Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Maafkan Aku


__ADS_3

Sah.


Kata itu menjadi pengikat hubungan antara aku dan James. Hubungan pernikahan yang menurut hati kecilku sama sekali tidak sah. Sebabnya, di sini, di relung hatiku yang terdalam -- aku terpaksa menjalani pernikahan ini. Bagaimana bisa ikhlas jika tidak ada cinta di dalam pernikahan ini? Pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta, akan jadi apa masa depan pernikahan kami nanti?


Tentu. Tentu saja akan terasa lebih baik jika hatiku belum memiliki pelabuhannya -- cinta yang berlabuh pada hati Bang Jack -- mungkin akan terasa lebih muda bagiku untuk menjalani pernikahanku dengan James jika cinta ini belum berlabuh pada seorang Jack Peterson: pria pertama yang menyelamatkan hidupku. Jika hatiku masih dalam keadaan kosong, barangkali aku bisa belajar menerima kehadiran James di dalam hidupku. Barangkali saja aku bisa mencintainya semudah aku mencintai Bang Jack. Andai saja....


Tetapi sekarang, kenyataannya aku sudah memiliki cinta yang besar di hatiku. Pasti akan sangat sulit bagiku untuk menghapus cinta untuk Bang Jack dan menggantikan cinta itu untuk suamiku, Tuan James Harding. Pasti sulit. Bahkan, mungkin saja, mungkin tidak akan pernah bisa. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menghapus cintaku kepada Bang Jack, dan mungkin aku tidak akan pernah bisa mencintai James. Apalagi Bang Jack adalah cinta pertamaku. Dan aku tahu, cintaku sudah begitu besar sehingga aku rela berkorban sebesar ini untuk Bang Jack, juga untuk Mama. Semua ini tidak akan mudah.


Tapi semuanya sudah terjadi. Sudah terjadi....


Sekarang aku hanya bisa menangis dengan deraian air mata, duduk sendiri di depan cermin -- menatap diriku sendiri: dalam balutan gaun pengantin putih. Air mata ini kembali mengalir saat aku kembali sendiri di dalam kamar pengantinku, dan, harus kusembunyikan tatkala aku berada di hadapan orang lain. James tidak ingin siapa pun tahu kalau aku terpaksa menerima pernikahan ini. Dalam perjanjian tak tertulis, dia memintaku untuk memperlihatkan kebahagiaan -- meski dalam bentuk kepalsuan.


Sungguh aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dan tujuan James: pernikahan kilat secara siri sebab dilangsungkan secara dadakan dan, juga mengingat usiaku yang belum sembilan belas tahun, yang katanya tidak perlu ada resepsi, yang penting sah dan ada akta nikahnya -- aku tidak mengerti maksud dan tujuannya. Yang pasti ini sangat mustahil karena cinta. Bahkan aku tidak merasa bahwa pria itu tertarik kepadaku. Jangankan di hatinya, dari cara dia menatapku, sama sekali tidak ada cinta yang tersirat di matanya. Tapi, yang aku tahu hanyalah: kebahagiaan pernikahan yang mesti kutunjukkan di hadapan orang-orang adalah timbal balik atas penjagaan dan pengamanan yang akan ia berikan untuk ibunya Bang Jack. Kami sudah sepakat.


Dan aku rela menukar segalanya demi seseorang yang sangat berarti bagi Bang Jack -- sebab, dia lelaki yang sangat berarti bagiku. Sebagaimana Mama yang begitu berarti baginya, sebesar itu juga arti Bang Jack bagi diriku.


Tidak apa. Pengorbananku tidak akan sia-sia.


Ceklek!


Pintu kamar utama paviliun terbuka. Seketika itu aku mengusap air mataku. James tidak ingin melihatnya.


"Acara pernikahan kita sudah selesai. Anda... maksud saya kamu, kamu tidak ingin menanggalkan gaunmu?"


Deg!


Apakah dia akan menyentuhku sekarang? Dengan takut, aku bangkit dari dudukku dan berbalik, menghadap pria itu dengan pandangan tertunduk.


"Nona?"


"Emm... maaf, saya... saya...."


"Sekarang mari kita bicara dengan kata aku dan kamu."


Ya Tuhan, aku tahu aku sudah menjadi istrinya. Tapi ini...?


"Rose?"


"Iy... iya, Tuan."


"Sebut aku dengan kata lain."


"Ap--apa? Saya... emm aku... aku harus memanggil Anda... maksudku... kamu, aku... aku harus memanggilmu... apa?"


Dia mengedikkan bahu. "Terserah."


"Aku... aku tidak tahu."


"Intinya jangan memanggilku tuan, karena sekarang aku suamimu."


"Em." Aku mengangguk, meski aku tidak tahu harus memanggilnya dengan kata apa -- yang cukup pantas.

__ADS_1


"Pikirkan soal itu nanti." James maju beberapa langkah dan berhenti tepat di hadapanku. Dengan lembut, dia menangkup wajahku dan membuatku mendongakkan wajah memandang wajahnya. Dan seketika, penilaianku tentang perasaannya sedikit tergoyahkan.


Apa mungkin saat ini dia punya perasaan istimewa padaku?


