
Hari itu, setelah makan siang, aku menghabiskan sisa siangku dengan bersibuk ria di dapur. Demi memenuhi keinginan Bang Jack, dan, juga menuruti permintaan James, aku menyibukkan diriku dengan berbagai menu masakan: rendang daging, opor ayam, dan ikan kukus lagi dengan bumbu pepes. Ikan yang kumasak sebelumnya sudah kuhabiskan untuk lauk makan siangku.
Sekarang, dalam kesibukan ini aku mempertanyakan diriku sendiri: untuk siapa aku memasak beraneka macam lauk ini -- dalam artian status?
Kugeleng-gelengkan kepala karena sekarang aku merasa diriku ini sangatlah hina. Di satu sisi aku memasakkan lauk untuk kekasihku, dan di satu sisi lagi aku memasakkan lauk untuk suamiku, bahkan sekarang aku mulai merasa hubunganku dengan kedua pria itu sama-sama hubungan perselingkuhan. Yang membedakan keduanya hanyalah status pernikahan. Dengan James, aku merasa diriku telah menyakiti hati Bang Jack. Dan dengan Bang Jack, aku menyadari bahwa sekarang aku telah berselingkuh di belakang suamiku sendiri.
Sudahlah, Rose, jalani saja, dan lihat bagaimana akhirnya. Berharap saja kau tidak akan hamil dalam waktu cepat -- sebelum kehidupanmu berada di arah yang jelas. Kau tidak boleh selamanya ada di persimpangan ini.
Yeah, untungnya walaupun benakku disesakkan oleh perasaan dilema itu, aku masih bisa menyelesaikan semua masakanku, lalu aku menyibukkan diriku dengan beberes dapur. Sejujurnya aku merasa sangat senang bisa kembali menyalurkan hobi memasakku di dapur apartemen Bang Jack meski aku merasa cukup kelelahan sebabnya belakangan ini -- selama dua minggu lebih aku kurang bergerak karena terkurung di paviliun. Jadi, tubuhku mesti beradaptasi sedikit. Aku jadi tersenyum sendiri, tidak apa-apa pikirku, demi Bang Jack, juga demi tidak membuat suamiku yang sakit jiwa itu kecewa padaku. Kalau dia marah, maka habislah aku.
Dan saat ini, demi mengusir pelu dan lengket di kulitku, aku memutuskan untuk mandi dan langsung menanggalkan pakaianku. Kunyalakan keran di atas bathtub di kamar mandiku sampai airnya penuh, lalu menambahkan sabun hingga airku dipenuhi busa, aku pun mencelupkan diri ke gelembung-gelembung hangat itu. Aku berendam sambil memikirkan hal-hal yang membahagiakan. Namun, tak bisa kupungkiri, perasaanku malah diliputi oleh rasa yang tidak bisa kumengerti: ada sesuatu yang kurang, dan ada rasa rindu, yang pada akhirnya membuatku menyudahi mandiku. Aku melangkah keluar dari bak mandi dan membilas tubuhku. Setelah itu, aku meraih handuk lalu melilitkannya ke sekeliling tubuh. Kemudian, dengan handuk kecil di tanganku aku mengeringkan rambut lalu pergi ke kamar Bang Jack.
Untuk sesaat, setelah menutup pintu kamar itu aku merebahkan tubuhku di atas ranjang hangat miliknya. Sambil memejamkan mata, aku membayangkan kembali momen mesra kami di sana. Di atas tempat tidurnya. Mengingat kembali bagaimana nikmat dan hangatnya sentuhan Bang Jack -- sentuhan mesra dengan sepenuh cinta.
Tapi dia tidak ada. Bagaimana rindu ini bisa terhapus? Bagaimana aku mesti mengatasinya? Sungguh aku tersiksa.
Lalu, ketika mataku kembali terbuka, dari posisiku, aku melihat jaket hitam Bang Jack yang tergantung di balik pintu. Aku ingat, jaket itu ia pakai sewaktu ia menemuiku di paviliun.
Dilandasi oleh rasa rindu yang menggebu, aku bangkit dan beranjak ke arah pintu. Kuambil jaket itu dan memasangkannya pada guling di atas tempat tidur Bang Jack. Dan, seperti perempuan sinting, aku memeluk guling berjaket itu. Lalu air mataku mengalir dengan sendirinya.
"Aku rindu," gumamku, dan aku kembali terisak. Namun pada akhirnya aku menghentikan air mataku ketika aku menyadari ternyata Bang Jack juga memasang cctv di dalam kamarnya. "Ya ampun, dia pasti menertawaiku kalau dia melihatku sekonyol ini."
