
Seperti dua minggu yang lalu, Mama begitu senang ketika ia bertemu denganku. Senyum cerianya mengembang dengan sempurna, dan dengan bahagianya, ia tak henti-hentinya mencium dan memelukku. Mulutnya pun tak hentinya berceloteh. Katanya, dia bahagia atas penikahanku dan James. Dia bersyukur bahwa kini ada seorang suami yang akan selalu menjaga dan melindungiku. Dan, sama seperti dugaan James, Mama juga sangat berharap -- anak perempuan yang ia kira putrinya ini -- agar segera hamil dan memberinya banyak cucu.
"Kamu tahu, seperti kehidupan Mama dan Papa dulu, kehidupan pernikahan kami terasa sempurna sejak kamu terlahir ke dunia ini. Begitu juga nanti dengan kehidupan pernikahan kalian. Kalau kalian sudah memiliki anak, pernikahan kalian akan terasa lebih sempurna. Mungkin, di saat itulah kamu akan bisa menerima pernikahanmu dengan sepenuh hati. Dengarkan Mama, Sayang, seringkali dalam suatu pernikahan, kehadiran seorang anak bisa merubah segalanya. Mungkin saja, di saat kamu hamil nanti, cinta itu akan tumbuh di hatimu. Kamu akan menerima dan mencintai James setulus hatimu, setulus dan sebesar dia mencintaimu."
Ya ampun, pria ini benar-benar sudah bicara terlalu banyak pada Mama.
"Rose?"
"Emm?"
"Kamu mau mendengarkan kata-kata Mama, kan, Nak?"
"I--iya, Ma. Iya." Aku mengangguk. Air mataku menetes dalam dilema. Mama tidak tahu, Mama tidak mengerti semua ini. Tapi tetap, tidak bisa kupungkiri, aku bahagia ada seorang ibu yang peduli padaku dan memberikan nasihat baik padaku. "Terima kasih karena Mama sudah menasihatiku."
"Iya, Nak. Sudah seharusnya." Dia memelukku, kemudian terisak. "Kamu pernah direnggut dari Mama. Mama melewatkan banyak waktu tanpamu. Mama tidak bisa menyaksikan masa remajamu. Tapi tidak apa-apa, Mama akan bahagia menyaksikan masa remaja itu pada kehidupan cucu Mama. Mama janji, demi kamu, Mama akan berjuang untuk sembuh. Mama akan sehat, dan Mama akan pulang untukmu."
Oh, Ma... aku bahagia kalau kehadiranku menjadi semangat untukmu. Tapi kenapa jalan cerita hidupku malah jadi seperti ini?
Lelah, kuhela napas dalam-dalam dan berusaha tersenyum. Yeah, sisa waktu yang kulewati di rumah sakit membuatku semakin dilema. James berhasil mengambil hati Mama dan mereka terus mengobrol tentang angan-angan indah mereka di masa depan. Aku jadi berpikir: apa jangan-jangan James juga ingin mengambil Mama dari Bang Jack?
Sudahlah, Rose. Jangan terlalu banyak berpikir.
Setelah sekian menit berlalu, sudah waktunya kami meninggalkan rumah sakit. Kali ini Mama membiarkanku pergi tanpa tangisan. Dia justru terlihat sangat bahagia dan berpesan pada James untuk sering mengajak putrinya ini mengunjungi dirinya. James pun berjanji padanya, ketika dia punya waktu luang dan tidak sibuk dengan pekerjaannya, maka dia berjanji dia akan mengajakku untuk mengunjunginya. Mama bahagia dan sangat berterimakasih pada James.
Selama perjalanan pulang, aku hanya bisa memikirkan sikap manis James pada Mama. Dia bersungguh-sungguh, atau hanya berpura-pura? Jika semua yang ia perlihatkan tadi berupa kepalsuan, apa dia juga menjadikan Mama sebagai wayang dalam permainannya?
Telepon James berdering ketika kami hampir sampai ke rumah, dan ia mengangkatnya. Ia berbicara sebentar, lalu menutup telepon. "Kita tidak jadi pulang, ada sesuatu yang terlupa," katanya kepadaku. "Kita mesti ke rumah sakit."
"Ke rumah sakit?" tanyaku heran. Aku jadi ketakutan. "Memangnya untuk apa kita ke rumah sakit?"
__ADS_1
James tersenyum lebar ke arahku, lalu ia menyuruh pak supir untuk melajukan mobil ke rumah sakit. Dia tidak menjawab pertanyaanku sedikit pun.
Setibanya di rumah sakit, asisten pribadi James sudah tiba di sana lebih dulu. Dia menyambut kami, membukakan pintu, dan saat kami keluar dari mobil ia berkata bahwa dokter sudah menunggu. "Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini."
