Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Aku Lelah


__ADS_3

Harusnya aku lega dengan keadaan ini. James tidak jadi menyentuhku dalam keadaan aku sadar dan sangat tidak rela. Tetapi, justru keanehan sikapnya itu membuatku jadi takut. Tangisku semakin jadi. Kutekuk dua lutut dan melipat tangan di atasnya, menyembunyikan wajahku yang bersimbah air mata.


"Hei, Sayang? Ada apa?" James kembali keluar dari kamar mandi.


Kugelengkan kepala dan mengusap air mata. "Tidak apa-apa," kataku.


"Sudahlah. Jangan membuang-buang waktu dengan menangis. Kita mesti ke rumah sakit. Sekarang lebih baik kita mandi, yuk?"


Eh? Maksudnya? Mandi bersama? Ya Tuhan, kok? Aku tidak mau....


"Ayolah. Mau, kan? Jangan menolak, please...," bujuknya semanis mungkin.


"Em. Ba--baiklah. Aku mau." Daripada aku mati. Menolakmu itu bagaikan menantang maut.


"So, what? Berhentilah menangis, ya?" Dia tersenyum, lalu bangkit, dan, dia pun menggendongku. Dengan semangat, dia membawaku ke kamar mandi.


Apa semua ini, James? Apa kamu melakukan semua ini karena kamu benar-benar mencintaiku?


Byurrr...!


Keran air menyala di atas kami, dan seketika aku malah teringat momen manisku bersama Bang Jack. Sentuhannya kala itu, ciumannya, bahkan kami bisa membuat kenangan yang lebih indah jika saja saat itu tidak terjadi konsleting listrik.


"Rose?" suara James menarikku kembali ke kesadaran. Aku mendongak, memandangi wajahnya. Dan, wajah pria itu kian mendekat. Dengan sedikit memiringkan kepalanya, ia mencium bibirku.


Mataku terpejam. Bolehkah aku mengingatmu, Bang Jack? Bolehkah aku menganggap bahwa saat ini aku sedang bermesraan denganmu? Bolehkah aku menganggap pria di depanku ini adalah dirimu?


Kucoba -- aku mencoba menikmati ciuman itu, mencoba membalasnya, mencoba meresapi kemesraan ini sepenuh hati, mencoba melakukan hal ini dengan membayangkan Bang Jack, dan terus memejamkan mata.


"I love you. I love you so much."


Lagi-lagi suara iu menarikku kembali ke kesadaran. Dia bukan Bang Jack. Hati kecilku kembali merontah.


"Aku mencintaimu."


"Aku...."


"Tidak apa-apa. Tidak perlu dijawab."


Aku menunduk.


"Oh, sialan!" gerutunya.


"A--ada apa?"


"Kamu."

__ADS_1


"Aku? Ma-maksudnya?"


"Kamu selalu membuatku bergairah. Aku tidak pernah bisa mencegah hasratku padamu."


Aku menunduk. Bingung. Takut. Dan, mulai gelisah.


"Bisa tolong luangkan waktumu sebentar? Aku butuh sedikit bantuan, please?"


Bersedialah, Rose. Bersedialah. Daripada dia ingin bersetubuh dan akhirnya kau akan menangis lagi. "Baiklah," kataku. "Han--hanya... menyentuh, kan?"


"Em. Please, lakukanlah."


Argh!


Mau tidak mau, suka tidak suka, rela ataupun tidak, aku harus melakukannya. Menurut pada James, aku bisa hidup di dunia ini lebih lama.


Tapi lama sekali...! Pria itu membuat tanganku sangat pegal. Dan pria itu malah cengengesan setelah aku menyelesaikan tugasku.


"Harap maklum, Sayang." Dia menarikku bangkit dan tersenyum senang di depan wajahku. "Ronde kedua memang seperti itu. Memang lebih lama daripada yang pertama. Yang pertama itu hanya sebentar kalau dilakukan secara alami. Kecuali jika dengan bantuan suplemen penambah stamina. Tapi... kalau pada ronde kedua yang jaraknya tidak terlalu lama dari ronde yang pertama, maka tanpa suplemen pun seorang lelaki mampu bertahan dalam waktu lama."


Lalu, apa untungnya kamu menjelaskan hal ini padaku? Apa tujuanmu? Kamu menganggapku benar-benar polos atau ingin mengetes kepolosanku saja?


"Yeah, andai saja kamu sudah bersedia kita berhubungan *ntim pada saat kamu tersadar, kamu akan tahu perbedaannya. Tapi tidak apalah. Untuk sementara, aku rela kamu menjadi putri tidur-ku yang cantik."


"Yeah, tentu. Kita harus cepat mandi untuk pergi ke rumah sakit. Oh ya, mandiku cepat. Tidak apa-apa, ya, kalau aku mandi dan selesai duluan?"


Itu malah bagus. Aku tersenyum. "Tentu, silakan."


