Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Pejantan Liar


__ADS_3

Keesokan paginya aku bangun perlahan. Sambil meregangkan tubuh, aku memandang ke sekeliling lalu berusaha duduk. Dengan kening berkerut, kuulurkan tangan untuk menyapu rambut dari wajah. Aku senang menyadari saat ini aku tinggal di tempat yang nyaman, apartemen mewah dan berkelas, bukan lagi di rumah paman dan bibiku yang selalu terasa bagaikan hidup di neraka.


Turun dari tempat tidur, aku berjinjit dan berpindah duduk di depan cermin, kusisir rambutku lalu mengikatnya dan bergegas menuju dapur.


Dan, hmm... Bang Jack mendongak dari wastafel ketika aku datang dan menghampirinya. Dia sedang mencuci daun bawang. "Pagi, Sayang."


"Pagi, Abang Sayang."


Dia tersenyum. Rupa-rupanya Bang Jack sudah memecahkan selusin telur dan hendak mengocoknya.


"Mau bikin telur dadar?"


"Hu'um. Cuma itu yang paling gampang."


"Yakin rasanya akan pas?"


"Emm... mungkin. Nyontek resep dari internet, sih."


"Oooh... pantas saja kamu berani nyoba masak. Sini, biar kuambil alih. Aku saja yang kocok, ya. Kamu santai saja, dijamin rasanya akan nikmat, enak, dan kamu akan ketagihan."


Iyuuuh....


Bang Jack tertawa pelan. Lalu tertawa dan tertawa lagi lebih kencang hingga matanya merah dan berkaca. "Sori, Sayang. Tapi kalimatmu membuat otakku berpikir ke arah lain."


"Abang... ini masih pagi. Tolong, ya, otaknya dikondisikan."


Tapi tidak bisa...! Bang Jack terus saja tertawa geli. Dasar lelaki.


Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku mengocok telur, menambahkan sedikit garam, lada, dan sedikit bubuk cabe. Tak lupa kutambahkan serutan wortel dan irisan daun bawang yang sudah disiapkan oleh Bang Jack dan aku siap memasak.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud apa-apa, kok. Tapi omong-omong, tanganmu terampil juga, ya. Gerakan tanganmu lincah, dan kamu bisa mengocok-ngocok dengan cepat dan dengan ritme yang sempurna."


Argh!

__ADS_1


Dasaaaaar...! Dia membuat otakku juga tersetir ke arah sana. Kukulum bibir untuk menahan tawa yang nyaris saja terlepas. Ukh... tidak boleh. Aku mesti kembali fokus dan mengerahkan segenap konsentrasiku hingga aku bisa menyelesaikan kocokan telurku.


Jangan menanggapi guyonan konyol si pria dewasa itu, Rose. Kalau tidak, akan berbahaya akhirnya.


Huh!


Kunyalakan kompor dan kutaruh penggorengan dengan sedikit minyak di atasnya dan kutuangkan kocokan telurku di atas api yang menyala sedang.


"Sana, gih! Lakukan sesuatu yang lain. Olahraga, kek. Supaya otaknya Bang Jack sedikit lempeng."


Tapi cengar-cengirnya malah semakin jadi. "Baiklah kalau begitu. Tapi omong-omong, olahraga apa, ya, enaknya? Bagaimana kalau kita olahraga berdua? Mau, tidak?"


Ya ampun... pria gesrek itu. Dia tersenyum nakal dengan kilatan pemangsa terpancar di matanya.


"Maksudmu olahraga apa? Hmm? Olahraga di kamar? Iya?"


"Boleh juga. Aku mah ayo saja kalau kamu yang mengajak. Aku bersedia. Apa pun untukmu, Sayang."


"Iiiiih...!" aku memekik gemas. "Ingat, lo, pada janjimu. Jangan sentuh aku sebelum kamu menikahiku. Sana, pergi, lakukan sesuatu yang lain."


"Baiklah, Cinta. Aku ikut apa katamu."


Ya Tuhan... bukannya langsung pergi, Bang Jack malah berjalan menghampiriku, dia bicara pelan di telingaku hingga membuatku bergidik. Bahkan...


Uuuuuh... bibirnya menempel lama di sisi belakang tengkuk leherku. Ya Tuhan, aku meremang. Getaran aneh seketika menjalari tulang punggung hingga ke tengkuk leherku. Pria itu membuat gadis perawan ini merasakan sensasi asing yang menyenangkan akibat sentuhan mesra dari bibirnya.


