Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Cinta Suci Jack Peterson


__ADS_3

"Aku tidak bisa memasak. Bahkan aku belum pernah masak sekali pun. Seingatku begitu," cerocos Jack yang berdiri di sampingku dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana pendeknya. Dia fokus memperhatikanku seolah aku ini sedang mengikuti kompetisi memasak dan dia bertugas sebagai dewan juri yang akan menilai hasil masakanku.


Aku berpaling ke arahnya seraya tersenyum. Sambil mengolah bahan masakanku, aku berkata, "Bisa dipercaya, sih. Jelas, kok, perabotan-perabotan ini belum pernah terpakai sama sekali."


"Aku bahkan baru membelinya sewaktu kita di kapal kemarin. Spesial dan khusus untukmu."


Oh... pria romantis.


"Jadi, mulai sekarang kamu akan makan masakanku, atau tetap makan di tempat bos-mu?"


Jack berpindah, dia duduk santai di atas counter dapur tanpa mengalihkan perhatiannya. "Tergantung, Sayang," ujarnya. "Kalau aku pulang, aku akan makan masakanmu. Tapi kamu tahu, kan, kalau pekerjaanku itu tidak tentu jam dan waktunya? Aku harus selalu siap kapan pun bos-ku membutuhkanku."


Aku mengangguk. Aku paham konsekuensi yang mesti kuhadapi karena menjalin asmara dengan seorang bodyguard dari... katakanlah dari kelompok mafia. "Aku paham. Tapi... berusahalah untuk sering pulang, ya. Sekarang kamu punya aku yang mesti...."


"Apa?"


"Segalanya."


"Diantaranya?"


"Emm... mesti ditemui, mesti dijaga, mesti ditemani, disayangi, dicintai, dimanja, di... apa lagi, ya? Banyak deh, dan lain-lain."


"Dilindungi... dibelai... dipeluk... dicium, dan...." Jack tersenyum nakal. "Kamu maunya diapain lagi? Hmm? Mau di...?"


Aku mendelik. "Jangan nakal...."


"Nakal? Memangnya kamu memikirkan apa?"


"Bang Jack...! Ih, dasar kamu, ya!"


"Ayolah, Sayang. Memangnya aku hendak bicara apa? Kamu mikirnya apa, coba? Katakan padaku."


Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Kufokuskan pandanganku ke ikan kakap besar yang sudah bersih dan siap diolah. Aku akan memasak ikan kakap asam manis sebagai perbandingan bahwa aku bisa memasak seenak dan selezat masakan juru masak di kapal pesiar. Aku sudah biasa memasak menu ikan asam manis di rumah pamanku, atas perintah si tuan rumah. Istrinya paman. Hanya saja, selama ini aku memasak ikan asam manis dengan ikan yang berukuran lebih kecil dan harga yang lebih murah. Paling mahal, ya, palingan ikan gurami.


"Rose?" Sekarang Jack berdiri di belakangku sambil mendekapku erat-erat. Dia bicara pelan di telinga, "Kapan kita akan menikah?"


Aku terdiam sejenak, lalu berpaling dan mengecup singkat pipi kirinya "Kapan pun," kataku. "Aku siap."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu besok."


Ya Tuhan... kucubit pipinya kuat-kuat. "Jangan jadikan pernikahan sebagai bahan bercandaan, dong," protesku. "Segala sesuatu itu kan butuh persiapan. Kamu mengajakku menikah, bukan sekadar kawin. Dan aku menginginkan pernikahan yang resmi."


"Iya, iya, maaf. Aku hanya bercanda. Aku akan menyiapkan segalanya. Pokoknya, kalau semuanya sudah siap, kamu harus bersedia di saat itu juga. Dengan gaun pengantin putih dan kekasihmu yang tampan."


Aku mengangguk. "Jadi, bisa tolong duduk santai di meja makan? Kamu memperlambat gerakku, tahu!"


"Baiklah, Istriku Sayang. Istriku yang tercinta." Dia mengecup pipiku dan beranjak ke meja makan.


Dasar bodyguard gombal. Belum apa-apa dia sudah mengakuiku sebagai istrinya. Dia membuat perutku serasa tergelitik oleh jutaan kupu-kupu.


Beberapa menit kemudian, hidanganku pun siap dan kutata rapi di atas meja. Nasi, kakap asam manis, dan salad. Untuk minumannya, hanya air putih yang dingin.


"Pasti nikmat," komentar Jack saat aku mengisi piringnya dengan makanan. Dia terlihat antusias dan mulai menyendok.


