
Pagi hari sebelum kami tiba di Bali, Jack mengajakku ke geladak bawah untuk menjaring ikan. Yap, aku senang bukan kepalang. Begitu juga Jack, dia senang melihatku senang. Dia sangat antusias menebarkan jaring-jaring itu, menangkapkan ikan-ikan dari berbagai jenis itu untukku. Katanya, dia ingin aku mengekpresikan diri, bereksperimen dengan ikan-ikan segar yang kami tangkap. Aku senang sekali, kami mendapatkan banyak ikan untuk dibawa pulang. Ukurannya besar-besar pula. Aku jadi tidak sabar untuk membebaskan jiwaku: menekuni hobi memasak yang selama ini kupendam sendiri di dalam hati karena keterbatasan ekonomi. Aku pun benar-benar antusias.
Well, akhirnya hari itu kami berdelapan tiba di Bali tepat pada hari ke-lima. Hari menjelang malam ketika kami keluar dari kapal. Keenam teman Jack langsung kembali ke markas mereka, sementara Jack membawaku pulang ke apartemennya. Di dalamnya terdapat tiga kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan, lengkap dengan beranda di bagian belakang.
Jack memberikan kamar utamanya untukku, kamar yang paling besar dan berjendela, membuatku bebas memandang suasana Bali kapan saja yang aku mau. Sementara, Jack, dia menempati kamar sebelah yang tak berjendela, ukurannya lebih kecil dan membuatku merasa tidak enak. Ibaratkan seorang tamu, aku harus tahu diri. Seharusnya aku tidak layak menempati kamar utama yang istimewa itu. Harusnya aku yang menempati kamar yang ukurannya lebih kecil, ya kan?
"Kamu tidak perlu merasa sungkan begitu, Sayangku," ujar Jack sewaktu aku mengutarakan perasaanku. Dipeluknya aku dari belakang lalu dia mengecup pipiku. "Tidak apa-apa. Aku akan memberikan kenyamanan ekstra supaya kamu betah tinggal di sini. Lagipula, kan nanti setelah kita menikah, aku juga akan tidur di sini. Bersamamu, istriku." Kemudian dia berbisik mesra di telinga, "Ini kamar pengantin kita, dan nanti, kita akan melewati malam pertama kita di sini. Berdua."
Ya ampun... debar-debar di hatiku mulai bermunculan lagi. Jack selalu bisa membuatku megap-megap kehabisan napas.
"Ma...malam... pengantin?"
"Hu'um, malam pengantin. Malam pertama kita."
"Malam... pertama... kita?"
"Iya, Sayang. Kamu dan aku. Kita berdua. Sepasang pengantin baru. Suami dan istri yang saling mencintai."
Lemes, bestie....
"Kamu ini, ya. Baru begini saja sudah gemetaran. Bagaimana kalau nanti...?"
Aku menggeleng-geleng. "Sudah, ya... jangan bahas ini sekarang. Aku...."
"Nervous?"
"Em."
"Just relax, ok?"
"Em, ya. Oke."
"Intinya..." --dia memutar tubuhku menghadapnya-- "aku tidak akan menyentuhmu sebelum waktunya. Dan aku... aku menjanjikan kebahagiaan itu jika sudah tiba waktunya. Momen manis yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan."
Memerah. Kututupi pipiku dengan kedua belah tangan dan berharap Jack tidak melihat semburat merah di kedua pipiku. "Please... jangan bahas yang beginian dulu...," rengekku. "Aku malu...."
__ADS_1
Jack terkekeh. "Baiklah, Sayang. Sekarang mending kamu ikut aku ke dapur." Dia meraih tanganku dan menarikku ke arah dapur, sambil berjalan dia berceloteh, "Kamu lihat dapur kita. Kuharap kamu suka dan kamu bisa memasak apa pun sesuka hatimu di sini. Dapur ini milikmu." Kami pun tiba di dapur. "Bagaimana, kamu suka?"
Oh, waw...! Ekspresi norakku keluar lagi. Dapurnya keren, lebih keren dan lebih lengkap dari dapur yang kulihat di kapal. Semua peralatan masaknya serba ada, serba lengkap, dan serba canggih. Cukup, lengkap, modern dan sempurna. Dapur impianku -- dapur yang membuatku ternganga melihatnya.
"Terima kasih, Abang Sayang." Kupeluk ia dengan sayang, plus, dengan segenap hati sebagai ungkapan terima kasih dari hati yang terdalam. "Kamu yang terbaik," pujiku.