"Aku cinta padamu," bisiknya sekali lagi, lalu dia berjalan keluar dari dapur sambil tersenyum-senyum.


Kau bisa membuatku gila, Bang Jack....


Kuhela napas dalam-dalam untuk meredam sisa-sisa getaran yang melemaskan persendianku.


Tenang, tenang, tenang. Aku mesti menyelesaikan masakanku.

__ADS_1


Well, sembari menunggu telurku matang, aku berjalan ke arah lemari es dan mengambil beberapa butir kentang berukuran besar dan membawanya ke wastafel. Aku hendak menggoreng kentang sebagai tambahan asupan gizi untuk kekasihku, bodyguard macho yang kebutuhan makannya di atas rata-rata.


Dan, setelah beberapa menit kemudian, masakanku pun sudah matang dan sudah selesai semua. Lengkap dengan secangkir kopi hitam untuk Bang Jack dan seteko kecil teh untukku. Aku yakin hasil masakanku tidak akan mengecewakan indra pengecapnya.


"Abang Sayang...," seruku memanggil pria dewasa itu, tapi dia tidak menyahut. Rupa-rupanya Bang Jack sedang olahraga push up di beranda belakang.


Ya ampun... tubuh kekar itu. Sungguh menggairahkan! Dia semakin terlihat seksi dengan keringat yang menyembur dari pori-pori kulitnya. Kaus tanpa lengan-pas badan yang melekat di tubuhnya sampai basah karena peluh. Oh, Tuhan, ingin sekali aku menyentuhnya. Menyapukan telapak tanganku dan menghirup aroma jantan dari kulitnya yang panas.


Oh, Bang Jack... kau seksi sekali. Aku menginginkanmu.


Sementara aku terus memperhatikan keseksiannya, Bang Jack menyudahi push up-nya. Dia berbalik, duduk dan menengadah dengan kedua tangan menelapak ke lantai.


"Capek, ya?" tanyaku.


Dia mengangguk, lalu menjulurkan tangannya hingga aku menghampiri dan berniat menariknya berdiri.


Tapi, malah dia yang menarikku. Euwwwww...!


Dasar, ya, Bang Jack. Dengan mudahnya ia menarikku hingga aku mendarat di atas tubuhnya. Dia tersenyum kepadaku sambil menepiskan rambut dari wajahku.


"Ini pagi terbaikku. Dan begitu pula selanjutnya. Hidupku terasa sempurna bersamamu, Rose Peterson," katanya, lalu ia mengecupku lembut.


Kupegangi wajahnya dan aku membalas ciumannya. Aku merasa hidup tak mungkin lebih sempurna lagi jika tanpa dia bersamaku.


"Aku lapar," kata Bang Jack.


Aku mengangguk, aku ingin mengajaknya masuk dan sarapan, tapi dia malah menciumku sebelum kata-kata itu sempat keluar dari mulutku.


Aku terengah, kehabisan napas. Namun, lagi-lagi, sebelum pernapasanku kembali stabil, pria itu memiringkan tubuhku dengan kecepatan setan, dan, dia berhasil menindihku.


Ya ampun, dia mendaratkan lagi ciumannya di bibirku. Panas dan bergairah. Dia membuatku resah, gelisah, namun ingin terus merasakan sentuhannya. Dan, bukan sekadar karena ciumannya, tapi karena berat tubuhnya yang menindihku dengan keseluruhan bobot, juga dengan kedua tangan kekarnya yang berada di bawah punggung dan kepalaku, memelukku erat, aku merasa dia menguasai seluruh diriku dalam dekapannya. Lalu... bibirnya beralih, dia menelusuri lekuk leherku dan bermain-main di telinga. Dan... satu tangannya terbebas, bergerilya nakal membelai kulitku, dengan tangan yang satunya mencengkeram kasar helaian rambutku. Aku... aku merasa ada hasrat yang liar, yang menguasai jiwa kami. Membuat kami lapar dan rakus ingin terus mencicipi, merasai -- betapa nikmatnya cinta yang begitu menggairahkan. Terlebih pada diri Bang Jack, keliarannya yang jantan, dia bergerak buas di atas tubuhku. Menekan, menindih, sangat menguasai, namun sekaligus tertahan.


"Kau menyiksaku," bisiknya, lalu ia berhenti dengan deru napas tidak stabil. Matanya terpejam dengan kening yang menempel di keningku.

__ADS_1


Kusadari, dia hidup dan mendamba di bawah sana. Tersiksa.


__ADS_2