
"Ya ampun, kenapa? Wajahmu pucat? Insecure? Iya?"
Sialan! Pria itu terkekeh-kekeh. Puas sekali dia membuatku ketar-ketir ketakutan.
Selepas ia berhasil meredam tawanya, James mengambil segelas air putih dan menyorongkan pil-pil itu ke depan mulutku. "Jangan khawatir, Sayangku. Minumlah."
Aku menggeleng.
"Ayo, minum," katanya lembut.
"Tidak mau," tolakku.
"Please, turuti perintah suami. Oke?"
"Tapi aku takut."
"Tenang saja. Kamu tidak perlu takut. Ini hanya obat tidur. Supaya kamu terlelap dalam tidurmu yang nyaman." Lalu ia berbisik di telinga, "Demi Tuhan, Cinta, percayalah, ini bukan pil perangsan*. Kecuali... jika kamu menginginkannya, maka akan kuberikan khusus untukmu. Kamu mau?"
Ketakutan. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. "Ti-tidak, My James. Jangan sekarang. Tolong?"
"Baiklah, kalau begitu minumlah. Ayo."
"Em." Aku mengangguk. Menurut. Kuambil semua pil yang ada di tangan James dan menelannya dalam satu tenggakan. Aku pasrah.
"Bagus. Istriku yang cantik dan penurut." Dia kembali tersenyum lalu meraih tanganku. "Sini, Sayang," ajaknya.
Ya Tuhan, apa-apaan ini? James duduk di sofa -- di tempat aku dan Bang Jack tadi duduk berduaan. Dia membuatku gemetar dan nyaris saja menjatuhkan gelas di tanganku. Untung saja James mengambil alih gelas itu dari tanganku lalu menaruhnya ke atas meja.
"Aku senang, kamu menghabiskan sarapanmu," ujarnya seraya menatap piring sandwich yang sudah kosong dan sekarang berisi kulit apel yang tadi dikupas oleh Bang Jack. Lalu ia mengambil buah anggur dan menyuapkannya kepadaku. "Rose, haruskah kamu masih sekaku ini? Bukankah aku sudah memintamu untuk memelukku tanpa aku harus memintanya lebih dulu? Iya, kan? Kenapa kamu tidak melingkarkan tanganmu di pinggangku?"
Ya Tuhan, aku sangat takut. Apa jangan-jangan dia tahu apa yang tadi kulakukan bersama Bang Jack? Apa di kamar ini ada cctv?
Cemas. Kucoba mengedarkan pandang, menyapu seisi ruangan, sambil bertanya-tanya: apa benar ada cctv di dalam kamar ini?
"Kamu mencari apa?"
"Tidak. Tidak ada, maksudku... aku tidak mencari apa pun."
"Lalu? Apa kamu tadi mendengarku? Atau aku sedang bicara dengan patung?"
Dia bicara apa? Apa maksudnya? Aku menggeleng. "Aku... aku tidak mengerti maksudmu."
"Oh, ayolah, Sayangku. Haruskah aku mengiba? Peluk aku, please...? Lingkarkan tanganmu di pinggangku, ya?"
Tenang, Rose. Tenanglah. Bersikaplah sesantai mungkin. Aku pun menurut. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya, begitu pula James, dia menyalungkan tangan kanannya di pundakku. "Terima kasih, Sayang. Dan kalau bisa, godalah aku."
"Apa?"
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Ti--tidak."
"Tentu saja tidak ada. Tidak salah kalau seorang kekasih menggoda kekasihnya. Misalnya dengan bicara manis, atau dengan memberikan ciuman, atau... sori, kuralat, maksudku misalnya kamu menyambar bibirku lebih dulu, kemudian kita berciuman dengan mesra. Atau... sedalam dan seliar mungkin. Dengan beringas... dengan ganas. Hmm? Bagaimana? Itu sama sekali tidak salah. Sebab, kamu harus belajar untuk menyenangkan suamimu ini."
Sepertinya James memang tahu semuanya. Lalu aku harus apa sekarang?
"Rose?"
"Emm?"
