Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Bawel!


__ADS_3

Sepeninggal Bang Jack, aku baru menyadari ada yang berbeda dengan kamarku. Ada sebuah televisi baru, berlayar lebar dan lengkap dengan segala pernak-pernik layaknya home theater yang ada di kamar VIP kapal waktu itu. Dan, di atas nakas, di sebelah lampu tidur, ada lampu hias yang sudah menyala. Lampu yang tidak akan ikut padam jika terjadi konsleting listrik. Lalu, di atas tempat tidurku, ada dua boneka beruang berwarna pink. Yang satu berukuran kecil, dan yang satunya lagi berukuran super besar. Ponsel dan tabletku juga sudah ada di atas meja rias. Sudah aktif. Bahkan foto tampan Bang Jack sudah menghiasi layar ponsel itu. Dia membuatku terkikik geli. Percaya diri sekali dia sehingga memasang fotonya sendiri di layar ponsel untukku.


Larut dengan manisnya kasih sayang Bang Jack, aku sampai lupa bahwa aku mesti bergegas berpakaian. Kami belum makan malam. Kuambil gaun tidurku dari dalam lemari berikut pakaian dalamku lalu mengenakannya, setelah itu, aku menyisir rambut, mengikatnya, lalu memakai losion. Dan gara-gara ini, Bang Jack yang baru selesai mandi dan berganti pakaian keburu kembali menyambangi kamarku.


"Rose," panggilnya seraya mengetuk pintu.


"Masuk," kataku, lalu pintu pun terbuka.


"Belum selesai?"


"Sebentar lagi."


Dengan canggung, Bang Jack kembali masuk ke kamarku dan menghampiriku yang duduk di depan meja rias.


"Tumben lama."


"Kepingin pakai losion," sahutku.


"Oh, kukira...."


"Apa?"


"Tidak. Tidak ada."


"Aku tidak marah, kok, soal yang tadi. Kamu juga sudah terlanjur melewati batas. Emm... maksudku hampir melewati batas," ralatku.


Hening.


"Maaf," kata Bang Jack akhirnya. Hanya itu. Dia kini berdiri di belakangku, menatapku di cermin.


Aku hanya tersenyum. Memang sudah terlanjur, kan? Aku sendiri pun merasa bahwa aku ini agak sedikit murahan karena membiarkan diri kami melewati batas. Tapi aku tidak ingin pergi darinya, itu alasan pertamaku masih berada di sini. Dan, alasan keduanya, aku tidak ingin meninggalkan dirinya. Karena aku tahu, tanpa aku, dia akan kembali terluka. Dan, alasan ketiga, jika aku pergi, mau ke mana aku? Di dunia ini aku sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa lagi. Belum tentu aku bisa lebih beruntung dan akan bertemu seseorang yang lebih baik daripada seorang Jack Peterson. Belum tentu ada yang mau menyayangi dan mencintaiku lebih darinya. Jadi, meski dia senakal itu, aku masih ingin di sini, bersamanya.


Well, aku bangkit, berbalik dan berdiri di hadapan Bang Jack. "Aku sudah bilang aku tidak marah. Jangan dibahas, ya. Yang penting kamu menikahi aku. Emm... omong-omong, namaku... Emilia Fransiska. Ayahku bernama Frans, ibuku bernama Siska. Tapi kamu boleh memanggilku Rose. Atau kamu boleh menamaiku Rose Emilia Fransiska."


"Baiklah. Rose Emilia Fransiska Peterson." Bang Jack tersenyum.


Aku mengangguk dan balas tersenyum, semringah. "Rose Emilia Fransiska Peterson," ulangku. "Aku bersedia menjadi Rose-mu. Dan aku bersedia menjadi Nyonya Peterson untukmu."


Uuuh... melow. "Terima kasih karena kamu sudah mau memberitahuku siapa namamu." Bang Jack kembali mendekapku ke dalam pelukannya yang erat.


"Abang."


"Emm?"


"Udahan pelukannya. Nanti kamu--"


Ah, edan!


Dasar pria gila. Bukannya melepaskan aku dari pelukannya, eh dia malah membawaku dan menghempaskan diri kami ke atas tempat tidur.


Dia tertawa senang sampai ngakak karena lagi-lagi aku memekik gemas.


"Mau bangun atau mau tetap di sini?"


"Bangun. Aku lapar."


"Aku juga lapar."

__ADS_1


"Abang...."


"Mmm-hmm...?"


"Ayolah."


"Tentu, dengan senang hati."


"Abang... maksudku ayo bangun...."


"Sudah. Sudah terbangun."


"Eh? Sudah... su--sudah terbangun apanya?" aku tergagap. "Jangan macam-macam, ih. Nanti benar-benar kebablasan."


Terkekeh. Bang Jack bangkit dari atasku sambil terkekeh kesenangan. "Ayo, cepat. Kalau tidak cepat... benaran aku lahap kamu."


Auto ngacir. Kutinggalkan dia di dalam kamarku. "Dasar Abang gila...!"


"Kamu yang membuatku gila, Sayang...," serunya di belakang sana.


Sesampainya aku di dapur, lagi-lagi aku menyadari ada sedikit perubahan. Ada dua lemari es tambahan yang berukuran besar di sana. Spontan aku berbalik. "Ini berlebihan, Abang," kataku. "Ngapain sampai punya tiga kulkas begini? Kan boros...."


