
Dengan perasaan bahagia, aku dan Bang Jack kembali menyusuri lorong-lorong koridor rumah sakit. Aku merasa aman dalam genggaman tangannya hingga kami tiba jua di parkiran. Dia membukakan pintu di bagian penumpang dan mempersilakanku masuk. Kemudian disusul olehnya yang segera duduk di balik kemudi.
Mesin mobil seketika menderum sesaat setelah Bang Jack memutar kunci kontaknya lalu ia mulai mengotak-atik AC di depanku, memastikan kesegarannya langsung menerpa kulitku. Kemudian dia berpaling kepadaku, tepat di depan wajahku.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia tersenyum, lalu...
Oh... dia mencium bibirku dengan lembut. Dapat kurasakan gelombang emosional menguasainya. Setelah beberapa saat, dia melepaskan bibirnya dariku, namun wajahnya masih enggan menjauh.
"Aku mencintaimu," katanya dengan deru napas menyapu wajah dan telapak tangannya yang hangat menangkup lekuk pipi kiriku. "Terima kasih karena kamu sudah bersikap baik pada mamaku."
Aku balas tersenyum. "Sudah seharusnya, kan? Lagipula aku suka perlakuannya kepadaku. Aku senang merasakan bagaimana seorang ibu menyayangiku. Ya... walaupun sebenarnya itu bukan untukku. Setidaknya aku tahu, begitu rasanya."
"Baiklah. Tidak usah dilanjutkan. Nanti kamu malah mewek." Bang Jack kembali ke posisi semula. "Omong-omong, aku juga minta maaf karena tadi Mama bersikap terlalu berlebihan. Dia tadi terlalu senang, jadi... dia sampai menciummu berkali-kali. Aku minta maaf, ya."
Oalah... itu maksud kata-katanya. "Tidak apa-apa, kok," kataku seraya mendekatkan wajahku kepadanya. "Aku tidak mempermasalahkan soal itu. Aku malah suka. Sama seperti rasa sukaku ketika anak lelakinya menciumku. Di sini." Wajahku maju lebih dekat.
Lagi-lagi Bang Jack tersenyum, namun kali ini senyumnya super semringah. Dalam kelebat detik berikutnya, dia menciumku lagi. Bibir kami kembali bertaut. Kurasakan tangan kokohnya mencengkeram rambut di bagian belakang kepalaku, membenamkan wajahku lebih dalam kepadanya. Dan kali ini ciuman itu lebih dalam dan lebih bergairah. Oh, betapa ciuman itu membuai perasaanku.
"Mari kita pulang," ajak Bang Jack, wajahnya masih lima senti di depan wajahku, senyumnya bertambah ceria. Aku tahu apa yang ada di otaknya.
Tapi tidak. Aku menggeleng. "Aku belum ingin pulang," tolakku. "Ajak aku jalan-jalan, ya, please...."
"Mau ke mana?"
"Emm... ajak aku ke mall, ya. Aku belum pernah ke mall. Please, Abang?"
"Baiklah. Apa pun untukmu, Sayangku. Tapi kita makan siang dulu, ya."
Aku mengangguk. Tersenyum senang.
"Emm... kalau kita makannya di dalam mobil, tidak apa-apa, kan? Atau kamu mau ku-booking-kan satu restoran hanya untuk kita berdua? Kita tetap tidak boleh melepaskan masker di tempat ramai."
Ah, itu berlebihan. Cepat-cepat kugelengkan kepalaku. "Kita makannya di mobil saja. Tidak apa-apa, kok."
__ADS_1
"Atau mau ke hotel?"
"Abang...."
"Kenapa?" Dia terkekeh. "Pikiranmu kotor, Sayang!"
Aku memberengut. "Bukan kotor, tapi negative thinking pada otakmu itu kan wajar. Nanti yang ada kamu malah memakan aku. Kamu kan lelaki tiga puluhan yang tangguh dan sedang buas-buasnya, ya kan?"
Dia nyengir. "O ya? Menurutmu aku buas? Hmm?"
"Memangnya tidak? Jelas-jelas kamu itu buas. Sangat buas malah."
Bang Jack tertawa.
"Tapi... kuharap mulai sekarang buasnya hanya padaku, ya. Jangan mencicipi wanita lain lagi. Awas lo!"
