
Berusaha untuk tidak terlihat ataupun terkesan norak, itu yang kutanamkan pada diriku ketika Bang Jack mengajakku ke Discovery Shopping Mall, salah satu mall terbesar dan terlengkap di Kuta, Bali. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri apalagi sampai mempermalukan Bang Jack. Namun, sebisa aku berusaha untuk bersikap biasa saja, tetap saja ada kendalanya. Gadis kampung yang norak ini takut menaiki tangga eskalator. Maksudku itu karena untuk pertama kalinya aku menggunakan tangga berjalan. Aku bingung dan takut salah saat melangkahkan kaki, dan saat aku membisikkan hal itu kepada Bang Jack, dia malah cekikikan.
"Jangan takut, Sayangku. Langkahkan saja kakimu sesantai mungkin," katanya saat kami berada di depan tangga eskalator. "Pastikan kakimu berada di tengah telapak anak tangganya." Dia menunjuk bagian yang ia maksud. "Jangan menginjak bagian yang seperti garis itu, kalau tidak, kamu akan terjatuh. Paham?"
Aku mengangguk. Kuperhatikan dengan teliti orang-orang yang baru menaiki tangga eskalator itu sebagai contoh dan menyesuaikannya dengan penjelasan yang tadi dituturkan oleh Bang Jack. "Sepertinya aku bisa," kataku. "Ayo, kita coba."
"Aku akan berdiri di sisi tangga, dan kamu berpegangan saja padaku. Aku tempatmu berpegang, bukan?"
Ah, Bang Jack. Dasar bodyguard gombal. Dalam keadaan seperti ini dia masih sempat-sempatnya bermanis-manisan padaku. Meski memang benar, dia tempatku berpegang. Tangan kokoh yang menggantikan kedua tangan ayahku.
"Baiklah, aku paham," kataku.
Well, Bang Jack mengajakku maju lebih dekat. "Ingat, melangkah dengan santai. Jangan melompat, oke?"
"Em." Aku mengangguk, dan... kami melangkah.
Aaaaah... aku deg-degan, tahu!
Kupegang tangan Bang Jack kuat-kuat karena aku takut terjengkang. Biar saja dia tertawa dan nyaris terpingkal karena reaksiku yang konyol. Aku tetap tidak akan mau melepaskan tangannya dari genggamanku. Yang penting aku aman.
"Ingat, sampai di atas nanti melangkah dengan santai. Jangan melompat."
Hahaha! Norak, ya....
Tapi toh berhasil. Kami sampai ke lantai 2 dan menaiki tangga eskalator lagi ke lantai 3. Bang Jack mengajakku ke toko elektronik.
"Kamu suka ponsel merek apa?" tanyanya.
"Kamu mau membelikanku ponsel?"
"Iya, Sayang...."
"Tidak usah, Abang. Harganya kan mahal."
"Bagaimana cara aku menghubungimu kalau aku sedang pergi? Lewat telepati?"
__ADS_1
Aku nyengir. Malu dibuatnya.
"Kamu butuh-- bukan, bukan kamu, tapi aku. Aku butuh kamu punya ponsel supaya aku bisa memantaumu saat aku jauh darimu, atau... aku tidak akan bisa tenang dan selalu mengkhawatirkan keadaanmu. Kamu paham?"
Lagi, aku nyengir super lebar.
"Sudah. Jangan banyak protes dan jangan bawel lagi. Menurut saja padaku. Oke?"
Kuanggukkan kepalaku dan tak lagi membantahnya. Dia tahu apa yang terbaik untukku.
"Jadi, kamu mau ponsel merek apa?"
"Terserah. Apa saja boleh."
"Pilih dong, Sayang...."
"Aku tidak tahu. Mana aku ngerti soal ponsel. Kan--"
"Ssst...." Jarinya menempel di bibirku. "Maaf. Aku mengerti," katanya seraya mengangguk. "Biar aku yang pilih."
"Itu apa?" tanyaku, menunjuk benda yang kumaksud.
Bang Jack mengikuti arah telunjukku. "Itu namanya tablet," sahutnya. "Sejenis ponsel juga."
"Oh." Aku mengangguk-angguk.
"Kamu mau itu?"
"Eh?"
"Kalau mau bilang saja iya, jangan sungkan."
