Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Psikopat Kejam


__ADS_3

"Apa? Tidak! Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa aku sudah tidak perawan? Itu mustahil! Tidak mungkin! Kamu pasti bohong!"


Ucapan James membuatku bingung dan seketika pikiranku jadi bercabang-cabang. Meski kerap kali kami hampir saja bercinta, aku dan Bang Jack tidak pernah sampai -- benar-benar -- melakukan itu. Apalagi tadi, belum sempat karena James keburu datang. Dan oknum polisi selingkuhan bibiku waktu itu, dia pun belum sempat memperkosaku.


"Tidak ada gunanya aku membohongimu, Berengsek!" teriaknya di telingaku. "Kau tidak tahu diuntung! Murahan! Begini caramu membalas cintaku? Heh?"


Oh Tuhan... dengan kekuatan setan, pria itu membalikkan tubuhku. Aku terlentang di bawah kungkungannya. Seraya menatapku dengan amarah, kini ia duduk di atas perutku dan kedua tangannya mencengkeram kuat dadaku. Kekuatannya seakan-akan membuatku terbenam di atas ranjang.


"Sakit, James...," rintihku.


"Dimulai dari sini. *ayudara ini saja sudah tidak utuh!"


"Sakit...." Cengkeramannya semakin menguat. "Tolong lepaskan aku...."


"Jangan mimpi! Ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku, kau tahu!


"Tapi aku tidak membohongimu. Sumpah... aku tidak bohong...."


"Berhenti! Sudah cukup sandiwaramu, Rose! Jelas-jelas tidak ada darah perawan di ranjang ini! Kamu mau bohong apa lagi? Jujur saja padaku!"


"Aku tidak tahu soal itu! Mau jujur bagaimana lagi? Aku ini perawan! Setahuku aku masih perawan!" raungku -- balas berteriak kepadanya.


Dan itu malah memancing emosi James jadi semakin tinggi. Dia melepaskanku, lalu turun dari ranjang. Dengan marah, dia mengambil ponselnya dari atas meja dan melakukan panggilan telepon.


"Masuk kalian semua! Temui saya di kamar!"


Apa? Dia mau apa? Tidak. Aku tidak mau. Cepat-cepat aku bangkit dari posisiku.


James melemparkan ponselnya ke sofa. "Akan kutepati janjiku padamu, Rose. Kau jalan*! Kau pantas untuk digilir!"


"Tidak. Jangan. Aku tidak mau." Seperti kilat, aku melompat dan menyembah di kakinya. "Ampuni aku. Aku mohon. Ampun, My James. Ampun...."


Dan dia tertawa. "Dasar Jalan*! Jangan berlagak sok suci di hadapanku!"


"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi tolong, jangan suruh mereka menggilirku. Tolong...."


Tok! Tok!


"Permisi, Tuan Muda."


Deg!


Aku ketar-ketir. Ketakutan. "James... please, please... tolong...."


Dia meraihku, menarikku bangkit. "Tunggu di ruang depan!" teriaknya pada penjaga di luar pintu, lalu ia tersenyum. "Kamu memohon?" tanyanya lembut. "Kamu memohon padaku? Iya, Sayang?"


"Ya. Ya. Aku memohon."


"Kamu takut? Hmm? Takut?"


"Em. Aku... aku takut sekali."

__ADS_1


"Kamu ingin kuampuni?"


Aku mengangguk.


"Kalau begitu jujur padaku." James menangkup kedua pipiku dan menatapku dengan tatapan memelas. "Jujur padaku, kenapa kamu bohong soal keperawananmu? Itu karena diambil paksa oleh seseorang, atau kamu memang seorang jalan*? Kamu memang pernah berbuat mesu* dengan seseorang? Hmm? Apa kekasihmu di masa lalu yang melakukan itu padamu? Katakan. Katakan, Sayangku."


Aku menggeleng. "Aku tidak tahu," isakku. "Dulu aku pernah hampir diperkosa oleh seorang oknum polisi. Tapi setahuku itu belum terjadi. Waktu itu aku pingsan. Dan setelah sadar aku berada di puskesmas. Tidak ada yang memberitahuku apa aku sudah diperkosa atau belum sempat. Aku... aku juga pernah jatuh ke laut. Sewaktu aku tersadar, aku sudah berada di rumah sakit. Aku tidak tahu, mungkin... mungkin... mungkin ada seseorang yang menemukanku di pantai. Mungkin, mungkin aku diperkosa sebelum ada yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit. Aku tidak tahu. Setahuku aku ini masih perawan. Sumpah, My James. Aku tidak bohong padamu. Tolong, ampuni aku."


"Kasihan. Tapi sayangnya tidak semudah itu aku akan percaya padamu, Sayangku," ia bicara pelan dengan nadanya yang khas: lembut, tapi sarat akan ancaman. "Jika kamu digilir... mungkin kamu akan benar-benar tahu bagaimana rasanya kalau kamu berani membohongiku, ya kan? Kalau kamu tidak diberi pelajaran, kamu pasti tidak akan pernah berubah. Kamu akan berbohong lagi, lagi... lagi... dan lagi. Teruuuuus... saja berbohong. Dan aku sakit kamu membohongiku seperti itu."


Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. "Tidak. Tidak akan. Aku tidak akan membohongimu. Aku janji. Aku janji padamu aku akan berubah. Aku akan menjadi istri yang baik. Ya? Aku mohon, ampuni aku. Beri aku kesempatan, please?"


"No. Kurasa itu opsi terbaik."


