
"Rose? Sayang? Hei, bangun."
Abang? Bang Jack? Itu Abang? Abang ada di sini?
Aku mendengar suaranya, suara Bang Jack. Namun mataku masih terperangkap dalam rasa kantuk yang teramat.
Ketika aku berhasil membuka mata, wajah tampan Bang Jack hadir di pelupuk mata. Aku berusaha untuk bangun, tetapi...
"Ouch...! Sakit." Kepalaku terasa sangat berat, aku kembali terbaring lemah di ranjangku.
Jelas kondisiku membuat Bang Jack jadi khawatir. "Kamu kenapa?" tanyanya.
Aku menggeleng-geleng, berusaha mengingat kembali apa yang terjadi padaku. Semalam, setelah aku mencuci perabotan kotor bekas kami makan malam, aku duduk di sofa ruang tamu, menunggu James yang sedang bicara di telepon dengan seseorang. Setahuku kami sudah bersiap untuk pulang. Dan aku tahu persis, semalam aku tak hentinya menguap menahan kantuk. Dan sekarang...
Mataku menyapu seisi ruangan. Benar, aku berada di dalam kamarku. Dan aku, kuperhatikan diriku, aku terbungkus selimut.
Jangan-jangan...?
Aku meraba tubuhku, ke dada, polos. Ke bawah, polos. Aku mulai gelisah. Air mataku menggenang, dan aku tahu aku akan menangis.
Sekarang bukan lagi perihal keperawananku atau soal rasa jijikku terhadap diriku sendiri, tetapi ini tentang keberadaanku, ada Bang Jack di hadapanku, perasaannya pasti sangat sakit melihatku -- kekasihnya -- dalam keadaan seperti ini. Sudah, bahkan baru saja disentuh oleh pria lain, masih telanjan*, pula! Terlebih lagi di sini, di dalam kamar ini: kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin untuk kami berdua. Tapi kenyataan ini?
James biadab! Keterlaluan! Aku membencimu, James....
"Tidak apa-apa," kata Bang Jack. Suaranya serak dan matanya berkaca. "Jangan dipikirkan, ya? Aku tidak apa-apa." Dia menunjukkan kertas surat yang kutulis untuknya yang sekarang sudah berada di tangannya. Dia sudah membaca suratku.
Oh Tuhan... aku malu padanya. Aku tetap menggeleng dengan wajah bersimbah air mata.
"Aku ingin ke kamar mandi," isakku.
Dengan keliyengan, aku pun bangkit, terseok-seok menuju kamar mandi. Lalu, dengan tubuh terbungkus selimut yang langsung kutanggalkan, aku menatap tubuhku di cermin. Jejak-jejak merah di tubuhku semakin bertambah banyak. Dan di bawah sana, di organ kewanitaanku, cairan putih lengket belepotan di permukaan kulitku.
Melesak. Aku menangis sesenggukan. Perasaanku tidak akan sehancur ini kalau saja saat ini tidak ada Bang Jack di sini, dia tidak melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku bahkan kalah cepat dengan pergerakan James. Yang dia lakukan sungguh di luar dugaanku. Aku mengira kami akan benar-benar pulang setelah selesai makan malam itu, tapi dia malah mencampurkan obat tidur ke dalam gelasku. Untuk apa aku menulis surat dan memberitahu Bang Jack tentangku melalui tulisan, kalau nyatanya James ingin memberitahu Bang Jack secara terang-terangan seperti ini?
Bedebah! Sungguh tidak berperasaan pria itu.
"Rose, please... berhentilah menangis. Tahan emosimu," pinta Bang Jack dari balik pintu kamar mandi. "Jangan siksa aku dengan tangisanmu, Rose. Aku tidak bisa melihat air matamu. Aku sakit, Rose. Aku sakit...."
Yeah, Rose, semua sudah terjadi, sudah terlanjur. Jangan siksa pria itu dengan kesedihanmu. Jangan.
"Rose...."
