
Pukul tujuh malam Jack mengetuk pintu kamarku. Maksudku, kamarnya yang kutempati.
"Ya?" tanyaku seraya membuka pintu.
Seperti tadi siang, aku mendapati Jack tersenyum lebar dengan kedua tangan menyangga nampan. Dia membawakan nampan makan malam untukku: sepiring nasi dengan kakap asam manis di sekelilingnya dan semangkuk soto hangat. Tidak lupa pula buah-buah potong berikut segelas jus semangka, plus vitamin dan obat untukku.
"Ya ampun, aku selalu saja membuatmu repot."
"Tapi kamu suka, kan?"
"Eh? Maksudnya?"
Jack berjalan masuk, menaruh nampan itu ke atas meja, lalu dia tersenyum dan berkata, "Kamu suka kalau aku perhatian padamu, ya kan?"
"Ih, dasar. Kamu pandai sekali merayu."
"Jujur saja. Aku juga suka, kok."
"Suka apa?"
"Suka padamu."
"Hmm...."
"Tidak apa-apa. Aku suka direpotkan. Ayo, silakan makan."
Tapi aku masih mematung di dekat pintu.
"Hei, ayo." Jack mendekat, lalu menarik tanganku dan membawaku ke meja, mendudukkan aku di kursi. "Makanlah," katanya.
Aku mengangguk. "Kamu...?"
"Aku bisa makan bersama dengan yang lain. Pokoknya, saat aku kembali nanti, piring ini harus sudah kosong. Tumpuk saja dengan piring makan siangmu tadi, biar nanti aku yang membawanya. Oke? Selamat makan." Jack keluar dan menutup pintu.
Sepeninggal Jack, aku langsung makan dan menghabiskan makan malamku. Dan kuakui, masakannya enak.
Well, Jack kembali sekitar setengah jam kemudian. Dia tersenyum senang melihat piring makananku sudah kosong. Tapi, ketika dia bertanya apa aku sudah meminum obatku, dan aku bilang belum, seketika itu sifat bawel dan cerewetnya muncul.
"Kamu tidak ingin segera pulih, ya? Dasar pasien bandel," omelnya.
Oh, sang dokter marah. Ckckck!
Dengan ekspresi sedikit sebal, dia berjalan ke meja dan meraih obatku. "Ini, minum sekarang!" perintahnya ketus. Jack menyorongkan dua butir pil dan sisa air di gelasku.
Euw... untung dia berjasa karena sudah menyelamatkan aku. Jadi ya sudahlah, aku menuruti perintahnya.
"Apa kamu sedang sibuk?" tanyaku.
Jack menggeleng. "Tidak juga untuk sekarang. Memangnya ada apa?"
"Aku bosan sendirian di kamar. Emm... maksudku...."
__ADS_1
"Kamu tidak boleh keluar sebelum keadaanmu benar-benar pulih."
"Tapi aku sudah baik-baik saja, kok. Sudah tidak pusing lagi."
"Besok, ya. Besok pagi aku janji aku akan mengajakmu keluar. Tapi... dengan catatan kalau besok pagi keadaanmu sudah benar-benar pulih. Oke?"
Oke, Jack sudah berjanji, maka aku pun bersemangat. Keesokan paginya aku sudah bangun pagi-pagi, lalu sarapan, mandi dan berdandan ala kadarnya: berganti pakaian, menyisir rambut, dan menguncirnya. Jack mengajakku berjalan-jalan mengelilingi seluruh bagian kapal.
Di geladak kedua, selain tiga kamar VIP, ada beberapa kamar yang lebih kecil yang posisinya berada di samping kamar VIP, berderet memanjang di koridor berkarpet merah. Ada ruangan kecil yang nyaman di seberang salah satu kamar, dengan sofa empuk, televisi, serta rak minuman beralkohol.
Di geladak bawah dekat parkiran mobil terletak dapur dan dua kamar kecil tempat juru masak dan pelayan tidur. Aku sangat menyukai dapur itu, kagum malah, dengan peralatan masak terbuat dari stainless steel tergantung rapi di samping lemari dapur, kompor listrik canggih yang permukaannya rata seperti meja, dan kulkas besar berisi sayuran segar dan bahan makanan mentah. Saat itu si juru masak laki-laki sedang membersihkan ikan besar, mencucinya bersih-bersih. Jack mengatakan kepadaku bahwa ikan itu baru saja ditangkap.