Ah, senyumnya membuatku tahu bahwa dia menyukai masakanku. "Bagaimana? Tidak kalah enak, kan, dibandingkan masakan juru masak di kapal?"


"Lebih, Sayang. Masakanmu lebih enak. Kamu istri luar biasa. Istriku yang hebat."


Eit dah... dia selalu saja membuatku tersipu. "Sudahlah. Aku tidak akan menanggapi kegombalanmu. Makan saja yang banyak sampai kamu kenyang. Jadi, kamu tidak akan memakan aku."


"Mmm-hmm...."


"Suatu saat, dengan saus asam manis."


Ckckck!


"Aku bukan makanan, Abang...."


"Tentu saja. Tapi kamu lebih nikmat."


"Abang...."


Dia hanya tertawa, lalu menikmati lagi daging ikan satu suapan penuh. "Omong-omong, ini lezat sekali. Aku benar-benar suka. Masakanmu sesuai dengan seleraku."


"Aku senang kamu menyukai masakanku." Kuulurkan tangan dan meletakkannya di atas tangan Bang Jack.

__ADS_1


Eh?


Jiaaah... sudah mulai terbiasa, ya....


Tapi jujur, aku suka memanggilnya abang. Dia dua belas tahun lebih tua dariku, dan aku merasa perlu menghormatinya.


"Rose?"


"Emm?"


"Ada hal serius yang ingin kukatakan."


"Oh, apa itu?"


Tapi, sebelum ia mengatakan perihal yang sesungguhnya, Bang Jack menyuruhku untuk ikut makan bersamanya.


Aku mengangguk dan menurut. Kuisi piringku dengan makanan dan aku mulai menyendok. "Katakan saja, Bang Jack mau bicara apa?"


"Soal pernikahan resmi," katanya.


Nyesssss!


Aku tertegun. Aku mulai berpikiran yang tidak-tidak: apa dia tidak ingin menikahiku secara resmi?


"Terus terang saja, kamu menginginkan pernikahan yang resmi, begitu juga aku. Tetapi, Rose, untuk menikah secara resmi secara negara, tentu dibutuhkan data dirimu yang asli, bukan sebagai adik kandungku. Kamu paham?"


Aku mengangguk. Tentu aku paham. "Lalu, solusinya?" tanyaku langsung ke intinya. "Aku ingin menjadi istrimu secara resmi. Tercatat oleh negara."


"Baiklah. Begini, aku punya kenalan yang bisa mengurus identitas baru untukmu. Kamu bisa menggunakan nama Rose, nama baru yang lain, atau bahkan nama aslimu. Tapi, karena kamu tidak ingin jati dirimu terungkap apalagi sampai ketahuan oleh keluargamu, kamu tidak bisa menyertakan nama asli kedua orang tuamu. Kamu bisa masuk ke dalam kartu keluargaku sebagai anak angkat dari kedua orang tuaku, dengan begitu, kita bisa menikah secara resmi, sesuai peraturan negara. Bagaimana?"


Lagi, aku mengangguk. "Aku ikut saja apa katamu. Tapi nanti, ya. Aku ingin memikirkan dulu apakah aku ingin memakai nama asliku, atau nama baru untukku."


Bang Jack tersenyum. "Baiklah. Kamu bebas menentukan. Atau mungkin, kamu mau memakai kombinasi namamu dan nama kedua orang tuamu, dan setelah kita menikah, kamu juga bisa menyandang namaku di belakang namamu, ya kan?"


Aku setengah membalas senyumannya, dan menatap dalam kedua matanya. "Aku akan segera memberitahukan keputusanku," kataku. "Tapi yang pasti, aku ingin menjadi istrimu. Aku ingin kamu menikahiku dan menjadikan aku satu-satunya cinta dalam hidupmu. Tidak ada tempat untuk wanita lain. Hanya aku."


Ia membalas tatapanku. "Pasti," katanya. "Hanya kamu. Satu cinta untuk selamanya. Tidak akan pernah ada yang lain. Hanya kamu satu tempat yang ternyaman. Dan, please, percayalah, ini bukanlah sekadar bualan atau sekadar rayuan murahan. Tapi aku bersumpah atas nama ibu dan adikku, aku menjanjikan cinta dan kesetiaan hanya untukmu. Aku bersumpah. Aku sangat mencintaimu, Rose."

__ADS_1


Kudengarkan ia mengatakannya dan aku menelan ludah dengan susah payah. Lalu, rasanya seperti segala sesuatu yang aneh di malam ini meledak di dalam jiwaku.


"Please, beri aku pelukan...."


__ADS_2