Oh, nampaknya lagi-lagi aku salah bicara. Bang Jack menatap aneh kepadaku. "Kamu berpikir kalau aku lelaki seperti itu? Iya? Karena pekerjaanku? Karena tempat aku bekerja? Hmm?"
"Emm... memangnya kamu tidak begitu?"
Dia menggeleng, lalu menjauh dari wajahku.
"Kamu ingin aku jujur?"
"Aku...."
"Aku memang bukan seorang perjaka."
Aku menunduk, aku sudah menduga soal itu. Tapi... kok sekarang rasanya aneh?
"Kamu akan mempermasalahkan soal itu, Rose? Soal keperjakaanku?"
Aku menggeleng. "Sama sekali tidak," sahutku pelan.
"Aku memang bukan pria bersih, tapi aku bukan lelaki hidung belang. Dan aku tidak menampik, aku memang bukan lelaki perjaka. Aku berpengalaman... dengan... dengan dia, dia di masa lalu. Hanya dia. Aku bukan pria yang banyak pelabuhan. Tidak juga dengan wanita-wanita bayaran di rumah bordil itu. Tapi kalau kamu tidak percaya, itu hakmu. Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya padaku."
__ADS_1
Hmm... suasananya jadi tidak enak. Padahal tadi -- kalau saja Bang Jack tidak seserius ini, mungkin keadaan di antara kami berdua tidak akan secanggung ini.
"Aku minta maaf, ya, kalau aku menyinggung perasaanmu. Aku tidak bermaksud... aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi terima kasih karena kamu sudah mau jujur padaku. Aku tidak mempermasalahkan... kamu perjaka atau tidak. Tidak apa-apa kalau kamu sudah tidak perjaka. Eh? Maksudku... maksudku tidak apa-apa kalau kamu sudah pernah... sudah pernah... melakukan... emm... maksudku... maksudku tidak apa-apa kalau kamu sudah berpengalaman. Emm... su--sudah, ya. Kita... kita jangan bahas soal ini. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku, please...?"
Tapi Bang Jack kembali menatap serius kepadaku dan bertanya, "Kamu masih perawan? Kamu mengharapkan seorang lelaki perjaka untuk pengalaman pertamamu? Iya?"
Ya ampun....
"Tidak. Bukan begitu, Abang. Kan dari awal tadi aku sudah bilang, bukan berarti mentang-mentang aku ini masih perawan, jadinya aku... intinya aku tidak peduli kamu masih perjaka atau tidak. Aku hanya ingin kamu setia padaku. Jangan bermain-main dengan wanita lain. Jangan mencobai wanita lain lagi selain aku. Kamu hanya boleh denganku saja. Hanya itu. Kamu paham maksudku, kan?"
Dia mengangguk. "Tidak usah bahas ini lagi. Cukup kamu percaya saja kalau aku ini tipe lelaki setia."
"Ya, aku percaya padamu."
"Baiklah. Kalau begitu sekarang kita cari makanan dulu, ya. Kamu mau makan apa?"
"Aku mau makan seafood. Udang, cumi, atau kepiting. Aku belum pernah makan seafood. Boleh, ya?"
Lagi-lagi Bang Jack tersenyum. Entah apa tanggapannya terhadapku yang -- terlalu polos, atau tidak tahu malu ini. Tapi terserahlah.
"Apa pun untukmu, Sayang."
"Terima kasih, Abang."
"Tapi kamu yakin, kan, ya, kamu tidak punya alergi terhadap seafood?"
Aku menggeleng. Tidak yakin sepenuhnya. "Semoga saja tidak. Namanya juga belum pernah makan. Mana aku tahu aku alergi atau tidak."
"Oke, oke. Paling-paling kamu kularikan ke rumah sakit kalau ternyata kamu punya alergi."
Tapi tidak, kok. Setelah Bang Jack memesankan makan siang untuk kami berdua dan kami makan di dalam mobil, ternyata aku tidak alergi makan seafood. Justru ketagihan. Terutama pada cuminya.
"Bagaimana? Enak?"
"Em, enak. Apalagi cuminya. Aku suka. Dagingnya kenyal."
__ADS_1
"Oh...." Bang Jack terkekeh geli. "Rupanya kamu suka yang kenyal-kenyal, ya. Ada sih yang lebih kenyal."
Iyuuuuuh... dasar Bang Jack! Pikiran kotornya kumat lagi.