
Aku benar-benar memenangkan kepercayaan James meski reaksi James ternyata jauh di luar dugaanku. Aku mengira dia akan tetap akan menjadi sosok yang egois: yang tidak peduli bagaimana perasaanku dan akan terus memaksakan kehendaknya kepadaku. Tidak sama sekali. Dia benar-benar tidak menemuiku dalam waktu yang cukup lama. Sebagai gantinya, dia malah mengirimiku bunga segar setiap pagi, setiap hari. Dia juga meminta suster dari rumah sakit jiwa untuk menghubungiku setiap hari lewat sambungan video supaya aku bisa berkomunikasi dengan Mama. Dan, lebih parahnya, James juga mendatangkan psikiater untukku.
Dalam masa itu, aku tidak bisa berbuat apa pun untuk menarik James kepadaku. Jarak yang ia ciptakan membuatku stuck di tempat. Aku tidak mungkin tiba-tiba mengatakan kalau aku memaafkannya, apalagi memintanya untuk tinggal sekamar bersamaku. Di sisi lain, aku juga tidak bisa bergerak bebas di rumah itu. Pengawasan di rumah itu begitu ketat. Aku pernah menjelajahinya suatu waktu, di mana-mana ada cctv, di setiap sudut rumah, bahkan di area dapur. Selain itu, di sana ada banyak pelayan, gerakku sangat terbatas. Aku tidak bisa menyelinap masuk ke kamar yang ditempati James. Salah langkah, aku bisa berakhir di penjara dengan mudah.
Nyaris putus asa, kesempatan itu akhirnya datang ketika aku jatuh sakit. Aku mual dan sempat pingsan sampai-sampai James memanggilkan dokter untuk memeriksaku. Setelah aku sadarkan diri, aku kembali melihat James ada di dekatku. Sejak saat itu pula dia menemaniku dan merawatku selama aku sakit. Dia menyuapiku makan bahkan dia membantuku mandi. Tetapi jarak itu masih ada, dia tidur di sofa dan tidak pernah makan bersamaku. Dia juga tidak membahas apa pun denganku selain menanyakan keadaanku dan apa yang kubutuhkan. Pun di saat aku bertanya aku sakit apa, James hanya mengatakan kalau aku terlalu banyak pikiran dan asam lambungku naik. Katanya, itu yang disampaikan oleh dokter kepadanya.
__ADS_1
Empat hari merawatku dan tinggal di kamar yang sama denganku, akhirnya untuk pertama kalinya James memesan kopi pada pelayan dan minta diantarkan ke kamar. Sebelum ia sempat meminum kopinya, ponselnya berdering. Ia pergi keluar kamar untuk menerima telepon itu. Di saat itulah aku memenuhi misiku yang lama tertunda. Aku menyimpan obat tidur serbuk di dalam wadah mekap-ku. Seperti yang aku dan Bang Jack rencanakan, James tidak mungkin mengira kalau aku menyimpan obat tidur di dalam mekap, apalagi untuk memeriksanya dan menyingkirkannya seperti ia menyingkirkan obat tidurku yang masih dalam bentuk tablet. Dia tidak akan menduga hal itu.
Sejujurnya, walau aku sudah mencampurkan obat tidur berdosis tinggi ke dalam cangkir kopi untuk James, aku ragu untuk melakukan ini. Aku merasa tidak sanggup untuk melakukan tindakan kriminal. Terlebih, ketika James sudah kembali ke kamarku dan meminum kopinya, aku melihat ia mengantuk lalu tertidur di sofa, perasaan bersalah itu kian merongrongku dari dalam.
Tidak ada jalan untuk kembali, Emilia. Hidupmu tidak boleh terus seperti ini. Inilah waktunya.
__ADS_1
Ayo, Emilia. Lakukan.
Dengan memberanikan diri, aku pun beranjak dari tempat tidurku dan mengunci pintu kamar itu. Dengan berusaha keras, aku menyeret tubuh besar James dan membawanya ke kamar mandi, melepaskan pakaiannya supaya tidak ada pakaian yang basah, lalu aku menyandarkannya di dalam bak dan menyalakan keran air.
Tetapi aku tidak berani melihatnya: aku tidak berani melihat air menenggelamkannya dan menghentikan pernapasannya. Aku pun keluar dari sana, meninggalkan air yang mulai meninggi dan memenuhi bak mandi bersama James yang sedang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Tidak ada jalan untuk kembali. Selamat tinggal, James. Selamat tinggal.