Semringah. Jack membalas pelukanku. Sungguh, dia membuat hidupku tampak sempurna saat ini. Meski bukan dengan seorang pangeran atau seorang konglomerat, ataupun pembisnis sukses yang hidup bergelimang harta layaknya seorang sultan, tapi tetap, dia membuat hidupku terasa seperti seorang upik abu yang menjelma menjadi seorang tuan putri. Jack memberikanku kehidupan yang serba berkecukupan, tempat tinggal yang mewah, pakaian satu lemari penuh, dan apa pun yang kubutuhkan. Termasuk identitas. Dia membuatku merasa: aku ini seorang wanita yang beruntung. Sungguh, dia membuat air mataku kembali berjatuhan: namun kali ini aku menangis bahagia saking aku terharu atas kebaikan hatinya terhadapku.
"Lo? Kok malah menangis?"
Aku menggeleng sementara Jack mengusap air mataku.
"Terima kasih. Kamu sangat baik."
"Berterimakasihlah dengan cara yang manis, Sayang."
"Eh? Maksudnya? Bagaimana... caranya? Apa yang mesti kulakukan?"
Jack menyodorkan pipinya. "Satu kecupan manis di sini."
"Iiiiih... moduuuuus...!"
"Well...."
Cup!
Satu kecupan menempel di pipinya. "Sudah. Tapi... memangnya itu cukup?"
"Oh... ada yang ingin memberiku lebih?"
Ckckck!
Aku tergelak. "Kamu ini, ya, modus terus."
"Lah, kamu sendiri yang bertanya. Kalau kubilang kurang, kamu mau memberiku kecupan lagi? Hmm?"
__ADS_1
Aku tersipu, lalu berjinjit, dan...
Kutempelkan bibirku di bibirnya, dan, satu ciuman manis ia terima dariku, plus, lengkap dengan satu gigitan yang lembut. Ukh!
"Kamu memancingku, Gadis Kecil."
Oh Maaaaak... si pria tangguh itu merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku terdiam, hanya berdiri di sana, mataku semakin lebar dan aku menelan ludah ketika Jack menyelipkan sebelah lengannya di pinggangku. Dan...
Jack menunduk menatapku, sementara aku mendongak menatapnya, lalu... mataku menggelap. Jack membisikkan namaku, dan, tanpa bisa menahan kebutuhan yang membesar di dalam diri kami, Jack menunduk dan mencium bibirku.
Oh... aku... aku melayang. Aku suka perasaan ini. Rasa asing yang istimewa: yang membuatku berdebar senang, dan, bahagia. Karena dirinya.
Sambil berjinjit, aku mendesa* dan menekankan tubuhku ke tubuhnya, dan aku merasakan tubuh Jack langsung hidup dan mendamba. Ia menyelipkan lengannya yang lain ke tubuhku dan menarikku ke tubuhnya, keras dan erat.
Aku sesak napas. Di antara debaran jantungku dan desakan ciuman Jack, aku tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir. Aku tidak mau berpikir atau memikirkan hal apa pun. Dia membuat intensitas otakku menjadi kosong. Bibir yang hangat, seksi, dan tegas, dadanya berotot, menekan dadaku ketika ia menarikku semakin erat dan semakin dalam ke jiwanya. Rasa panas meledak di perutku, memorakporandakan saraf, seakan-akan saat ini aku tergenang di dalam cairan hangat dan dikelilingi bara api yang membuatku berkeringat.
Oh, no, aku merasa pusing. Aku mendongak menatap Jack ketika priaku itu melepaskan ciumannya.
"Maafkan aku," ucapnya. "Aku tidak bisa mencegah diriku untuk memelukmu, menciummu sedalam ini. Maaf."
Aku mengangguk. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Bukan tidak punya malu, tapi toh dia kekasihku.
"Baiklah. Sekarang, kalau kamu tidak keberatan, tolong masakkan aku sesuatu untuk meredakan rasa laparku. Supaya aku tidak memakanmu." Dia terkekeh.
Ya Tuhan... pria ini. Kebahagiaannya seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta.
"Oke. Kamu mau makan apa? Ada kepingin sesuatu?"
Jack memutar bola mata, nampak berpikir sejenak. "Apa saja, yang penting selezat dirimu. Senikmat kamu."
"Yeee... mana ada. Aku satu-satunya, tahu!"
Ya kaaaaan???
"Hu'um, kamu satu-satunya. Milik Jack seorang. I love you."
__ADS_1
Aaaaah... dia menciumku lagi.
Jangan sampai kebablasan, ya, Abang....