Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Alibi Yang Manis


__ADS_3

"Rose...," seru Mama saat aku membuka pintu kamar rawatnya. Dengan riangnya ia turun dari ranjang rawat lalu menghambur dan memelukku. Diciumnya aku beberapa kali lalu ia berkata, "Mama kangen sekali, Nak."


Aku tersenyum. "Aku juga kangen Mama," kataku. "Dan... selamat ulang tahun." Aku mengecup pipinya kanan-kiri lalu memeluknya erat-erat. "Ayo, kita potong kue."


"Kamu bawa kue?" Mama bertanya girang.


Aku mengangguk. "James yang membelikan," kataku. Aku merasa enggan mengatakan hal itu, tapi nyatanya memang James yang menyuruh Justin membelikan kue itu dan ia melarangku untuk mampir ke mana pun.


"Oh, baik sekali, ya, dia? Dia perhatian pada Mama."


Jangan memujinya, Ma. Jangan....


"Terus, abangmu mana? Dia tidak ikut ke sini? James? Dia juga tidak ikut?"


Aku menggeleng. "Abang sekarang pergi ke Thailand. Ada urusan," kataku seraya mengeluarkan kotak kue ulang tahun itu dari plastik besar. "Kalau James, dia sedang keluar kota. Jadi tidak apa-apa, ya, ulang tahun Mama kali ini cuma kita rayakan berdua? Hmm? Ini ada kado dari mereka." Aku menatap kepada Mama, kue ulang tahun untuknya sudah siap di atas meja. "Ada kado dariku juga. Tapi Bang Jack yang beli. Aku cuma pilih, uangnya pakai uang Bang Jack. Tidak apa-apa, ya?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti, kok. Ini lebih baik. Mama bersyukur karena Mama bisa merayakan ulang tahun Mama tahun ini. Kalau tahun-tahun sebelumnya...."


Hmm... aku tidak suka melihatnya sedih. "Sudah, ya. Mama tidak perlu mengingat masa lalu, oke? Yang penting sekarang ada aku di sini, ya kan, Ma?"

__ADS_1


"Ya, Sayang, ya." Dia mengusap bulir bening di sudut matanya.


Aku tersenyum, lalu meraih dan menggenggam tangannya. "Langsung potong kue, ya? Tidak usah tiup lilin, kita tidak boleh menyalakan api di sini. Berbahaya."


"Ya, Sayang."


"Ayo. Tapi berdoa dulu. Apa harapan Mama?"


"Mama...," katanya, dia mengangguk-angguk sambil tersenyum bahagia, lalu memejamkan mata. Dia berdoa.


Aku penasaran, apa harapan yang ia panjatkan kepada Tuhan? Tapi, tanpa aku bertanya, dia sudah mengatakannya sendiri kepadaku.


Hah? Cucu...? Aku terbelalak. Aamiin, sih. Tapi cucu dariku dan Bang Jack, ya. Bukan dariku dan James. Kalau dengan James, berarti itu bukanlah cucu Mama. Tapi bagaimana? Bagi Mama kami berdua adalah kakak dan adik kandung. Bagaimana mungkin kami bisa memberikan cucu untuk Mama? Ini tidak akan mudah.


"Aminkan, Sayang. Hmm?"


"Em, aamiin."


"Aamiin."

__ADS_1


"Oke. Sudah, ya. Sekarang kita potong kue."


"Ya, Sayang. Mana pisaunya? Biar Mama yang potong. Potongan pertama untuk putri kesayangan Mama."


Ya Tuhan... andai saja ini benaran ibuku. Betapa bahagia rasanya. Apalagi bisa melihatnya tersenyum bahagia seperti ini.


"Buka mulut, Sayang. 'Aaaaa...."


Aku membuka mulutku, menerima suapan itu dengan senang hati. Kemudian, aku pun mengambil potongan lain dan menyuapkannya ke Mama. Lagi-lagi matanya berkaca. Dia menangis haru.


"Jangan menangis...," kataku lirih. "Bahagianya pakai senyum aja, jangan pakai air mata, ya?"


Mama mengangguk. "Ya, Sayang. Mama boleh buka kadonya?"


"Nanti saja, ya. Kita video call dulu dengan Bang Jack, mau?"


Mama girang. Tentu saja dia mau. Dan aku pun punya alasan untuk melihat wajah yang kurindukan itu. Wajah kekasihku.


Alibi yang manis, bukan? Aku kangen sekali padanya. Dan aku bersyukur, saat ini, Tuhan memberiku sedikit cela untuk kembali merasakan kebahagiaan itu. Meski sedikit.

__ADS_1


Syukuri saja. Aku merindukanmu, Bang....


__ADS_2