"Kamu suka sekali melamun. Kamu sibuk dengan pikiranmu sendiri. Kamu mengabaikanku. Kamu membuatku sedih," gerutunya dengan nada sedih yang dibuat-buat.
__ADS_1
Tentu saja aku tidak bisa fokus. Aku ketakutan. Ini soal nyawa. Aku bisa mati di tangan James. Dia sepertinya tahu benar apa yang tadi terjadi di antara aku dan Bang Jack.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud--"
"Ssst...."
"Lupakan. Yang penting, fokus pada kemesraan kita saat ini. Bisa, kan, Sayang?"
"Em. Baiklah." Aku mengangguk seraya berdoa di dalam hati, semoga James tidak berbuat nekat kepadaku.
"Omong-omong soal yang tadi, aku ingin memberitahumu, aku tidak suka momen pertama gadis perawan dengan obat perangsan*. Aku ingin pada momen pertamamu nanti, kamu harus dalam keadaan sadar sepenuhnya. Tanpa dorongan obat-obat kimiawi. Karena apa? Karena aku ingin wanitaku memiliki hasrat yang murni pada momen pertamanya. Keliaran yang alami."
Aku hanya mengangguk. Tidak tahu bagaimana mesti merespons ucapannya. Apa yang mesti kukatakan tentang obrolan ranah dewasa ini?
"Oh ya, aku sampai lupa, harusnya hari ini kita menemui ibumu, ya. Tapi lain kali saja. Tunggu kondisimu benar-benar sehat. Tidak apa-apa, kan? Lagipula aku yakin, Mama akan merestui pernikahan kita, ya kan? Aamiin."
Tidak. Aku tidak mau mengaminkan doamu.
"Sayang?"
"Emm?"
"Bilang aamiin."
"Ya. Aamiin. Mudah-mudahan Mama bisa menerima kenyataan putrinya menikah muda."
"Aamiin. Dan itu harus. Toh, kita sudah menikah. Nah, sekarang," --James menarik pinggangku dan memindahkanku ke atas pangkuannya-- "duduk di pangkuanku. Menghadapku, bukan menyamping."
Menurut saja, Rose. Menurut tanpa protes. Mungkin saja dia memang sudah tahu. Tapi berpura-puralah kalau kau tidak menyadarinya.
"Papa memberikan kita tiket bulan madu keluar negeri," kata James tiba-tiba. "Tapi tempatnya masih harus kurahasiakan. Biar nanti, itu menjadi kejutan menyenangkan untukmu. Yang pasti, kita akan berlayar dengan kapal pesiar kita. Nanti akan berlabuh di mana, kamu pasti akan suka."
"Sayang, kamu suka, kan? Kamu mau pergi bulan madu denganku? Mau, kan?"
Terpaksa, aku berbohong. "Ya, aku mau."
"Kamu senang?"
"Em, senang. Aku... aku senang."
"Tapi kelihatannya kamu tidak suka. Kamu tidak antusias."
"Bukan. Bukan begitu. Aku... aku hanya terkejut. Aku kaget."
"Syukurlah kalau memang begitu. Tapi benar, ya, sebenarnya kamu senang? Hmm?"
"I--iya, aku senang. Aku sangat senang. Beritahu saja kapan kita akan berangkat, aku akan menyiapkan pakaian kita."
James semringah. "Waktu dan tempatnya masih rahasia, Sayang. Kamu tidak perlu tahu. Tapi sekarang...."
"Auw!"
Kaget. Aku sampai terpekik karena James tahu-tahu membalikkan posisi. Seperti yang dilakukan oleh Bang Jack tadi, sekarang aku yang terduduk di sofa sementara James berdiri seraya agak membungkuk di hadapanku. Dan persis juga seperti yang dilakukan oleh Bang Jack tadi, tanpa terduga, ia menarik lepas dress yang kukenakan, lalu melemparkannya ke lantai.
Ya ampun, aku ketakutan. Aku takut pria di depanku ini juga akan menyentak turun bra-ku seperti yang dilakukan oleh Bang Jack tadi.
"Boleh?" tanyanya. Ia berdiri tegap dengan bertopang lutut di hadapanku, persis di depan dadaku. Persis seperti Bang Jack tadi. "Hanya jika kamu mengizinkan."
