Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Situasi Yang Menakutkan


__ADS_3

Terlonjak. Bang Jack buru-buru menyingkir dari atas tubuhku dan turun dari ranjang. Pun aku, kupikir itu saat-saat terakhir kami hidup di dunia ini. Dengan ketakutan yang membuncah, aku bangkit dan turun dari ranjang lalu memunguti pakaianku, aku pun berlari masuk ke ruang ganti.


Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan, please... aku mohon, aku mohon lindungilah kami. Aku menghela napas dalam-dalam. Well, tenang, Rose... tenanglah. Bersikaplah santai dan sewajarnya. Seperti biasanya. Jangan gugup apalagi bersikap berlebihan, jangan membuat James jadi curiga.


Tetapi... ya ampun... celan* *alamku tertinggal.


Please... semoga James tidak melihatnya tercecer. Kalau tidak, habislah aku.


Sesaat kemudian, terdengar suara pintu berderek. Lalu, samar-samar aku mendengar suara Bang Jack dan James, mereka sedang bicara namun aku tidak dapat mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, sepertinya mereka berdua berada di luar kamar. Namun, sesaat kemudian, baru aku bisa mendengar jelas suara mereka, nampaknya Bang Jack sudah kembali masuk ke kamarku bersama dengan James.


"Di mana Rose?" tanya pria yang berstatus sebagai suamiku itu.


"Dia di ruang ganti," Bang Jack menyahut dengan santai. "Dia baru saja selesai mandi. Aku sudah melarangnya bangun dari tempat tidur, tapi dia ngotot. Katanya keadaannya sudah agak mendingan."


"Yeah, syukurlah kalau begitu. Aku sangat mengkhawatirkannya, sebab itu aku cepat-cepat menyelesaikan meeting-ku dan segera pulang. Aku tadi juga sempat mampir ke apotek menebuskan obat untuknya. Tadinya aku ingin menyuruh orang lain, tapi kupikir biar aku saja. Aku suaminya."


"Terima kasih," kata Bang Jack. "Aku senang Anda sangat peduli pada adikku. Maaf jika dia membuat Anda repot. Dia memang... ya begitu, daya tahan tubuhnya lemah. Tapi puji Tuhan, dia mendapatkan suami yang sangat peduli padanya. Aku sangat bersyukur untuk itu."


Ya ampun... sungguh, mereka dua lelaki yang suka sekali berceloteh.


"Sudah seharusnya, Kakak Ipar. Itu sudah menjadi kewajibanku. Rose sudah menjadi istriku dan aku sangat mencintainya. Sebagai seorang suami aku akan menjaganya dengan baik. Aku berjanji padamu."


Fix! Aku menggeleng-gelengkan kepala seraya mengenakan pakaianku. Entah kenapa, aku merasa ucapan James tidak terdengar tulus. Seolah-olah dia memang sengaja berbicara seperti itu untuk membuat Bang Jack cemburu padanya.


Tapi kenapa? Kenapa aku merasa seperti itu? Bukankah James mengira kalau kami berdua ini benar-benar kakak dan adik kandung? Atau ini hanya sekadar perasaan tidak nyaman-ku saja karena sejatinya Bang Jack adalah kekasihku?


Mungkin. Mungkin saja. Please, jangan emosi, Bang. Aku mohon Abang sabar mendengar perkataan Tuan James.


"Yeah. Sekali lagi terima kasih. Adikku gadis yang beruntung."


Euwwwww...!


"Sudahlah. Kakak Ipar tidak perlu berterimakasih terus. Kan sudah kubilang, itu sudah kewajibanku karena aku suaminya. Akan kujaga milikku dengan baik."


Hmm... milikku. Sekarang aku yang merasa gerah.


"Syukurlah," kata Bang Jack. "Kalau begitu aku sudah tenang sekarang. Adikku bersama lelaki yang tepat."


Omong kosong!


"Semuanya karena cinta. Begitulah sejatinya seorang pria, bukan? Jika ia sudah jatuh cinta dan merasa menemukan seseorang yang tepat untuknya, apa pun akan ia lakukan demi cinta. Seperti yang kulakukan, ya kan, Kakak Ipar?"


Huh! Apa-apaan, sih, mereka berdua?


Aku tidak mendengar jawaban iya dari Bang Jack, tapi aku yakin, ia pasti terpaksa mengangguk.


"Omong-omong, apa yang istriku kerjakan di ruang ganti? Lama sekali dia. Sebentar, ya, Kakak Ipar. Aku takut dia kenapa-kenapa di dalam sana."


Deg!


"Sayang...," James berseru memanggilku seraya membuka pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, pria itu masuk, lalu ia pun langsung menutup pintu di belakang punggungnya. Dan -- menguncinya dengan aman.


Ya Tuhan, kenapa dia malah masuk ke sini?


"Kamu sedang apa? Kok lama sekali?"

__ADS_1


Aku sedang berpura-pura merapikan dress yang kukenakan. "Maaf. Aku hanya sedang memilih pakaian mana yang ingin kukenakan. Apa yang ini bagus?" tanyaku seraya unjuk diri. "Apa ini pantas untukku?"


Hmm... dasar pria yang pandai memanfaatkan situasi. Dia malah mendekat dan merapatkan dirinya kepadaku. Dengan solid, kedua tangan kokoh James melingkar sempurna di pinggangku, dan ia berbisik, "Kamu selalu cantik. Mau memakai pakaian apa pun, kamu tetap terlihat cantik. Sangat cantik." Bibirnya menelusuri leherku.


"My James, bisa kita bermesraannya nanti saja? Tolong?"


Ukh!


Mana mungkin dia mau mendengarkanku. "Kamu milikku. Waktumu milikku. Tubuhmu... juga milikku. Apa pun, semuanya milikku."


