Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Derita Batin


__ADS_3

Kalut. Tak bisa kupungkiri, itu yang tengah kurasakan saat ini setelah mengetahui profesi Bang Jack yang sebenarnya. Namun, sebisaku, aku berusaha menenangkan diriku sendiri dan berusaha untuk berpikir positif. Aku tahu, dan aku yakin betul bahwa Bang Jack tidak bermaksud menipuku. Dia hanya tidak jujur, sebagaimana ia merahasiakan identitasnya dari semua orang, begitu juga di hadapanku, dia pun merahasiakannya, dan dia pasti punya alasannya sendiri kenapa ia juga merahasiakan hal itu dariku. Mungkin memang sebaiknya aku tidak perlu tahu, kan? Terlepas aku membenci seorang polisi ataupun tidak, memang sebaiknya orang luar -- satu pun -- tidak ada yang perlu tahu identitas asli Bang Jack, siapa pun, kecuali pihak-pihak terkait dalam keanggotaan polisi itu sendiri.


Di sini, aku baru mengerti bahwa waktu itu saat Bang Jack keceplosan bahwa dia adalah seorang polisi, itu ternyata benar, tapi ia berhasil meyakinkanku dengan alibinya bahwa ayahnya yang merupakan seorang polisi.


Oh, atau memang keduanya sama-sama polisi? Bang Jack mengikuti jejak ayahnya? Bisa jadi. Tapi kamu membuatku merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku sudah mencintaimu sedalam ini, bahkan kita sudah hampir menjadi satu dalam cinta, tapi aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya? Sungguh aku merasa bodoh.


Aku larut dengan pemikiranku sendiri hingga aku tidak menyadari James memanggilku dari luar, di depan pintu apartemen. Kalau saja getaran dan dering ponselku di atas nakas tidak mengejutkanku, aku tidak akan tahu kalau James ternyata sudah sampai di apartemen.


"Kamu sedang apa? Aku di depan pintu apartemen. Buka pintunya," cerocosnya saat aku mengangkat teleponnya. Suaranya agak keras dan ketus, dia pasti merasa sangat kesal padaku.


Aku harus bilang apa untuk meredam emosinya? Aku bisa celaka karena sudah membuatnya kesal. "Se--sebentar, My James. Aku tadi sedang di kamar mandi."


"Cepat buka pintunya."


"I--iya. Tunggu. Tunggu sebentar."


"Cepatlah."


Ih, cerewet sekali. Tanpa berpikir panjang lagi, kumasukkan kembali segala sesuatu yang tadi kukeluarkan dari amplop cokelat itu dan menaruhnya kembali ke dalam kardus, lalu kumasukkan kembali semua barang lainnya, mengubur kembali amplop cokelat itu ke dasar kotak kardus dan meletakkan kembali semua itu ke atas lemari. Setelah itu, kuambil ponselku dan aku berlari ke pintu.


Ceklek!


Wajah kesal James muncul di hadapanku. Dia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.


"Ma--maaf, maafkan aku, My James. Ak--ak--ak--aku... aku... aku dari kamar mandi. Tolong, tolong jangan marah padaku. Tolong, maafkanlah aku. Aku mohon?"


Pria itu tersenyum. Dia meneliti tubuhku dari atas ke bawah lalu berdiri rapat di hadapanku. "Kenapa kamu sebegitu takut berhadapan denganku? Hmm? Seperti orang yang sedang melakukan kesalahan?"


"Tidak, tidak, My James. Bukan begitu."


"Lalu?"


"Aku... aku hanya khawa--"


Sialan! Mulutku terbungkam. Pria sakit jiwa itu menyambar bibirku. Dicengkeramnya helaian rambut di belakang kepalaku, aku mendongak, dan dia menciumku dengan kasar. Seolah, dia ingin menghabiskan bibirku dengan rakus.


"Aku rindu padamu, Sayang," James berbisik, lalu... lalu...


Srettt...!


