Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Rasa Yang Manis


__ADS_3

Refleks, tanganku mengejang saat Bang Jack menekankan pipiku ke dadanya saat ia memelukku erat. "Tidak ada yang salah, Sayang. Tidak ada," ia bergumam ke dalam rambutku. "Kamu harus mengerti, tidak ada yang salah tentang ini, tidak jika kita berdua menginginkannya atas nama cinta."


"Apa kamu menginginkan...nya?" tanyaku ragu-ragu. "Apa kamu... menginginkanku? Aku berharap... ya. Sebagaimana aku menginginkanmu."


Dia tertawa ironis. "Tentu saja aku menginginkanmu." Dia menutupi tubuhku dengan tubuhnya, dan menciumku kembali. Tubuhnya terasa keras dan berdenyut saat aku menyentuhnya.


"Kalau memang ingin, kenapa...?"


Sekarang dia menatapku, menggeleng pelan. "Jangan menuruti egomu. Nafsu. Kamu melupakan tentang James di bagian ini."


Keningku mengerut. Namun aku tahu apa yang ia katakan itu benar. Tapi aku tidak suka pembahasan ini.


"Satu pertanyaannya, Rose. Kenapa dia membiarkanmu tetap perawan tapi dia menipumu dengan mengatakan kalau kamu sudah tidak perawan? Dia memiliki rencananya sendiri kalau kamu menyadari hal itu."


Aku mengangguk. Aku memahami apa yang Bang Jack katakan. "Berarti dia sengaja mengirimku ke sini, dia ingin mengujiku. Kalau nanti dia memeriksaku dan ternyata aku sudah tidak perawan...?"


"Dia akan menyiksamu."


"Bukan, tapi kamu. Dia ingin menyiksamu."


"Maksudmu?"


"Pria itu ingin menyiksamu melalui aku. Aku bisa melihat kebenciannya padamu."


Kali ini kening Bang Jack yang mengerut. "Kenapa?"


Aku mengeleng. "Tidak tahu. Aku tidak mengerti. Mungkin karena profesimu, pekerjaanmu pada Tuan Johnson, atau... mungkin tentang masa lalu. Aku tidak bisa menebaknya," dustaku. Aku belum bisa mengatakan dugaanku yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kita harus mencari tahu."


"Apa masih sulit untuk pergi?"


"Sulit. Aku bukan hanya harus membawamu, tapi juga Mama yang sekarang ada di bawah pengawasannya. Kalau aku membawa Mama keluar dari sana, informasi itu akan langsung sampai kepada James pada detik itu juga, bahkan sebelum aku selesai mengurusi administrasinya. Itu sama saja aku memancing untuk perang terbuka."


Aku menghela napas dalam-dalam. Merasa putus asa. "Lalu, kapan? Bagaimana Abang bisa menyingkirkannya? Dia licin. Dia bahkan bisa meninggalkan pesta kemarin sebelum...."


"Entahlah. Kita akan pikirkan hal itu lagi nanti. Sekarang...."


Aku menariknya yang hendak beringsut dari atasku hingga ia tertelungkup dan menindihku dengan keseluruhan bobotnya. Aku tertawa, dia pun tertawa.


"Dasar nakal!"


Masa bodoh. Aku terkekeh senang. Ini kesempatan yang langkah bagiku untuk merasakan kebahagiaan. "Mumpung kita masih punya waktu untuk bersama," ujarku. Senyumku mengembang tak tertahan.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Selain yang itu."


"Ya. Aku tahu."


"Tapi kamu ingin merasakannya. Hmm?"


"Em, seandainya bisa. Aku--"


"Ssst...," desisnya.

__ADS_1


"Tapi aku penasaran. Aku...."


"Baiklah. Nikmati ini."


Aku tertegun. Bang Jack mencondongkan tubuh ke depan, merentangkan tubuhnya dan menyelinap masuk ke dalam kehangatanku seinci saja.


"Seperti itu," bisiknya, berupaya menjaga pengendalian dirinya.


Aku bergidik merasakan sensasi baru itu, sensasi tubuh Bang Jack yang berat dan panas membakar dan merentangkan tubuhku. Ini terasa menyenangkan. Sempurna. Nyaris sempurna. Seakan aku telah menanti seumur hidupku. Secara naluriah, sulit kukendalikan, tubuhku mendesak ke arah pria itu.


"Ouch...! Abang... aku...."


Dia menyelinap lebih dalam, menggesek kuat bagian manis yang telah mulutnya temukan, dan saat itu juga aku mengerti. Aku menggapai ke arahnya, berusaha menariknya mendekat. Menginginkannya untuk masuk lebih dalam. Lebih dalam kepadaku.


Tapi ia bertahan. Perlahan, ia menarik diri, dan aku menjerit, "Please... aku mohon...," pintaku.


Pria itu tersenyum, namun juga terluka, tersiksa oleh rasa manis. Dengan tangan memposisikan gairahnya, ia mendorong masuk kembali, menyelinap lebih dalam kali ini. Lagi, dan lagi, tubuh dengan tubuh, sedikit demi sedikit. Asing. Dan menakjubakan. Kenikmatan yang membuatku ingin terus merasakannya.


Namun itu tidak cukup, aku masih menginginkan sesuatu yang lebih. Kepala Bang Jack tertunduk, matanya terpusat ke bawah, pada penyatuan itu, dan dia mulai bergidik, ototnya mengencang.


"Please," aku mendesa*, menggapainya kembali.


"Belum, Sayang," bisik Bang Jack. Suaranya tegang.


"Ya," aku memohon. "Tolong? Sekarang. Seluruhnya."


"Tidak!" geramnya. "Belum saatnya. Aku tidak ingin mempertaruhkan hidupmu."

__ADS_1


Argh! Melesak! Rasa ini sungguh menyiksaku.


Aku, tersiksa oleh rasa yang manis.


__ADS_2