"Kalian memancing?" tanyaku, berharap aku juga bisa ikut memancing.
Tapi bukan. Ikan itu bukan hasil memancing. Kata Jack mereka menjaringnya, kemudian dia mengajakku ke geladak paling bawah, tempat penjaring ikan ditebar dan ikan terperangkap dengan jaring-jaring itu. Selama di bawah sana, Jack mewanti-wanti supaya aku berhati-hati, ada mesin kapal dan itu area yang berbahaya.
"Berarti enak, ya, jadi juru masak di sini. Bisa mengolah ikan segar dari berbagai macam jenis. Dapurnya juga modern, aku suka, alatnya juga canggih-canggih. Tidak seperti aku di kampung, masih pakai kompor biasa."
Jack hanya tersenyum. "Itu kan masih untung. Coba kalau mesti pakai kayu bakar. Lebih repot lagi, kan?"
Hehe. Berasa kena sindir.
"Kamu pandai memasak?"
"Yeah, hanya masakan kampung, sih."
"Berarti sudah siap menjadi istri?"
"Kalau iya, aku akan menikahimu."
Aduh... lemas kakiku, bestie....
"Kenapa? Nervous?"
Ya Tuhan... enteng sekali dia bicara. "Tidak, kok. Siapa yang nervous? Kenapa juga harus nervous?"
"Santai, dong...."
Hmm... dasar tukang rayu!
"Aku santai, kok. Kan kamu hanya bercanda."
"Kalau aku serius?"
"Ya itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Tidak mungkin, dong. Baru juga kenal dua hari. Masa langsung menikah?"
Ckckck!
__ADS_1
Kemarin aku mengiyakan saja perintah dari paman dan bibiku untuk menikah dengan orang asing walau aku belum pernah bertemu dengan si pria tua itu. Dasar, ya, aku. Sekarang malah bisa bicara sok iyes seperti ini.
"Jadi, kamu sudah siap menjadi seorang istri?"
"Ya, tergantung, siapa yang mau menikahiku."
"Maksudnya?"
"Emm... begini, secara kemampuan dalam mengurus rumah, aku bisa diandalkan. Urusan sumur dan dapur, itu soal kecil. Tapi, kalau calonnya belum ada, mau bagaimana? Kalau sudah ada calon, ya mesti dikenali dulu, kan, bagaimana orangnya?" Aku tidak mau terjebak lagi.
Jack manggut-manggut. "Mari, kita ke atas. Ada kolam renang kalau kamu ingin berenang."
Aku berjalan ke atas mengikuti Jack. Itu geladak paling atas, satu tingkat di atas kamar. Di tengah-tengahnya terdapat kolam renang berukuran sedang dengan kursi-kursi tempat berbaring dan berjemur di pinggir, serta rak berisi handuk dan kimono bersih. Tidak ada apa-apa lagi. Geladak itu memang dikhususkan untuk sarana berenang.
"Mau berenang?" tanya Jack.
Aku menggeleng. "Aku bukan bule, tahu! Kulitku bisa hangus jika berenang siang bolong begini."
Jack hanya mengangguk, lalu ia mengikutiku duduk di salah satu kursi yang terlindung dari sinar matahari. Jack duduk di sebelahku. Aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya.
"Emm... omong-omong, kalau aku boleh tahu, adikmu, Rose, dia memanggilmu dengan panggilan apa?"
Lagi, Jack tertegun saat aku menyebut nama adiknya. "Abang," sahutnya.
Giliran aku yang manggut-manggut. "Oke," kataku. "Berarti aku juga harus memanggilmu abang, kan? Kan aku adikmu."
"Terserah, sih. Sayang juga boleh."
Hah?
Jack terkekeh, menertawaiku dengan senangnya. "Kenapa, sih, kamu suka sekali melotot seperti itu?"
"Lagian kamu. Bercanda terus," cibirku.
Jack tidak menyahut, dia masih terkekeh, dia senang melihatku yang salah tingkah di hadapannya. Dan, beberapa menit kemudian...
"Hei?" kataku.
"Apa, Sayang?"
"Iiiiih... sudah...," aku memekik.
"Oh, rupanya kamu tidak suka kupanggil sayang. Hmm?"
"Jangan panggil aku sayang kalau cuma untuk bercanda. Ngerti?"
"Oke. Berarti kamu mau aku serius? Baiklah. Serius. Ada apa, Sayang?"
Argh!
Dasar bodyguard gombaaaaal....
__ADS_1