James membuka ritsleting jaket yang kupakai, lalu menanggalkannya dari tubuhku.


"My James--"


Ia kembali menyambar bibirku sebelum aku sempat menghalanginya, dan akhirnya handukku pun tanggal dan jatuh ke lantai.


Tidaaaaak... hatiku menjerit, namun tidak dengan mulutku. Tidak seperti air mata, ketika ia menetes dari mataku, hatiku pun turut menangis karena sakit dan sesak.


"Lepaaasssss...!" akhirnya aku berteriak dan mendorongnya. Aku nyaris saja lepas kendali. Aku tidak ingin menyakiti hati Bang Jack jika ia melihat rekaman cctv, itu satu-satunya kekuatan yang berhasil mendorongku untuk melawan.


James menggeleng, ia nampak marah sekarang. "Kenapa, Rose? Apa aku menyakitimu?"

__ADS_1


Aku terdiam. Aku tidak punya alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan James. Tepatnya, tidak bisa mengatakan alasanku yang sebenarnya. Jadi, aku hanya bisa menggeleng.


"Melunaklah, Rose, maka aku tidak akan marah. Tolong? Tolong, melunaklah padaku."


Tapi aku tetap diam, tetap menangis di hadapannya. Akhirnya James menarikku lagi ke dalam dekapannya. Kemudian, dengan tangan kirinya, ia menarik kembali rambut di belakang kepalaku dengan kasar, wajahku kembali mendongak dan ia mencengkeram rahangku dengan tangan kanannya.


"Melunak kataku! Bisa?" nadanya naik satu oktaf dan matanya menatapku tajam.


Tidak punya pilihan, aku terpaksa mengangguk sebab pria itu nampaknya kembali kumat. "Maafkan aku," kataku akhirnya.


James menghela napas dalam-dalam. Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari rambut dan rahangku. "Baiklah," suaranya kembali melembut, dan tangannya sekarang merangkul pinggangku. "Aku memaafkanmu," katanya. "Maafkan aku juga, aku tidak bermaksud kasar padamu. Maaf?"


"Ya, My James, ya."


Dia mencium keningku. "Aku sayang padamu. Tolong, lain kali, kamu jangan pernah lagi memancing amarahku. Aku tidak ingin menyakitimu, Rose. Tidak secara fisik, tidak juga secara hati. Kecuali...."


"Eummmmm...."


Aku menangis. Sakit sekali rasanya, James menggigit dan mengisa* tengkuk leherku lagi. Begitu kuat. Tega sekali dia.


"Aku sukanya yang seperti ini. Sakit, namun memberikan kenikmatan, ya kan, Sayang?"


Nikmat kepalamu! Ini sangat sakit, tahu! Kamu itu berengsek....


Hardikanku selesai, tapi rasa sakitku belum hilang, namun James sudah menanggalkan jasnya, dan melemparkan jas itu ke sofa.


"Tolong bukakan kancing-kancingku. Aku gerah."


"Tapi, My James, bukankah sebaiknya kita langsung pulang saja? Hari sudah malam."


Dia menggeleng. "Aku ingin menuntaskan rasa kangenku dulu padamu."


"Tapi--"


"Tapi apa?" Dia mencengkeram dadaku.


"Jangan, My James. Di sini ada cctv."


"Tenang saja, aku akan minta Jack menghapusnya."


Argh! Menyebalkan sekali! Dasar pria sakit jiwa!


"Tunggu apa lagi? Buka kancing kemejaku."


"Ba--baik. Baiklah. Baikhlah, My James."


"Cepatlah, Sayang. Aku sudah sangat tidak sabar."


Tuhan, kalau boleh aku meminta, cabut nyawa pria ini sekarang juga. Rusak saja jantungnya hingga berhenti memompa.


Tetapi doaku tidak terkabul. Yang ada, semua kancing kemeja James sudah terbuka, semuanya tanpa terkecuali. Kemejanya sudah tertanggal, dan sekarang ia membuka ikat pinggangnya, lalu ia melepaskan sepatunya dengan bantuan tumit. Dia tidak menunduk, bahkan tangan kirinya yang melingkar di pinggangku seakan tak akan terlepas lagi.