Tapi biarlah, setelah mengusap habis air mataku, sekarang aku memamerkan senyum ceria ke arah kamera cctv, lalu kembali merebahkan diri dan memeluk Bang Jack, dirinya dalam bentuk guling berjaket.
"Eh? Apa ini?"
__ADS_1
Sepucuk kain putih menyembul dari kantong jaketnya. Dan ketika aku mengeluarkannya...
"Abang...!" pekikku.
Itu celan* *alamku. Pantas saja aku tidak menemukan benda itu sewaktu aku mencarinya di kamar paviliun. Ternyata Bang Jack yang mengambil dan menyimpan *alamanku itu di saku jaketnya.
Dasar nakal, batinku. Lalu pemikiran aneh malah menggelitiki hatiku. Aku jadi cekikikan, merasa geli. Kau tahu apa yang kupikirkan?
Hah!
"Jangan bilang kalau dia menciumi benda ini untuk melepaskan rasa rindunya padaku."
Ckckck! Benar-benar geli aku membayangkan Bang Jack mencium aromaku dari kain tipis berwarna putih itu. Dan, belum redam tawaku, dering ponselku malah memanggilku. Aku meninggalkan ponselku di dapur. Cepat-cepat aku keluar dan meraih ponsel itu dari atas meja makan. Ada panggilan telepon dari Bang Jack.
Klik!
"Jangan berpikir yang aneh-aneh," semburnya, dan tawanya pun tak terelak. Dia tergelak senang di seberang sana.
Hmm... tawa itu membuatku merasa yakin bahwa apa yang kupikirkan, seperti itulah adanya.
"Rose?"
"Apa?" tanyaku.
"Tolong simpan kembali. Jangan dibawa pulang. Aku mohon, ya?"
__ADS_1
Eit dah... pria itu membuatku kesulitan menahan bibir. Aku ingin sekali menertawainya. Dan itu yang akhirnya terjadi.
"Rose, please...."
"Apa...?" tanyaku lagi.
"Berhentilah menertawaiku. Aku malu, tahu!"
"Ya, ya. Baiklah. Akan kusimpan kembali ini untukmu."
"Janji, ya. Awas saja kalau kamu bohong. Aku akan sangat marah padamu."
Aku mengiyakan. Meskipun geli pada kelakukan konyol Bang Jack itu, tapi aku mengerti pada kebutuhan biologisnya, akan *asratnya yang menggebu, dan, juga rasa rindunya terhadapku.
Setelah Bang Jack memutus sambungan telepon itu, aku kembali ke kamar Bang Jack. Masih dengan handuk di tubuhku, kulepaskan jaket Bang Jack dari gulingnya lalu mengenakan jaket itu ke tubuhku. Aku ingin istirahat, ingin tidur di dalam kamarnya, di atas ranjangnya, dengan jaketnya, dan terselubung dalam hangat selimutnya. Sambil memeluk guling Bang Jack, aku berharap, aku akan bermimpi indah tentangnya. Tentang kami.
Yeah, meskipun ternyata aku tidak bermimpi, tapi tidurku cukup lelap. Aku terbangun saat hari sudah gelap. Sudah lewat jam tujuh malam. Setelah mataku terbuka dan rasa kantukku hilang, mataku menyapu kembali seisi ruang kamar itu. Saat itulah aku melihat kotak kardus berukuran sedang di atas lemari kamar Bang Jack. Aku jadi penasaran, apa yang Bang Jack simpan di dalam kotak kardus itu. Dan yang terlintas di otakku adalah benda-benda seperti kenang-kenangan, barangkali kenang-kenangan yang ada hubungannya dengan Rose Emerson, mendiang kekasihnya. Rasa penasaran itu membuatku tergerak untuk mengambil dan menjangkaunya. Aku bangkit dan turun dari ranjang. Dengan kursi kayu dari meja rias, aku naik dan mengambil kotak kardus itu lalu menurunkannya ke lantai.
Yap, seperti dugaanku, kotak kardus itu berisi benda-benda kenangan seperti pernak-pernik, cangkang kerang, kartu-kartu ucapan, dan hal-hal semacam itu. Aku membongkar dan melihat isinya satu persatu, sampai ke bagian paling bawah, aku menemukan sebuah amplop cokelat polos dan ada sesuatu di dalamnya. Dari penampakan luarnya, benda di dalam amplop polos itu seperti sesuatu yang tidak penting. Tetapi aku terlanjur ingin tahu apa isi amplop itu. Dan aku membukanya.
Deg!
Terkejut. Aku terbelalak tak percaya.
Kartu tanda pengenal anggota kepolisian.
__ADS_1
Dia... dia polisi?