Aku menggeleng. Menolaknya.
"Salahku," sesalnya. "Tidak seharusnya aku meminta izin hingga kamu bisa menolakku. Aku tidak suka ditolak, Rose."
__ADS_1
Derai air mata takut kini menetes lagi dari mataku.
"Kamu ingin mengizinkanku baik-baik, atau aku harus memaksa? Katakan," suara lirih khas James terdengar lagi.
Tidak mau. Aku ingin mempertahankan keperawananku untuk Bang Jack. Aku menggeleng dengan air mata berurai. Aku ingin bangkit, ingin melawan. Tetapi...
"Auw...." Kepalaku sakit, terasa sangat berat. Obat tidur itu pasti sudah bereaksi. Bagaimana ini? Apakah dia akan menyentuhku saat aku tertidur?
Pria itu tersenyum. "Bagus. Tidurlah yang lelap, daripada kamu terus menolakku, ya kan? Tidurlah, Sayangku."
"Tidak. Please... jangan...," aku merengek seraya menahan sakit di kepala. Tanganku berusaha memijat pelipis.
Tapi pria sakit jiwa itu tetap melancarkan aksinya. Dia menggila. Dalam kelebat cepat, tahu-tahu ia membuat punggungku bersandar di sofa sementara ia melahap dadaku dengan liarnya.
"Sakiiiiiit...," rintihku.
Tapi apa dayaku? Pengaruh obat tidur itu membuatku tak berdaya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan. Selain sakit di kepala, aku mesti menahan sakit di dada: secara fisik maupun batin. Pria itu mengisa* kuat bagian atas dadaku, sekalipun bukan puncaknya, tapi seluruh permukaan yang terbuka itu telah ia merahi semua.
"Kamu jahat...," sengalku dengan sisa-sisa kekuatan yang kupunya.
Malangnya, seperti biasa, James tidak peduli. Dia terus menggilaiku yang sudah tak berdaya.
"Tidak cukup. Ini tidak cukup," ia menggeram lalu menggendongku dan membawaku ke ranjang.
Ini persis -- sama persis dengan adegan yang dilakukan oleh Bang Jack tadi. Namun bedanya, Bang Jack memperlakukanku dengan sangat lembut, sementara James menghempaskan tubuhku dengan kasar, lalu menarik kakiku dan menyeretku ke tepi ranjang.
Sekarang, aku -- terbaring di ujung ranjang. Kedua kakiku terlipat ke atas, dan ada James di antara keduanya: menahan pahaku dengan solid dengan kedua tangannya.
Jameeeeeessssss... kau jahat! Kau jahat padaku.
Di permukaan kain tipis itu, James -- dengan mulutnya -- berbuat nakal kepadaku, dan aku hanya bisa menangis.
Sakiiiiit... ini sakit, Jameeeeees....
"Aku tidak tahan, Rose. Aku menginginkanmu seutuhnya." Dengan rasa geramnya, James bangkit lalu merangkak naik ke atasku, bersilang kaki.
Srettt...! Ritsletingnya terbuka, kemudian celananya pun turun, berikut dalaman yang membungkus dirinya. Juga kausnya.
Dan -- terpampang. Sekarang aku melihatnya lagi -- yang mengancamku. "Aku tidak akan menunggumu mengatakan ya. Tidak akan."
"Jangan... tolong jangan...."
Tapi dia sudah terarah. Tepat di tengahku. Aku bisa merasakannya yang kini sudah menyentuh permukaan kulitku. Dengan menggeser sedikit kain segitiga mini yang menutupi inti diriku, James siap menunjukkan kejantanannya. Dia sudah masuk sedikit.
"Atas nama cinta, Rose. Terimalah aku."
"Jangan...!"
"Nikmati momen ini, Sayang."
"Jahat...."
"Tapi penjahat ini cinta padamu. Kamu milikku."
Ukh!
"Ti... ti...," suaraku melemah. Kumohon jangan....
Pria itu tersenyum. Sempat aku merasakan ia menekankan dirinya sekali lagi sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaranku.
Aku terlelap.
__ADS_1