
Aku dipaksa duduk di kursi kayu. Kami tiba di ruangan yang mirip gudang, berisi bertumpuk-tumpuk kardus, satu set sofa, meja tinggi, dan kulkas.
"Hei kalian." Terdengar suara lain. "Ini gadis yang kalian bawa?"
Tiga pria yang membawaku tadi langsung semringah. Aku mendongak dan melihat seorang pria berjalan mendekatiku. Jangkung menjulang, berambut hitam legam, dan matanya berbinar. Wajahnya tampan dan muda, sepantaran dengan Bang Jack. Ia memakai kemeja flanel biru muda. Lengan kemejanya digulung sampai ke siku dan dua kancing atasnya dibiarkan terbuka. Celana katun hitamnya pas dengan bentuk kakinya yang jenjang, dan ia mengenakan sepasang sepatu hitam mengilat. Kalau bukan sedang diculik, aku pasti mengira pemuda itu eksekutif muda yang sukses. Sebab, tidak ada tampang penjahat sama sekali di wajahnya yang tampan itu. Dia seperti seorang pemuda terhormat. Tapi sayang, dia bahkan berada di tempat ini. Tempat perdagangan manusia.
"Apa yang kamu lakukan di sini, James?" Seorang pria lain datang, usianya cukup tua, sekitar lima puluh tahunan. "Hai, Nona," sapa pria itu ramah. Ia memegang kedua bahuku, menarikku, dan memindahkanku ke sofa. "Nah, Anda pasti lebih nyaman duduk di sofa." Pria itu menunduk dan meraih tanganku -- mencium tanganku ala pria muda yang berkelas. "Sebentar, ya, Nona." Dia berpaling ke pria yang lebih muda tadi. "Kenapa kamu masih di sini? Pergilah."
Pria itu menggeleng. "Santai saja, Pa. Aku hanya tertarik pada gadis ini. Sepertinya dia gadis baik-baik. Siapa dia? Kenapa dia ada di sini?"
Oh, mereka ayah dan anak rupanya.
"Seperti biasa, James. Nona ini ingin menjadi salah satu pekerja di sini. Benar, kan, Nona?"
Aku tidak sudi!
"Oh, pemaksaan," komentar pria muda itu sebab aku tidak menyahut. "Kalian menculiknya? Hmm?"
Ketiga berandalan itu menggeleng. "Tidak, Tuan Muda," kata salah seorang pria yang membawaku itu. "Kami tidak menculiknya."
"Lalu apa? Kalian bisa melihat, dia bahkan menangis. Dia juga tidak menjawab pertanyaan Papa."
"James," kata pria tua itu. "Pergilah. Ini urusan Papa. Jangan ikut campur."
"Tidak. Aku sudah pernah bilang, aku tidak suka kalau Papa memaksa seorang gadis--"
"Jaga bicaramu, James. Dia tidak terpaksa. Kalau dia terpaksa, dia tidak akan berada di sini. Pergilah."
"Saya terpaksa!" teriakku. "Saya terpaksa ada di sini! Saya diculik! Saya tidak mau dijadikan pelacur! Saya tidak mau!"
__ADS_1
Si pria tua menatap ketiga pria yang membawaku.
"Sori, Bos. Kami mengambil gadis ini dari berandalan gang kumuh itu. Dia tadi sudah setuju. Tidak tahu sekarang kenapa--"
Bos mereka mengibaskan tangan. "Bawa dia pergi!"
"Tapi, Bos."
"Silakan pergi, Nona."
"Terima kasih, Tuan." Aku lega.
Namun, ternyata aku salah. Terlalu bodoh. Terlalu cepat lega. Ketiga pria yang tadi membawaku langsung mencekal tanganku dan hendak menyeretku pergi. Persis di saat itu aku teringat adegan berbahaya di mobil tadi. Aku menyadari, mereka pasti akan melecehkan aku lagi sebelum membuangku, mengembalikanku ke tempat tadi, atau justru menjualku ke tempat lain.
"Ayo. Dasar tidak berguna!" hardik salah seorang penjahat itu, lalu ia berbisik, "Awas saja kau. Kami akan memberimu pelajaran."
"Kalian mau uang berapa?" tanya lelaki bernama James.
"Oh, James," kata papanya. "Johnson tidak pernah mengajarimu menjadi pahlawan kesiangan."
"Maaf, Tuan Muda. Kami tidak akan menyalahi aturan. Nona ini berubah pikiran. Jadi kami akan mengembalikannya ke gang tadi."
Berengseeeeek... kenapa susah sekali untuk lepas dari sini? Kenapa? Bedebah!
"Katakan, berapa uang yang kalian mau?"
"James!"
"Ini urusanku, Pa."
__ADS_1
"Tidak bisa!"
"Pa! Dia pasti gadis baik-baik. Kalau tidak--"
"Kita tidak perlu berurusan dengan orang luar."
"Baiklah. Aku menginginkan gadis ini. Aku akan menikahinya."
Sumpah. Dia membuatku tercengang.
"James. Kendalikan dirimu."
"Tidak, Pa."
"James!"
"Dia tidak ingin menjadi pelacur!"
"Maka dari itu Papa menyuruhnya pergi."
"Tapi kalau mereka mengembalikannya--"
"James!"
"Terserah! Papa tidak bisa mencegahku. Setuju atau tidak, aku akan menikahinya. Kalian tidak berhak menjadikannya pelacur atau menjualnya ke tempat lain. Dia milikku!"
Pria muda itu melepaskan tangan para berandal itu dariku, lalu dia menarikku dan membawaku pergi.
Kenapa hidupku di oper-oper begini? Kenapa hidupku sesial ini? Benarkah tidak ada kesempatan bagiku untuk kembali bersama Bang Jack? Bahagia bersamanya? Kenapa? Takdir ini sungguh mempermainkan kehidupanku.
__ADS_1