"Eummmmm...."


Berengsek! Gigi-giginya terbenam lagi di kulit leherku.


"My James, ini sakit. Sakit sekali."


"Sengaja. Aku ingin mendengarmu mengeran* untukku. *engeranglah."


"Auw...!" Gigitannya bertambah kuat. "Sakit, My James," rintihku. "Sungguh. Ini sangat sakit. Tolong jangan--"


"Aku memintamu mengeran*, bukan merintih kesakitan. Aku tidak akan melepaskanmu kalau kamu tidak menuruti perintahku."


Argh! Berengsek!


"Turuti perintahku!"


"Ba--baik. Baiklah."


"*engeranglah."


Aaaaah...! Ingin aku menangis keras-keras. Namun aku tidak ingin mati sekarang. Tidak ingin, sebelum aku dan Bang Jack bisa benar-benar saling memiliki satu sama lain, dalam artian -- aku ingin bercinta dengannya -- dan itu akan membuatku merasa sangat bahagia. Aku tidak ingin mati saat hidupku tak berarti seperti saat ini.


"Emm?"


"Aku cinta padamu."


"Eummmmm...."


Sakit sekali. Namun sebisa mungkin aku mesti menahan suaraku. Aku tidak ingin Bang Jack mendengar suaraku. Aku tidak ingin menambah sakit hatinya karena penderitaan yang kualami ini.


Namun pria di depanku ini gila. Dia malah membawaku -- melangkah -- hingga mencapai pintu. Dia menyandarkanku ke pintu kayu itu dengan mendorongku agak keras hingga menimbulkan suara hentakan keras di belakang punggungku. Rasanya cukup sakit. Dan... kemudian....


"Ouch!" aku tersentak dan tak sengaja mendesa* ketika James menghentakkan pinggulnya kepadaku. Hentakan yang sangat kuat. "Ouch! Ouch, My James. Please--"


Dia menahan bibirku dengan tangannya. Tepatnya -- membekap mulutku. "Ssst... aku ingin mendengar *rangan, juga *esahanmu. Bukan penolakan. Paham?"


Lagi, dia mengancamku dengan halus.


"Ukh!"


Hatiku menangis. Suara *esahanku beradu dengan hentakan di daun pintu. Pria di balik pintu ruang ganti ini pasti sangat sakit hatinya karena mendengar kehebohan tertahan di dalam ruangan kecil ini.


Maafkan aku, Bang Jack....


Srettt...! James mengoyakkan dress-ku dan melemparkannya ke lantai.


"My James...."


"Diamlah."

__ADS_1


"Tapi, My James...."


Dia membuka jasnya, lalu kemejanya, dan sekarang, sambil bertelanjang dada, ia menghenyakkan dada bidangnya padaku -- pada dadaku. Dan, kemudian...


Ctek!


Suara itu, tanpa aku harus melihat ke bawah, aku tahu, di antara himpitan tubuh kami, tangan James bergerak membuka ikat pinggangnya, ritsleting, lalu ia menurunkan celana panjangnya, berikut celan* *alamnya. Benda asing itu kembali hidup dan keluar dari kain yang membungkus dirinya.


"Lakukan tugasmu," perintahnya dalam intonasi rendah namun tegas. Dia meraih tanganku, melingkarkan jemariku pada dirinya, lalu menggerak-gerakkan jemariku. "Lakukan sampai selesai. Mengerti?"


Dia memintaku melakukan itu sendiri tanpa bimbingan dari tangannya.


Aku mengangguk. Menurut. Dan seketika itu James melepaskan tangannya dari tanganku.


Kau tahu, perasaanku mengatakan bahwa James saat ini sedang menghukumku. Tapi lagi-lagi aku tidak mengerti apa alasanku hingga aku merasa seperti ini. Kenapa?


"Aku kecewa," katanya tiba-tiba.


Deg!


Praktis tanganku berhenti bergerak. "Mm--ma--maksudnya?"


"Di sini." Dia menangkup sebelah dadaku yang tertutup bra.


Oh Tuhan....


"Ak--aku... aku tidak mengerti."


"Ini sudah tidak utuh."


"Em?"


"Dadamu sudah pernah tersentuh. Iya, kan? Jawab!"


Membeku. Aku malah menangis. Apa yang mesti kukatakan? Apa aku harus mengatakan seperti yang Bang Jack suruh tadi?


"Bagaimana dengan keperawananmu? Jangan-jangan kamu membohongiku? Iya, Rose?"


Aku menggeleng ketakutan. "Tidak. Aku tidak berbohong," isakku.


"O ya?"


"Auwww... sakit...," aku merintih. James mencengkeram sebelah dadaku begitu kuat.


"Kamu tahu, kan, aku benci pada seorang pengkhianat? Berbohong, itu sama saja berkhianat, ya kan, Sayangku?"


"Maaf, maafkan aku. Tapi, tapi kan kamu juga tidak pernah bertanya. Kamu hanya bertanya soal keperawanan. Aku tidak berbohong soal itu. Aku masih perawan. Sungguh. Aku berani bersumpah."


Dia menyeringai, lalu tangannya turun dari dadaku dan malah menyelinap ke bawah, di antara kedua pahaku. Dan, jemarinya, sekarang jemarinya mulai mengelusku dengan pelan.


Aku menggelia*. Geli, namun benci.


"Bagaimana aku bisa percaya?"


"Aku... aku tidak tahu," sengalku.


"Bagaimana kalau aku mengetesnya sendiri? Sekarang? Hmm?"


"Tidak. Tidak. Kamu sudah berjanji. Kamu harus menunggu sampai usiaku sembilan belas tahun. Aku mohon? Tolong?"

__ADS_1


Akankah kali ini dia mendengarkanku?


__ADS_2