Aku menghela napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diriku sendiri. Kuusap air mataku lalu menyahut, "Sebentar, Bang. Aku... aku mau mandi dulu."
Beberapa menit, aku menghabiskan waktu untuk membersihkan diri, sekalian mandi kilat. Setelah itu, aku keluar dengan rambut terbungkus handuk, dan tubuh kembali terbungkus selimut. Aku keluar dari kamar mandi.
Di ujung tempat tidur, Bang Jack duduk menghadap ke pintu kamar mandi, dia langsung berdiri saat aku membuka pintu.
"Kamu tidak apa-apa, kan?"
Aku menggeleng. "Tidak," kataku, tapi mata tak bisa menipu diri. Air mataku menetes lagi.
__ADS_1
"Sayang...." Bang Jack memelukku. Selama sekian detik, mungkin menit, kami berpelukan dalam kesedihan. "Tidak apa-apa. Apa pun dirimu, apa pun yang terjadi padamu, bagiku kamu tidak akan pernah tercela. Cintaku tidak akan pernah berubah, Rose. Aku sangat mencintaimu."
Aku bahagia mendengarnya, namun juga sakit. "Abang?"
"Emm?" Bang Jack melepaskan pelukannya.
Dan aku melepaskan selimut dari tubuhku.
"Rose?" Pria itu tertegun, matanya nyaris terbelalak: terkejut sekaligus keheranan.
Aku maju, merapatkan diri ke tubuhnya. "Please, sentuh aku," pintaku.
"Tapi, Rose...."
"Jangan menolakku, tolong?"
"Bukan. Bukan seperti itu. Tapi--"
"Di sini," --aku mengangkat tangan Bang Jack, menaruhnya di dadaku, menggerakkannya, memberikan sentuhan lembut pada dadaku dengan telapak tangannya-- "dia menyakitiku di sini. Dia merema* dadaku dengan kuat. Dia tidak peduli aku kesakitan. Dia mengisa*, bahkan menggigitku dengan gila. Sakit, Bang. Sangat sakit. Tolong sembuhkan lukaku. Tolong?"
Dia menatapku dengan iba. "Ya," katanya. Dia mulai membelai dadaku dengan mesra, mengelus dengan sayang, lalu menciuminya.
"Lakukan dengan kasar, please," sengalku. "Denganmu aku tidak akan merasakan sakit."
Dengan anggukan, Bang Jack memenuhi permintaanku. "Aku akan liar bersamamu," bisiknya.
Aku tersenyum, aku tertawa, bersama Bang Jack aku merasa sangat bahagia. Aku menikmati momen indah ini. Meresapi cinta pria itu dari hangat sentuhannya. Nikmat sentuhan Bang Jack terasa sampai ke relung hatiku.
"Hu'um."
"Nikmat?"
"Yeah."
"Mau lebih?"
"Tentu. Selebih-lebihnya."
"Well, untukmu."
Ouch! Dia mengisa* tengkuk leherku, seperti yang James lakukan. Sama kasar dan sama kuatnya.
"Sakit?" tanya Bang Jack.
Aku menggeleng, dan tersenyum. "Tidak," kataku. "Sama sekali tidak sakit. Tapi nikmat. Aku merasa enak."
"Bagus. Satu kali lagi, ya."
Bang Jack nyengir edan, lalu ia mengisa* tengkuk leherku sekali lagi, di bagian lain. "Eummmmm...." Kenikmatan itu membuat saraf-sarafku tegang dan serasa ingin putus.
"Mau aku menggila lebih dari ini?"
__ADS_1
Aku mengangguk. "Jangan bertanya, tolong. Lakukan apa saja yang Abang inginkan. Cintai aku. Gilai aku. Buat aku bahagia, please? Aku mohon?"
"Apa pun untukmu, Sayang."