Tapi aku tidak bilang iya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum semringah. Kupikir pasti asyik menggunakan benda canggih yang super lebar itu. Kubiarkan Bang Jack memanggil karyawan toko, berbicara ini itu, lalu bertransaksi: 2 unit ponsel pintar ia belikan untukku dan aku malah jadi kebingungan.
"Kamu butuh ponsel untuk menerima teleponku. Kalau pakai tablet nanti susah," jelasnya.
__ADS_1
Aku mengangguk-angguk. Paham. "Jadi kedua-duanya untukku? Uuuh... baik sekali, sih, Abangku. Aku kan jadi enak. Terima kasih...."
Dengan manis, Bang Jack mengelus kepalaku. Dia tersenyum senang lalu berkata pelan di depan wajahku, "Nanti kutunjukkan sesuatu yang lebih enak."
"Abang...," pekikku. Dia membuatku gemas.
Dan seperti biasa, Bang Jack tertawa sampai terkekeh-kekeh.
"Dasar nakal!"
"Tidak apa-apa, dong. Kan nakalnya hanya padamu."
"Aku ingin dinikahi. Hanya dengan itu aku bisa menilai keseriusanmu."
Bang Jack mengangguk. "Aku mengerti," katanya.
"Kamu tidak mengerti sepenuhnya," kataku, lalu aku bicara lebih pelan, "Aku bukannya sok bersih atau merasa sebagai wanita yang berharga. Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Bukan seseorang yang berharga apalagi istimewa. Tapi aku tidak akan pernah mau menjadi sampah yang terhina yang bisa kamu pakai dan akhirnya kamu buang begitu saja. Setidaknya, jika aku dinikahi, dan jika nanti kamu bosan padaku, lalu kamu menceraikan aku, kan setidaknya aku bisa menyandang status sebagai janda, bukan sekadar gadis yang sudah tidak perawan akibat pergaulan bebas. Hidup itu tidak selamanya mulus, ya kan? Aku bersyukur sekali tadi pagi listrik di apartemen sempat konslet. Kalau tidak--"
Ah, lagi-lagi jarinya menempel di bibirku. "Aku mengerti. Sangat sangat paham. Oke?"
"Tapi kamu jangan menilaiku sok meninggikan derajatku, lo, ya. Aku tidak bermaksud...."
Bang Jack menggeleng lagi. "Tidak. Tidak sama sekali. Aku tahu, ini hanya tentang kehormatanmu sebagai seorang perempuan. Kamu tidak ingin menjadi sampah yang tidak berharga apalagi sampai terbuang. Aku paham, kok. Maafkan aku kalau kata-kataku seringkali membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya bercanda. Serius, aku hanya bercanda. Maaf, ya?"
Aku mengangguk. "Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku membicarakan hal seperti ini di tempat umum. Aku... aku hanya terbawa suasana. Maafkan aku."
Bang Jack balas mengangguk. "Well, tidak usah dibahas lagi, oke?" Dia mengambil belanjaan kami dari atas etalase lalu menggenggam tanganku dan menggandengku, kami pergi dari sana.
Sekarang, kami masih berada di antara barang-barang elektronik. Bang Jack mengajakku membeli lampu yang bisa menyala di saat listrik padam, juga lampu-lampu hias seperti senter yang menggunakan daya baterai. Ya Tuhan, dia perhatian sekali.
"Tidak akan ada lagi kegelapan di sekitarmu," katanya.
Sungguh, kali ini dia membuatku benar-benar merasa terharu. Selama ini di kampung aku hanya ditemani pelita berbahan bakar minyak tanah. Tapi sekarang, pria ini memberiku lampu hias yang cantik, bahkan tanpa aku memintanya. Meskipun ini hanyalah tergolong perhatian kecil di mata orang lain, tapi bagiku ini luar biasa. Dia satu-satunya orang yang mau mengerti phobia yang kualami. "Terima kasih," gumamku. "Aku suka, dan aku terharu. Kamu... kamu sangat perhatian."
"Aku cinta padamu," katanya tiba-tiba, kemudian tangan kokoh itu menangkup tulang pipiku dan dia menatapku dengan penuh cinta. Jelas aku bisa merasakannya. "Jangan merasa rendah lagi, ya. Bagiku kamu sangat berharga, dan kamu yang paling istimewa. Aku akan menikahimu awal bulan depan. Aku janji."
__ADS_1
Ya ampun, sesak napasku dibuatnya. Dia terlalu manis.