan kalau perlu, aku yang langsung ke kantor polisi meminta mereka memeriksaku. Aku bersih, kok. Aku bukan pemakai narkoba, aku bukan pengedar, aku juga tidak ada keterkaitan apa pun dengan jaringan prostitusi itu. Lagipula aku sangsi kalau polisi bisa mendapatkan bukti soal bisnis hitam Papa. Semuaya pasti akan baik-baik saja. Papa bahkan tidak akan kenapa-kenapa kalau tidak ada oknum yang sengaja mengincar nyawanya."


Aku menunduk. Aku mengingatkan diriku sendiri supaya -- aku -- jangan sampai salah bicara.


"Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


James mengangguk, lalu dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang. Setelahnya, dia berkata, "Aku harus mengurus jenazah Papa dan mempersiapkan segalanya. Aku juga harus ke kantor polisi dulu. Sekalian... aku harus bicara dengan pengacara-pengacara Papa. Aku ingin semua anak buah Papa yang bersih dari narkoba segera dibebaskan. Nanti aku akan merekrut mereka sebagai anak buahku. Bisnis Papa memang harus dibubarkan, tapi anak buah Papa mesti kurangkul. Mereka orang-orang yang setia, mereka juga pengawal-pengawal terlatih, jago beladiri, jadi mereka patut untuk dipertahankan. Karena itu... kalau kamu tidak keberatan, aku mau kamu pulang dulu ke apartemen. Setelah semuanya siap, nanti aku akan menjemputmu. Tidak apa, kan?"


Aku mengangguk-angguk, memahami penjelasan James. "Baiklah. Tidak apa-apa, kok. Aku mengerti," kataku.


"Terima kasih, Sayang. Sebentar, aku menelepon Jack dulu, mungkin dia bisa menjemputmu."


Hah? Bang Jack...? Aku tertegun sementara James menelepon. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Apa maksud James? Kenapa dia meminta Bang Jack yang langsung menjemputku?


"Jack bisa menjemputmu, sebentar lagi dia datang. Maaf, ya, aku harus merepotkannya. Aku buru-buru, dan aku juga butuh Justin bersamaku."


Bang Jack datang beberapa menit kemudian dan membuat jantungku berdegup kencang. Setelah sekian lama aku tidak melihat wajah tampan itu, sekarang ia malah membuat perasaanku berdebar liar hanya dengan menatapnya. Aku teramat rindu, dan perasaan itu jelas masih sama. Masih sangat sama.


"Maaf, Kakak Ipar, kami terpaksa merepotkanmu," James berkata setelah merangkul kilat Bang Jack dengan kedua tangannya. Waktu itu kami menunggu Bang Jack di parkiran bandara.

__ADS_1


Bang Jack mengangguk dengan sedikit senyuman. "Tidak apa-apa," katanya. "Lagipula aku sangat merindukan adikku."


"Terima kasih. Aku titip istriku."


Hmm....


Bang Jack hanya mengiyakan dengan anggukan. Dan setelah itu, James memelukku di hadapannya. "Terima kasih atas pengertianmu, Sayang." James melepaskan pelukannya. "Aku akan menjemputmu lagi nanti. Nanti kukabari," katanya. Lalu dia menangkup wajahku, dan...


Tahu-tahu, James mencium bibirku, tepat di hadapan Bang Jack. Bibirnya menempel selama beberapa detik, sungguh terasa lama bagiku. Dia menciumku dengan lembut dan begitu mesra. Ciuman yang sangat dalam dan sepenuh perasaan. Aku sangat takut, bagaimana kalau Bang Jack emosi dan melayangkan tembakan?


"Aku mencintaimu. Ingat selalu untuk selalu menjaga kesetiaanmu di mana pun kamu berada."


Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sakit. Hingga aku hanya bisa mengangguk dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Bye." Lalu James memerintahkan beberapa orang bodyguard untuk mengikuti mobil Bang Jack dan menjagaku di apartemen.


__ADS_2