"Apa? Dokter... dokter kandungan?"
"Kenapa, Sayang?" James bertanya lembut, tapi tatapan matanya membuatku takut.
"U--untuk... untuk apa... untuk apa kita bertemu dengan dokter kandungan?" tanyaku gugup. "Memangnya siapa yang sedang hamil?"
Lagi-lagi James tersenyum lebar kepadaku. Dia meraih tanganku dan menggandengku masuk. "Tidak ada yang hamil, Sayang. Emm... maksudku belum."
"Lal--lalu?"
"Apanya?"
"Program hamil."
"Program hamil?" Mataku terpentang membuka.
James kembali melayangkan tatapan dalam kepadaku. Ia menghentikan langkah kakinya dan berdiri tegap menghadapku. "Kita sudah membahasnya," katanya seraya memegangi kedua bahuku. "Aku menginginkan anak darimu. Mamamu, juga Papa, mereka menginginkan cucu dari kita. Dan kamu sendiri pun juga sudah menyetujuinya. Ya kan, Rose?"
Setuju? Kapan aku setuju? Dasar pria sakit jiwa! Aku tidak mau hamil darimu, James. Aku tidak mau....
"Rose?"
"Aku...."
"Aku menginginkan anak darimu."
__ADS_1
"Ak--aku...."
"Aku ingin kita cek kesuburan dan ikut program hamil. Tapi jangan khawatir, aku bukan berniat untuk mengikuti program bayi tabung. Aku hanya ingin dokter membantu kita perihal kesuburan supaya kamu bisa cepat hamil. Kamu mau, ya? Aku mohon, lakukan ini demi pernikahan kita, demi aku, juga demi ibumu. Ya? James memohon padamu?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. Aku pasrah, Tuhan. Silakan kalian semua tentukan takdirku. Genggamlah takdirku di tangan kalian. Aku ikuti apa yang Kau, juga James gariskan untukku.
"Terima kasih." Dia kembali tersenyum lebar. "Ayo."
Kakiku kembali melangkah. Dan, sekuat hati aku berusaha menahan tangisku. Kuikuti semua rangkaian pemeriksaan yang mesti kujalani, begitu juga James, dia pun memeriksakan kesehatan dan kesuburannya.
"Sesuai yang sudah dijelaskan oleh asisten saya, ya, Dok," James berkata pada dokter ahli kandungan itu. Seorang dokter wanita parubaya yang menangani kami.
Dokter itu hanya mengangguk paham dan melakukan tugasnya tanpa banyak bicara sehingga aku tidak mengerti apa pun. Yang kutahu, aku dan James dalam keadaan subur, dan, dokter menjelaskan kepada kami tentang apa-apa saja yang mesti kami lakukan, apa-apa saja yang mesti kami konsumsi, dan, juga apa-apa saja yang mesti kami hindari: seperti zat-zat nikotin dan kafein. Proses program hamil ini juga disertai dengan obat-obat kimia yang mesti disuntikkan ke dalam tubuhku, dokter pun menjelaskan kepadaku efek samping yang akan dirasakan oleh tubuhku setelah obat-obatan itu masuk ke dalam tubuhku. Kemudian, dokter itu memberikan contoh kepada kami: bagaimana dan di mana obat itu mesti dimasukkan ke dalam tubuhku, plus, seberapa banyak dosis per satu kali suntikan. Saat itu, dengan jarum suntik yang sangat kecil, aku pun menerima obat pertamaku.
Terserahlah. Aku tidak ingin ambil pusing tentang apa pun. Terserah kalian.
Setelah semua proses program hamil yang kulalui di rumah sakit itu, aku hanya bisa menunduk lesu tanpa komentar apa pun. Aku hanya bersyukur bisa cepat meninggalkan rumah sakit setelah semuanya usai.
"Rose," James kembali bicara sekembalinya kami ke parkiran. Aku hanya menatap kepadanya tanpa bicara. "Emm... aku mesti pergi. Ada pekerjaan penting yang mesti kulakukan. Tapi aku tidak bisa mengajakmu ikut bersamaku. Dan... aku juga tidak ingin kamu pulang ke paviliun. Aku tidak ingin Papa rewel kalau dia melihatku meninggalkanmu lagi. Jadi...."
Alisku bertaut. "Ada apa? Katakan saja."
"Aku ingin kamu pulang dulu ke apartemenmu."
Apa? Apa aku tidak salah dengar?
"Apa kamu keberatan? Aku tidak lama. Maksudku... aku perginya tidak akan telalu lama. Kuusahakan, aku akan kembali secepat mungkin. Ya? Aku akan menjemputmu lagi nanti malam. Tidak apa-apa, kan?"
Aku mengangguk. "Ya. Baiklah," kataku. Meski hati kecilku merasa bahwa James sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1