
"Bisa tolong bantu aku? Jika tidak keberatan?" Bang Jack meminta.
Dan aku tertegun. Ternganga dibuatnya.
"Jika hanya kamu tidak keberatan, aku menginginkan sentuhanmu. Sesuatu yang sudah lama kurindukan. Sejak dulu."
Sesungguhnya aku masih tertegun. Seperti dirinya, aku juga menginginkan hal yang sama: saling menyentuh dengan bebas dan liar. Tapi keadaan....
"Tapi kalau kamu keberatan tidak apa-apa," ia kembali bicara karena melihat reaksiku.
Aku menggeleng. "Tidak," kataku. "Aku sama sekali tidak keberatan."
"Rose, jangan--"
"Sungguh."
"Kamu yakin?"
"Em, aku bahkan memimpikannya. Hanya saja... ini pertama kali Abang meminta, jadinya aku... sudahlah. Jangan dibahas. Biarkan aku...?"
Dia mengangguk. "Kumohon, Cinta, bertindaklah sesukamu terhadapku."
__ADS_1
Aku tersenyum riang. Dengan berani, aku bangkit dari posisiku dan mencium bibir pria itu sekilas. Lalu mendorongnya hingga ia terlentang di atas ranjang.
"Boleh kukatakan satu hal sebelum ini?"
"Em, apa itu?"
"Jangan menilai hebat atau tidaknya aku karena kamu mengira aku... berpengalaman. Tidak. Jangan pernah berpikir... maksudku... aku tidak pernah liar terhadap James. Tapi... memang dia sering memaksaku untuk...."
"Ssst...." Jemari Bang Jack menempel di bibirku. "Aku mengerti. Jangan membahas soal dia. Dan kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku percaya padamu. Cintai aku saja, itu sudah cukup. Aku mohon, cintai aku."
Well, aku kembali tersenyum. "Baiklah. Pejamkan matamu, tolong?"
Dia menurut. Matanya terpejam dan aku mulai menyentuhnya. Aku bebas melakukan apa pun kecuali satu hal itu dan aku tahu batasanku. Aku menyusurkan telapak tanganku di sekitar pinggang lalu naik ke bagian atas tubuhnya, membelitkan jemariku pada rambut-rambut halus yang menutupi perut di bawah pusarnya. Aku bisa merasakan panas tubuh pria itu dan kekuatan yang meluap dalam dirinya, dan itu membuatku nyeri oleh kerinduan yang asing dan baru.
Itu benar. Yeah, Bang Jack menikmati kegilaanku padanya.
"Ah, Rose!" Bang Jack tercekat.
Aku menyapukan lidah di atas tubuh Bang Jack dengan ringan, dan jemari pria itu mencengkeram bahuku, menekan ke dalam kulitku. Kembali, ia mengeran* lapar, tapi aku tidak ingin terburu-buru. Aku sangat ingin menyiksanya dengan kenikmatan. Sebagaimana ia telah menyiksaku. Sebagaimana ia telah memberikan kenikmatan itu untukku.
Ya, ini adalah khayalanku. Khayalan lama. Khayalan terpendam. Hasrat yang sudah lama menggebu dan ingin terlampiaskan, dan aku bermaksud bersenang-senang di dalamnya. Lagipula, aku akan jadi lebih buruk dari orang tolol mana pun seandainya aku tidak merasakan ini, tentang hubungan kami. Masih ada kemungkinan bahwa ini bisa menjadi satu-satunya kesempatan untuk menikmati dirinya, cintanya, dan untuk belajar. Dan aku bermaksud melakukan semua hal itu.
__ADS_1
Seolah ditarik oleh kekuatan yang tak bisa ditahan, jemariku pun turun ke bawah, mencapainya. Aku menyentuh dirinya yang hidup dan mendamba dengan jemariku. Dan kurasakan, hasra* pria itu, yang sudah bangkit, tegang di dalam genggamanku. Lurus, kuat, dan berdenyut. Dia milikku.
"Oh, Tuhan," ia berbisik, mendesis, lalu bangkit dan duduk, satu tangannya menyelinap turun, ke dalam rambutku, dengan lembut membuai kepalaku. "Oh Tuhan. Sayang. Kamu. Aku... aku tidak bisa... akh!"
Aku suka. Aku suka pria itu mengeran* tersiksa oleh kenikmatan saat aku menariknya dalam-dalam di kehangatan mulutku. Untuk menyeimbangkan diri, aku menyelipkan satu tangan di sekitar Bang Jack dan menangkup *okongnya yang kencang. Itu tampak benar-benar alami. Aku merasa kuat. Feminin.
Mulutku bergerak pada tubuhnya, mula-mula dengan canggung, lalu lebih yakin, saat irama belaian itu terbangun. Masih membuai belakang kepalaku, Bang Jack membiarkan tangan satunya mencengkeram bahuku, jemarinya mengencang tak beraturan di kulitku.
"Oh... Cinta, ampuni aku," dia kembali berbisik, kata-katanya tercekik. Bagian bawah pahanya mengencang, pinggulnya menyentak maju dengan mendesak.
Tiba-tiba, jemari yang sebelumnya membuai dengan lembut kepalaku, tiba-tiba mengepal di kulit kepalaku, menarik lepas jepit rambutku. "Hentikan!" dengan serak dan kasar ia mengeran*. "Oh, Rose, hentikan...! Berhenti, Rose...!"
Aku menengadah untuk melihat kepalanya tersentak ke belakang, mulutnya membuka dalam jeritan tercekat tanpa suara. Dalam satu gerakan menuntut yang cepat, Bang Jack memegangi bahuku dan membuatku seketika terbaring di bawah kungkungannya.
"Kau sungguh menyiksaku," geramnya.
Dan kemudian, aku tak pernah mengingat bagaimana persisnya, pria itu, dengan mendesak dan tanpa bicara, dia merentangkanku, mengangkat dan membuka interval kakiku, menaruhnya di atas pahanya. Matanya menyala liar. Dan, dia mengarahkan diri kepadaku hingga aku bergidik merasai sentuhannya. Dengan geraman jantan dan sedikit menekan, dia masuk ke dalamku dan bergerak turun namun tidak mendobrak, dan dalam beberapa gerakan -- dalam kelebat waktu yang cepat...
Pria itu menumpahkan dirinya yang hangat ke dalam kehangatan rahimku, lalu menempel padaku. Dan...
Oh, aku terpejam. Meski terasa samar, denyutan itu menyalurkan kenikmatan bagi diriku. Dia berdenyut indah, dan aku bisa merasakannya, lalu...
__ADS_1
Terasa hangat.
Apa ini? Dia ingin sekadar merasakan kehangatan ini denganku, atau... dia ingin memiliki anak dariku...?