Yap. Kami menggila bersama. Jemari Bang Jack bergerak liar di dada. Dan atas nama cinta, aku tidak mengeluh sakit untuk cengkeramannya yang kuat, bahkan *sapannya yang buas, ganas dan liar. Aku menerima semua perlakuannya sepenuh hati. Aku rela, rela ia *enjamahku dengan ekstra, dengan gila.
"Abang... aku bahagia!" pekikku.
Bang Jack hanya tertawa menyaksikan *ejalangank*, lalu dia menanggalkan kausnya dan menggendongku plus menghempaskan diri kami di atas ranjang.
"Untukmu, Cinta," Bang Jack kembali berbisik, lalu ia turun ke kakiku. Di sana, di antara kedua pahaku, dia menciumku dengan mesra, lalu lidahnya pun menggelitik dengan nakal, dan, dia membenamkan bibirnya dalam-dalam, kemudian...
Ukh! Gilaaaaa...
"Abaaaaang...."
Bang Jack terkekeh. "Enak? Hmm?"
"Enak. Lebih dari yang bisa kukatakan," lengkingku. Aku tertawa saking senangnya. "Lagi. Beri aku lebih. Aku ingin yang lebih."
Emosi menguasai diriku. Pelampiasan dari egoku yang terlanjur sakit dan terluka parah. Air mataku menetes lagi.
"Ada apa?" tanya Bang Jack, dia mensejajarkan dirinya denganku.
Aku menggeleng. "Aku tidak mau hamil anak James. Dia membawaku ke dokter kandungan, dia mengajakku program hamil. Aku... aku tidak mau hamil anak James. Aku tidak mau."
"Ssst... jangan menangis. Biarkan saja bagaimana takdir menentukan. Yang pasti, aku akan berusaha menyelamatkanmu dari sarang penjahat itu. Oke?"
Penjahat -- kata itu, seketika membuatku teringat siapa Bang Jack yang sebenarnya. "Kamu polisi?"
Bang Jack menatapku dalam-dalam. "Jangan dibahas, tolong? Rahasiakan identitasku, aku mohon?"
"Ya, pasti." Aku mengangguk-angguk.
Bang Jack tersenyum. "Terima kasih," ucapnya. "Aku akan membebaskanmu. Tapi aku butuh waktu cukup lama. Aku harus bergerak sesuai rencana dan arahan dari atasanku. Menunggu waktu yang tepat. Jangan tanya bagaimana dan kapan, kamu tidak perlu tahu apa-apa. Kamu mengerti itu, kan?"
"Yeah, tentu. Aku hanya akan menunggu. Aku tidak akan merecoki apa pun rencanamu."
Dia tersenyum lagi, tapi kali ini senyuman nakal, sebabnya tangannya sudah menelusur ke bawah, membelaiku dengan mesra. "Aku menginginkanmu, Rose. Izinkan aku menyatu denganmu, aku mohon? Obati lukaku, dan aku akan mengobati lukamu."
"Ah, gombal. Memangnya aku akan melarangmu?"
Hah! Bang Jack tertawa, pun aku. Kami bahagia, melebur dalam canda tawa ini, dalam momen mesra ini. Lalu Bang Jack bangkit, turun dari ranjang, dan aku mengikutinya. Aku duduk di tepi ranjang, membuka ikat pinggangnya, ritsleting, kemudian menurunkan celananya plus *alamannya tanpa sisa.
Deg-degan. Aku melihat dirinya secara utuh. Dia yang kudamba, dan aku menyentuhnya. Dengan cinta, aku merasakan ia hangat dalam genggamanku, dengan telapak tanganku, tanpa rasa jijik sedikit pun.
"Jangan membuang waktu." Bang Jack melepaskan tanganku darinya, lalu ia membaringkanku dan ia merangkak naik ke atasku. Untuk sesaat kami berciuman seraya Bang Jack mengarahkan dirinya kepadaku. Di sana, tepat di inti diriku. "Aku mencintaimu, Rose," bisiknya.
Oh, indahnya dunia...
Andai James tidak datang dan mengacaukan segalanya.
__ADS_1
Berengsek!