"Aku sudah memberitahu Papa perihal siapa dirimu yang sebenarnya, tentang Jack dan juga ibumu. Dan Papa sudah setuju untuk memberikan penjagaan dan pengamanan selama dua puluh empat jam untuk ibumu. Papa akan membayar beberapa orang perawat pribadi yang bertugas khusus menjaganya dan memberikan perawatan yang terbaik. Jadi, tidak akan ada suster lain, suster baru, apalagi suster gadungan dan suster-suster lainnya yang tidak dikenal yang akan mendekati ruang rawat ibu mertuaku. Dia akan aman di sana." Seulas senyum tulus terbit di wajahnya yang tampan.


Aku lega. "Terima kasih, Tuan."


"Hei?"


"Emm?"


"Panggil aku...?"


"Oh, anu... emm... apa... apa, ya...? Ee...."


"Sayang, cinta, mas, kakak, abang, honey, darling, apa pun." Dia melepaskan tangannya dari wajahku.


Dan aku menggeleng. "Kurasa... maaf, tapi kurasa... panggilan-panggilan itu tidak ada yang membuatku nyaman. Aku tidak nyaman."


"Kalau begitu panggil namaku saja. James. Just it. Bagaimana?"


"Ini Indonesia, dan kurasa itu tidak pantas. Usia... usiamu, usiamu jauh di atasku."


"Baiklah, jalan tengahnya, panggil aku My James. Karena aku James-mu. Milikmu."


Oh Tuhan... pria ini mulai menunjukkan sikap manisnya. Tapi kenapa aku berharap kalau dia tidak usah mencintaiku saja? Aku seakan enggan ada cinta di antara kami.


Well, aku mengangguk. "Kurasa itu lebih baik. Aku cukup nyaman memanggilmu... My James."


"Nah, sekarang... karena kita sudah menjadi suami istri, aku ingin...." James kembali menangkup wajahku dan menatap lekat kedua mataku, lalu... lalu...


Wajahnya semakin mendekat... mendekat... hingga mataku terpejam. Embusan napasnya yang hangat menyapu kulitku. Aku gemetar karena takut... takut dia benar-benar akan menyentuhku... saat ini... di saat aku masih belum siap.


"Rose," bisiknya di telinga. "Kamu...."


"A--ap--apa?" Mataku terbuka.


"Kamu... kamu cantik."


"Te--terima kasih."


"Rose?"


"Ya?"


"Boleh aku...?"


"Apa?"


"Kamu mengerti, ya kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk.


"Jadi...?"


"Silakan." Anda berhak. Meski hatiku sangat sakit.


"Terima kasih. Jack menunggumu di ruang tamu."


Seketika aku tersentak mendengar James membisikkan kalimat itu di telingaku. Lalu dia tersenyum.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu sampai usiamu sembilan belas tahun dan pernikahan kita resmi, seutuhnya resmi di mata hukum, lengkap dengan buku nikah. Aku janji padamu. Kamu bisa percaya padaku."


Sumpah demi apa pun, mataku terbelalak lebar. Dan jauuuuuh di dalam hatiku terbersit rasa syukur. Aku lega mendengar James mengucapkan janjinya.


"Aku tahu kamu belum siap," katanya lagi.


Aku mengangguk. Air mata syukur kembali menetes dalam senyuman. "Terima kasih."


"Em. Sama-sama. Sana, kamu temui abangmu. Minta doa restunya. Katakan padanya kalau besok kita akan menemui ibu kalian, dan kita akan meminta doa restunya juga. Oke?"


Aku mengangguk, meski dalam hati aku kembali ketar-ketir. Bagaimana aku bisa menghadapi Bang Jack? Aku akan melihat luka di matanya.


"Oh ya, jangan lupa katakan pada Jack kalau kamu baik-baik saja di sini, dan kamu bahagia dalam pernikahan ini. Ingat perjanjian kita. Kamu paham, kan?"


Lagi, aku mengangguk. "Baiklah," kataku. "Aku mengerti."


"Rose?"


"Emm?"


"Jangan beritahu siapa pun kalau aku berjanji tidak akan menyentuhmu sampai usiamu sembilan belas tahun. Biarkan semua orang mengira kalau kita sepasang pengantin yang bahagia malam ini. Malam pengantin kita, malam pertama bagimu. Kamu paham?"


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Aku... aku paham."


"Orang-orang akan mengira kalau kamu istri yang bahagia, ya kan?"


Aku mengangguk.


"Orang lain akan mengira kalau malam ini kita telah melewati malam pengantin kita, begitu kan?"


Aku mengangguk.


"Termasuk Jack?"


Oh Tuhan, itu akan membuatnya sakit hati. Tapi aku tak berdaya. "Ya, aku tidak akan memberitahu siapa pun. Termasuk... termasuk pada Bang Jack."


"Bagus. Kamu memang gadis yang baik. Seorang istri yang penurut. Pergilah, temui abangmu."


Dan sekarang, aku bagaikan belati yang siap menghunjam jantung kekasihku -- atau... mantan kekasih?


Aku takut. Tapi aku tetap harus menemuinya.

__ADS_1


Maafkan aku....


__ADS_2