"Jangan protes. Yang satu khusus untuk menyimpan buah dan sayuran. Satunya untuk bahan masakan mentah, dan yang satu lagi untuk menyimpan kue dan masakan lainnya. Berfungsi semua, kan?"


Dia benar-benar tidak ingin aku keluar dari sini.


"Besok aku harus pergi," kata Bang Jack tiba-tiba. "Ada pelayaran ke Thailand. Tidak tahu seberapa lama. Tapi kuharap apa pun yang kusediakan di sini itu akan cukup untukmu, sampai aku pulang."


Hmm... jujur saja hatiku cukup tersentak. Dia bisa pergi tiba-tiba, apalagi dalam waktu berhari-hari, aku tidak rela. Tapi aku mesti bagaimana? Hanya pasrah dan menerima, hanya itu.


"Rose?"


"Tidak apa, kan, kalau aku pergi?" Bang Jack maju lebih dekat ke hadapanku.


Aku mengangguk. "Aku juga tidak bisa melarang, kan?"


"Aku akan pulang."


"Harus!"


"Iya. Jangan menangis. Aku kan belum pergi."


"Habisnya kamu jahat. Kita baru dua hari di sini, masa aku sudah ditinggal sendiri?"


Tuh kan... aku jadi protes.


"Sudah. Aku pasti pulang, kok. Tidak ada gunanya menghabiskan malam ini dengan tangisan. Mending kita makan, yuk?"


Benar. Tidak ada gunanya. Kuseka air mataku hingga tak bersisa. Aku tidak boleh cengeng. Tidak boleh.


"Yang penting kamu ingat selalu, kamu jangan ke mana-mana. Jangan meninggalkan apartemen kalau bukan karena keadaan genting. Misalnya ada gempa atau ada kebakaran. Selebihnya, buatlah orang di luar sana mengira seolah unit ini tidak ada penghuninya. Kamu paham?"


Aku mengangguk.


"Kamu bisa menonton di dalam kamar, bisa masak di dapur, atau itu," --Bang Jack menunjuk alat olahraga yang juga baru ia beli, treadmill elektrik-- "kalau kamu bosan dan ingin bergerak, mau berjalan atau berlari, pakai alat itu, nanti kuajarkan cara pakainya."


Ya ampun... sampai sebegitunya dia memberikan kenyamanan dan pengamanan untukku.

__ADS_1


"Rose?" Dia menatapku dalam-dalam seraya memegangi kedua tanganku.


Aku mendongak, balas menatapnya.


"Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu. Sangat cinta."


"Betah-betah di sini, ya?"


"Iya."


"Tunggu aku pulang."


"Pasti."


"Jangan ke mana-mana."


"Hu'um. Aku janji."


"Jangan membukakan pintu untuk orang lain."


"Iya, tidak akan."


"Rose?"


"Emm?"


"Setelah aku pulang nanti...."


"Apa?"


"Kamu jangan gendut, ya."


"Abang...!"


Dia terkekeh-kekeh. Suara tawa ngakak Bang Jack menggema di seluruh ruangan dapur. Dasar!


"Sudahlah. Jangan melow-melowan. Pokoknya semua kebutuhanmu di sini sudah terpenuhi, ada banyak makanan, dan semua yang kamu butuhkan semuanya tersedia. Tapi bukan berarti kamu bisa makan tanpa peduli pada tubuhmu yang seksi itu, oke? Jaga tubuhmu dan kecantikanmu untukku. Kita akan segera menikah. Aku ingin pengantinku tetap tampil seksi di malam pertama. Malam pengantin."


Euw...! Terang-terangan sekali sih, dia. Tapi aku tetap mengiyakan dan mengangguk, lalu kami berpelukan sekali lagi dan kemudian memutuskan untuk segera makan malam. Kuhidangkan steak di atas meja dan meminta Bang Jack untuk mengajariku perihal Table Manner, tata cara makan ala orang-orang berkelas.


"Untuk apa, sih? Makan mah tinggal makan."


"Ye... mungkin suatu saat kita bisa hidup--"


"Ya, ya, ya. Aku mengerti. Akan kuajari," katanya memotong perkataanku. Dia mengerti betul apa maksudku. Lalu Bang Jack mengoceh panjang lebar perihal Table Manner itu, di mana posisi garpu dan pisau, bagaimana cara memotong daging steak, dan lain-lain. "Aku sudah lama, tahu, tidak makan dengan banyak aturan seperti ini. Sejak jadi bodyguard, hidupku jadi sesukanya. Makan sesukanya, tidur sesukanya. Tidak ada yang peduli atau mencegahku harus begini, harus begitu. Semuanya sesukaku. Tidak ada yang bawel. Tidak ada yang perhatian."


Lagi-lagi aku tersenyum. Kata-katanya menunjukkan bahwa di balik kepribadiannya itu, dia hanyalah lelaki biasa yang membutuhkan perhatian dan kehangatan dari seseorang: kekasih, istri, seseorang yang menjadi bagian keluarganya.


"Jangan bahas masa lalu. Sekarang kan ada aku yang akan bawel dan selalu perhatian padamu. Kamu mau aku bawel? Hmm?"


Dia mengangguk seraya tersenyum. "Bawel itu kan tandanya sayang, ya kan, Sayang?"


Eit dah, bodyguard satu ini. Dasar gombal!


"Omong-omong, aku ingin menagih janjimu tadi pagi. Kamu sudah siap bercerita, kan, soal... phobia itu, yang kamu alami?"

__ADS_1


Hmm... pria bawelku ini tidak lupa ternyata.


__ADS_2