Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Mengalahkan Ego


__ADS_3

Dengan sayang, Bang Jack memelukku erat-erat. Kurasakan tangan kokoh itu mengelus punggungku sementara kami duduk bersandar di sofa. Untung saja sebelum bercerita tadi aku bisa mengulur waktu sedikit, aku sudah selesai mencuci piring kotor, dan sudah menyimpan semua buah dan makanan ke lemari es, kalau tidak, aku sudah tidak mood lagi untuk melakukan hal lain. Aku tahu pasti akan begini akhirnya. Aku tidak mungkin tidak menangis ketika aku harus menceritakan kisah kelam itu kembali. Aku sudah mati-matian untuk tidak mengingat-ingat atau memikirkan kejadian tragis itu lagi. Aku ingin hidup bahagia, ingin hidup dengan baik seperti yang diinginkan oleh ayahku. Dan aku selalu berusaha untuk itu. Berusaha untuk memenuhi keinginan ayahku. Walau aku tahu, cerita kelam itu tidak akan mungkin bisa hilang dari ingatanku.


"Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu," kata Bang Jack. Dia masih mengelus punggungku dengan telaten. "Dan aku salut, aku bangga padamu, kamu sangat kuat. Kamu hebat karena kamu bisa melalui semua yang terjadi tanpa harus kehilangan kewarasan. Aku tahu itu sama sekali tidak mudah. Kamu hebat."


Seperti kucing, aku menyuruk ke dada bidang Bang Jack lebih dalam. Mencari kenyamanan. "Terima kasih atas pujiannya," sahutku. "Aku bisa seperti ini berkat ayahku. Semua kulakukan demi dia. Demi memenuhi permintaannya. Walaupun... sebenarnya aku sudah sangat lelah. Sangat lelah menghadapi takdirku yang selalu saja sial."


"Hei, jangan bicara seperti itu."


"Memang begitu kenyataannya, ya kan?"


"Ya, tapi kan...."


Kuhela napas dalam-dalam. "Tidak usah dibahas lagi, ya? Aku lelah. Dan... yeah, maafkan aku kalau aku cengeng."


Bang Jack menggeleng seraya tersenyum. "Tidak, kok. Aku sudah bilang kalau kamu itu kuat. Kamu sangat kuat."


Well, aku tersenyum.


"Rose?"


"Emm? Ada apa?"


"Aku ingin bertanya."


Beringsut sedikit. Kulepaskan diriku dari pelukan Bang Jack dan menatap ke wajahnya. "Mau tanya apa?"


"Emm... tapi kamu harus berjanji dulu."


"Janji apa?"


"Janji untuk bersikap bijak. Jangan histeris. Dan jangan kekanakan."


Hmm... nampaknya dia sangat serius sekali.


"Janji?"


"Baiklah. Aku janji. Abang mau tanya apa?"


"Seberapa benci kamu terhadap polisi?"


"Eh?"


"Seberapa benci?"


"Aku... aku sangat membenci polisi."


"Kenapa? Hanya karena satu orang polisi, kamu sampai membenci semua polisi di dunia ini?"


"Tidak. Bukan satu. Ada banyak," bantahku. "Ada beberapa orang polisi. Mereka membela, mereka membenarkan apa yang dilakukan oleh bajingan itu. Entah mereka tahu atau tidak kebenarannya, tapi mereka membela temannya. Mereka semua ikut memfitnah ayahku. Mereka jahat! Aku benci mereka semua."


Bang Jack mengangguk. "Tapi tidak semua polisi di dunia ini, kan, Rose? Tidak semuanya bersalah padamu."


"Aku tahu. Tapi...."

__ADS_1


"Rose...."


"Mereka semua salah...."


"Tidak, Rose."


"Sama! Mereka semua sama! Mereka bajingan!"


"Sayangku...."


Naik pitam. Pembelaan Bang Jack membuatku marah. "Kenapa?" raungku. "Aku tidak pernah menemukan polisi yang baik. Mereka semua--"


"Yang di depanmu ini baik!"


"Abang...?"


"Maksudku... ayahku. Ayahku polisi yang baik."


"Ayahmu? Ayahmu seorang polisi? Kamu... kamu anak seorang polisi?"


Bang Jack mengangguk, bersamaan dengan aku yang mundur, menjauh darinya.


"Aku benci polisi!"


"Tidak. Itu hanya mindset-mu yang salah."


"Mereka yang salah, Bang! Mereka!"


Ya Tuhan, aku mulai tak terkendali, meski lelaki di depanku itu berusaha untuk tetap tenang.


"Rose?"


"Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin?"


"Untuk apa? Ayahku sudah meninggal."


"Tapi tetap saja kamu anak seorang polisi! Darah seorang polisi mengalir dalam tubuhmu! Kamu pasti juga bejat seperti mereka, ya kan?"


"No! Jangan memukul rata semua orang hanya karena kesalahan beberapa orang. Ayahku polisi yang bersih. Dia bahkan gugur dalam tugas karena dia berpegang teguh untuk menjaga negaranya. Dia... dia bersih." Dia kembali menghela napas dengan sesak. "Pergilah ke kamarmu. Kamu tenangkan dirimu, dan jernihkan pikiranmu. Kita bicara lagi nanti."


Oh, Tuhan. Ada apa ini? Dia marah kepadaku? Atau kenapa? Jelas ada amarah di sana, di matanya.


"Abang?"


Dia mengabaikanku, lalu pergi ke beranda.


Di sana, Bang Jack berdiri. Kedua tangannya mengepal keras penyangga besi dengan kepala tertunduk. Bisa kulihat emosi menguasai jiwanya.


"Abang?" panggilku, namun dia hanya menoleh dari balik bahunya.


Aku tahu, aku bersalah. Seakan-akan aku tadi baru saja menyiramkan air garam di atas lukanya yang menganga di sana, di dalam jiwanya.


Kuhela napas dengan berat. Aku mesti bisa mengalahkan egoku, demi dia. Dengan perasaan waswas, kuberanikan diri untuk menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Aku minta maaf," kataku.

__ADS_1


"Aku tidak butuh permintaan maafmu, Rose. Aku butuh pengertianmu. Aku butuh kamu menurunkan egomu. Bersikap bijaklah atas segala sesuatu. Hanya itu."


Hmm... aku mengangguk. Aku tidak punya pilihan. Aku tidak mau egoku membuat hubungan kami jadi hancur. Aku tidak boleh egois, karena aku hanya memiliki Bang Jack. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia. Alangkah bodohnya aku kalau aku bertahan dengan sikapku yang seperti ini dan akhirnya aku bisa kehilangan dia. Tidak. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku akan mempertahankan hubungan kami, mempertahan dirinya -- meski aku harus melawan egoku sendiri.


"Aku minta maaf. Aku janji, aku akan... aku akan bersikap bijak. Aku akan menuruti apa yang kamu mau. Please... maafkan aku? Aku salah."


Ah, syukurlah, Bang Jack kembali melunak. Dia berbalik dan balas memelukku.


"Janji?"


Aku mengangguk.


"Dengarkan aku. Tidak semua polisi itu jahat. Tidak semuanya bejat. Percaya padaku. Contohnya ayahku. Kamu tahu, ayahku tewas ditembak oleh komplotan pengedar narkoba. Dia diminta bekerja sama untuk tidak menangani kasus kriminal besar para pengedar itu. Atasannya sendiri yang meminta, dia menawarkan imbalan besar pada ayahku. Tapi ayahku menolak. Alhasil, di perjalanan pulang, ayahku ditembak, dan tewas. Tapi aku tidak menyalahkan semua polisi untuk hal ini. Karena tidak semua polisi itu bejat. Tidak semuanya. Oke, Sayang?"


Kuanggukkan kepalaku sekali lagi.


"Bagus. Gadisku yang penurut."


"Demi kamu."


"Sekarang berjanjilah dengan takzim."


"Abang...!"


"Rose?"


"Iya, iya. Aku janji, aku tidak akan membahas hal seperti ini lagi. Aku tidak akan memperdebatkan soal ini lagi. Aku akan selalu menuruti perkataanmu. Aku janji. Maafkan aku, ya?"


Bang Jack mengangguk. "Terima kasih. Aku pegang janjimu, ya. Jangan nakal lagi?"


"Iya, Abang. Aku janji."


Tapi Bang Jack malah terkekeh-kekeh. "Omong-omong, kamu takut kehilangan aku, ya?"


Eh?


"Kamu takut kuputuskan karena kita berbeda pendapat? Hmm?"


"Abang...!" aku memekik. "Tidak lucu! Percaya diri sekali, sih! Dasar!"


"Memang." Dia kembali memelukku. "Aku bisa membaca hati dan pikiranmu."


Ah, terserahlah. Memang nyatanya begitu. Aku tidak mau kehilangan dia. Abang Jack-ku tersayang.


"Sayang?"


"Emm?"


"Sudah malam. Ngamar, yuk?"


"Eh? Abang...!"


Dasar gila!

__ADS_1


__ADS_2