"Jangan...."


"Kau harus dihukum, Sayang."


"My James... ampun...."


Dia beranjak ke lemari meja rias, dan aku mengejarnya, ingin kembali bersujud di kakinya. Tapi pria itu tidak peduli. Dia malah mengambil borgol dan memborgol tanganku ke belakang.


"Ampun, My James. Ampun...."


"Diamlah!"


"Aku istrimu. Jangan perlakukan aku seperti binatang."


Dan, tawanya menggelegar. "Jadi, kamu bukan binatang? Kalau begitu aku yang binatang. Sebab itu, aku juga akan memperlakukanmu seperti binatang."


Dia menggeleng pelan. "Sialan! Aku tidak tahan melihat air matamu." Dia meraih dasinya dari atas meja, lalu menutup kedua mataku.


Ya Tuhan... bagaimana ini? Mataku tertutup dan tanganku terborgol.


"Bangun!" Dia memegangi bahuku dan menyeretku kembali ke ranjang. Tubuhku terhempas dengan posisi tertelungkup.


Detik berselang, terdengar suara pintu berderek dan James berseru memanggil anak buahnya.


"Aku tidak akan memaafkanmu kalau hal ini terjadi!" teriakku.


James mengabaikanku.


"Ya, Tuan Muda," salah satu anak buahnya bicara.


Hening, sesaat.


"Katakan, hukuman apa yang diberikan ayah saya kalau para pekerjanya tidak melayani pelanggannya dengan baik? Saya ingin menghukum seseorang."


Tidak terdengar jawaban, tapi... tapi...


Ceklek!

__ADS_1


Pintu tertutup, dan, terkunci. Lalu hening lagi. Aku semakin ketakutan.


"My James?" panggilku.


Tidak ada jawaban.


"My James, please... jangan begini. Ampuni aku." Aku berhasil turun dari ranjang dan berdiri. Tapi tiba-tiba...


Ouch!


Ada yang mendorongku dan aku kembali tertelungkup di ranjang.


"Siapa kamu? Jangan sentuh aku! Pergi...!"


Tapi orang itu malah naik ke ranjang. Dia merangkak ke atas tubuhku. Telanjan*. Aku bisa merasakan kulitnya yang menempel di kulitku. Dan, di bawah sana, sesuatu yang jantan dan hidup menempel di pahaku.


Ukh!


Biadab!


Kurasakan kedua tangan besar menyalip ke bawah tubuhku dan mencengkeram kuat dadaku.


"Jangaaaaan... jangan sentuh aku! Tolong jangaaaaan...!"


Aku diabaikan, dan, justru malah ditelentangkan. Bagian belakang tubuhku yang menindih borgol terasa sakit. Dan...


Kakiku diangkat, ditaruh di atas paha orang itu, sementara kedua tangan kokohnya kembali menangkup dadaku. Mencengkeram dengan kuat. Aku merontah-rontah sebisaku, memekik sekerasnya. Tetapi pria itu langsung menindihku -- menumpangkan keseluruhan bobot tubuhnya di atasku. Kini, kedua tangannya bergerak nakal. Mulutnya pun turut andil *enjamahku. Buas dan ganas. *iisapnya leherku kuat-kuat dan rasanya sangat sakit sekali. Aku menangis dan berteriak sejadi-jadinya, "Sakiiiiiiitttttt...!"


"Cup cup cup... Sayangku."


"My James?"


"Ya. Ini aku. James-mu."


Argh!


Ini semua akibat kecerobohanku dan Bang Jack. Di kamar ini pasti ada cctv. Kalau tidak, James mana mungkin bisa bersikap dan berbicara seperti Bang Jack.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Sayang. Kamu bahkan tidak mengenal aroma tubuhku. Kamu jahat. Istri yang sangat jahat. Apa kamu layak kuberi kesempatan?"


Pria sakit jiwa. Aku bisa mati konyol kalau begini. "Maafkan aku. Maafkan aku, My James."


"Untuk apa? Untuk memberimu kesempatan menjadi istri yang baik? Hmm? Kamu mau kuberi kesempatan? Coba berjanji."


"Ya." Aku mengangguk. "Aku janji. Aku janji aku akan berubah. Aku mohon, beri aku kesempatan. Aku berjanji, aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu."


"Emm... bagaimana, ya? Begini saja. Untuk sementara, aku tidak akan menemuimu dulu. Aku akan mempertimbangkan segalanya. Tentang perasaanku, tentang rasa sakit hatiku, dan tentang cintaku padamu. Kita lihat saja nanti, apakah aku akan bisa memaafkanmu, mentolerir semua kesalahan-kesalahanmu, dan... mencoba membenahi mahligai cinta yang sudah koyak ini, menjalani biduk rumah tangga kita tanpa mengingat-ingat masa lalu. Atau... aku akan menjualmu pada Papa."


Apa?


"Kita lihat nanti."

__ADS_1


James hendak beranjak dariku, namun aku kembali memohon kepadanya.


"Sudah kubilang kita lihat saja nanti. Oke? Kamu baik-baik di sini. Intropeksi diri. Renungkan semua kesalahanmu. Pengkhianatanmu. Dan, jadilah wanita yang pandai bersyukur. Apa perlu kuingatkan, kalau bukan karena aku, kamu sudah menjadi pelacur di gang kumuh itu. Kamu ingat, kan? Maka bersyukurlah, Sayang. Dan, please, intropeksi diri. Oke?" Dia beranjak. "Baik-baik di sini. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengurusmu."


__ADS_2