Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Terpojok


__ADS_3

Bak seorang pemuda biasa, sikap manis James selalu ia tunjukkan selama kami berada di kapal. Bayangkan saja, dia mengajakku menjaring ikan di geladak bawah. Dari ikan yang kami dapatkan itu, dia memilih ikan yang paling besar dan dia memintaku untuk memasakkan lauk khusus untuknya. Bahkan, dia sendiri yang menemaniku memasak di dapur. Hanya menemani, kerjanya hanya memandangiku sambil menikmati sup buah segar buatanku. Itu pun dia juga yang minta dibuatkan sup buah itu. Aneh, bukan? Dia sok manis. Apalagi setiap kali saat jam makan, kami tidak pernah makan berdua di dalam kamar, melainkan selalu makan di luar. Dan saat itu, James lebih ekstra lagi menunjukkan kemesraannya, dia menyuapiku, juga minta disuapi olehku. Parahnya, dia sempat-sempatnya menjadikan bibirku sebagai hidangan penutup setiap kali kami selesai makan. Kasihan sekali Bang Jack mesti melihat kekasihnya dicumbui oleh pria lain sampai ia selalu terbakar oleh api cemburu. Aku bisa melihat amarah di matanya setiap kali James bersikap mesra terhadapku.


Tetapi, kau tahu, yang lebih parah lagi adalah ketika James memintaku untuk memijatnya sementara ia bersantai di kursi malas. Kata James dia merasa kurang fit karena terlalu memporsis tenaganya setiap malam, di kamar -- bersamaku yang terlelap di ranjangnya.


Terserah! Apa pun drama yang ingin dia mainkan, terserah padanya.


Hampir satu jam aku memijatnya, tiba-tiba James menawarkan diri untuk gantian memijatku. Aku menolak, tetapi dia James, perkataannya dan keinginannya tidak akan pernah bisa dibantah. Dia pun duduk di hadapanku dan memijat kakiku. Praktis, pijatannya di area betisku itu menimbulkan sensasi geli yang menggelitik.


"Ouw!"


"Kenapa?"


"Geli, My James."


"Tapi enak, kan?"


Enak kepalamu....

__ADS_1


"Nikmati saja, Sayang. Jarang-jarang ada suami yang bersedia memanjakan istrinya, ya kan? Kamu beruntung karena memiliki aku."


Iyuuuuuh... senyum riangnya menyebalkan. Tapi toh aku tidak bisa membantah. Aku mengangguk, dan memaksakan senyum. Tidak ada gunanya membantah pria itu.


Berbeda dengan senyum palsuku, James memamerkan lagi senyum bahagianya, matanya memandangku, menatapku dengan intens, tetapi... tangannya yang nakal itu menelusuri area pahaku. Memberikan pijatan lembut di pangkal pahaku.


"Sssh...," aku mendesis dengan gigi terkatup.


"Kau seksi sekali," James berbisik, lalu dengan merendahkan tubuh, ia menelusurkan bibirnya di kulit pahaku.


"My James, jangan begini. Aku malu jika ada yang melihat kita. Tolong, kita bisa bermesraan di kamar saja. Aku mohon," pintaku.


"Ya, aku tahu. Tapi kan...."


"Ssst...."


"My James...."

__ADS_1


"Mmm-hmm?"


"Jangan di sini...."


"Baiklah."


Dia tersenyum. Kukira dia akan benar-benar memenuhi permintaanku, ternyata tidak.


"My James...," aku memekik. James menggelitiki pinggangku dan...


Praktis, aku refleks tertawa. Dan persis di saat itu Bang Jack tiba di geladak atas. Tentu saja, dia menyaksikan apa yang terjadi: seolah-olah aku sedang bercanda ria bersama James.


"Abang?"


Dia membuang muka. "Maaf sudah mengganggu kebahagiaan kalian."


Ya Tuhan... kenapa malah jadi begini? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu.

__ADS_1


"Sama sekali tidak, Kakak Ipar. Kami tidak merasa terganggu. Justru bagus, bukan? Kakak Ipar bisa menyaksikan sendiri adik kesayangan Kakak Ipar sangat bahagia bersamaku. Bukan begitu, Sayang?"


Aku terpojok.


__ADS_2