"Oh ya, satu hal lagi. Nanti kalau kamu bertemu Papa dan dia bertanya tentang kita, kamu tidak perlu menjawab apa-apa, ya. Bilang saja kalau hubungan kita baik-baik saja dan kita sudah berbaikan."


Aku mengangguk.


"Sebenarnya aku sudah menjelaskan semuanya kepada Papa," sambung James kemudian, dia sudah mulai menyabuni badannya. "Tapi... ya begitu, Papa itu bawel seperti ibu-ibu. Dia pasti akan bertanya padamu juga kalau dia bertemu denganmu. Jadi sebaiknya nanti kamu menunjukkan keharmonisan kita. Kamu mengerti, kan?"


Aku mengangguk lagi. "Ya, pasti," kataku.


"Kamu jangan diam saja. Apa aku harus membantumu mandi?"


Apa? Enak saja. Bisa-bisa kamu kembali bergairah. Tanganku pegal, tahu! Aku tidak mau menambah pegal tanganku.


"Cepatlah mandi."


"Ya." Aku mengambil sabun dan mulai mandi.


"Rose, nanti Papa pasti akan menanyakan lagi soal bulan madu kita."

__ADS_1


Oh, Tuhan... aku tidak mau.


"Nanti kita minta izin pada ibumu, ya. Dia pasti akan sangat senang. Dan aku yakin, saat mendengar rencana bulan madu kita, ibumu pasti akan seantusias Papa." Dia terkekeh-kekeh.


Kenapa tertawa? Apa ada hal yang lucu? Dasar pria aneh. Aku berdeham. "Memangnya kenapa kalau mereka antusias? Namanya juga orang tua. Tidak salah, kan, kalau mereka antusias? Apalagi kalau anak mereka adalah pasangan pengantin baru."


"Yeah, tidak salah. Tidak ada yang salah. Tapi kamu tahu kenapa aku tertawa?"


Aku menggeleng tanpa menghentikan gerak tanganku yang dipenuhi busa sabun. "Tidak tahu," sahutku. "Memangnya kenapa? Apa yang membuatmu tertawa senang?"


"Papa ingin kita segera memberinya cucu."


"Apa?" Aku terkejut, dan ternganga. "Cuc--cucu?"


"Hu'um. Seperti Papa, ibumu pasti juga ingin kita segera memberinya cucu. Mereka akan mendoakan kita. Dan bulan madu kita nanti akan...," kata-katanya terhenti. "Maafkan aku. Aku... aku terlalu antusias. Aku lupa kalau...."


Disentuh olehmu saja aku tidak rela. Bagaimana aku berharap akan mengandung anakmu?


"Rose?" James menghampiriku.


"Emm?"


"Aku... aku kan menyentuhmu hanya di saat kamu tidur," katanya seraya menggenggam tanganku. Dia menatapku dalam-dalam. "Kalau... kalau... emm... kalau kamu hamil... maksudku... aku menyentuhmu dengan cinta, karena aku mencintaimu, kalau buah cintaku tumbuh di rahimmu, kamu akan menerimanya, kan? Kamu tidak akan menggugurkannya, ya kan, Rose?"


Aku tak mampu menjawab. Dan aku kembali ketakutan. Aku bukan pembohong yang andal, James. Sulit untuk berpura-pura antusias membahas soal anak denganmu. Dan aku tidak bisa berpura-pura senang apalagi berharap mengandung buah cinta darimu.


"Rose?"


"Ak--aku... aku...."


"Aku paham, Rose. Tapi... andai... seandainya kamu hamil anakku, kamu mau, kan, menerima kehamilanmu? Kamu mau mengasihi buah cintaku? Kamu tidak akan menggugurkan janinmu, kan? Kamu bersedia merawat kandunganmu, ya kan, Rose?"


Yeah, kalau aku sampai hamil, mana mungkin aku akan menggugurkan anak yang dititipkan Tuhan di rahimku. Sekalipun itu benih dari James, janin itu tetaplah anakku. Tapi itu hanya pengandaian. Aku tidak mengharapkan hal itu terjadi, James. Aku ingin punya anak dari lelaki yang kucintai setulus hatiku.


"Rose? Jawab aku, tolong?"


"Ya."


"Sungguh?"


"Em, aku akan menerimanya. Aku bukan wanita jahat, aku tidak sekejam itu untuk menggugurkan janinku. Tidak akan. Aku tidak mungkin akan menolaknya."


James memejamkan mata, lalu membuka matanya kembali setelah beberapa saat. Dia tersenyum lalu memelukku dengan erat. "Terima kasih, Rose. Sejujurnya aku berharap apa yang kutanamkan di rahimmu, akan tumbuh menjadi buah cinta yang kunantikan. Aku ingin pernikahan kita memiliki pengikat. Aku ingin punya anak darimu untuk mengikat cinta di antara kita. Dengan begitu aku yakin, aku tidak akan pernah kehilanganmu. Iya, kan?"


Hmm... ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku lelah, Tuhan....

__ADS_1


__ADS_2