__ADS_1


"Kamu benar-benar menggairahkan. Kamu membuatku selalu bergairah bila aku di dekatmu," James mengoceh sambil menjelajahi inci demi inci tubuhku dengan jemarinya yang bergerak nakal.


Sungguh, aku jijik sekali dengan kelakuannya yang seolah sengaja ingin menyakiti hati Bang Jack hingga membiarkan diri kami terekam cctv. Terlebih lagi, dia membuat punggungku melengkung ke belakang hingga ia bisa bebas menyapu dadaku dengan bibir dan lidahnya yang nakal. Dan, dia sengaja mengisa* puncak dadaku dengan kuat. Aku kesakitan hingga berteriak sejadi-jadinya, memohon ia melepaskan mulutya dari dadaku.


"Sakit, My James, sakiiiiit... sakiiiiit...! Tolong lepaaaaaas...!"


James, si keparat itu, dia tidak peduli pada teriakanku. Dia terus saja mengisa* dadaku kuat-kuat. "Semakin kamu mengeran*, aku semakin suka. Aku semakin bergairah," kata James di depan wajahku. Dia nyengir seperti setan, lalu ia meraih tanganku dan mengeluskan jemariku di bagian depan celananya. Di permukaan kain yang sekarang memperlihatkan tonjolan keras di balik celananya.


"Sekali lagi, ya. Mengeran* lebih kuat. Oke?"


Berengsek! Berengsek! Berengsek! Sakiiiiit....


Aku menangis, dan James terlihat sangat puas melihatku kesakitan seperti itu.


Apa dia sengaja? Apa dia mengidap penyakit? Kelainan *eks? Atau dia sengaja ingin menyakiti hatiku dan Bang Jack?


"Aku mau mandi," katanya kemudian. "Temani aku, ya."


Hah?


"Ayo."


Argh! Dia mengangkat kedua pahaku, menggendongku di depan dada bak koala. Praktis, aku mengaitkan tanganku di lehernya kuat-kuat.


"Di mana kamarmu? Ada kamar mandinya, kan?"


Aku mengangguk, dan menunjukkan arah. James membawaku masuk ke dalam kamarku, lalu menurunkanku di depan wastafel. Dalam gerak cepat, ia menurunkan dan menanggalkan celananya, kemudian ia duduk di atas counter. Sesuatu di antara pahanya sudah menegang dengan sempurna, plus menantang. Dia tersenyum.


"Tunggu apa lagi? Lakukan tugasmu. Rasakan aku dengan mulutmu."


Apa? Tidak mau....


Jelas aku terbelalak, lalu menggelengkan kepala sambil menangis.


"Oh, ayolah... James memohon padamu, Sayang."


"Jangan begini, My James...," rengekku.


"Oke. Kalau begitu, biar aku saja yang akan melakukan tugasku. Bagaimana? Kamu sudah siap kita bercinta dalam keadaan kamu sadar begini? Iya?"


Tidak! Berengsek kamu! Kamu selalu membuat posisiku terjepit.


"Jika kamu mau, aku akan melakukannya dengan senang hati."


Aku tidak sudi....


"Keputusan ada di tanganmu, Sayang. Kamu mau pilih yang mana? Menyenangkanku dengan caramu, atau aku yang menyenangkanmu dengan caraku? Silakan kamu pilih."


Kuusap air mataku, dan memutuskan, "Biar aku saja."


"Bagus. Genggamlah aku dan buka mulutmu. Belajarlah menyenangkan suami."

__ADS_1


Dasar bajingan! Air mataku kembali menetes. Sabarlah, Rose. Daripada kau melihat James merasakanmu dan menikmatimu, kau akan lebih sakit hati lagi. Lebih baik begini, meskipun ini sangat menjijikkan. Bersabarlah....


__ADS_2