Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Kegilaannya


__ADS_3

Beberapa menit telah berlalu, tapi tugasku belum selesai juga. Aku jadi teringat ucapan James hari itu, jangan-jangan ini aktifitas *eksnya yang sudah ke-sekian kali untuk hari ini -- yang ia alami sepanjang hari ini, makanya saat ini butuh waktu lama bagiku untuk membuat dirinya takluk?


Tangan dan rahangku sudah pegal sekali rasanya, sementara pria sakit jiwa itu terus menikmati pelayananku. Dia tak henti mengeran* nikmat dengan ekspresi yang membuatku merasa jijik.


"Kamu lumayan pandai, Rose," pujinya, kurasakan telapak tangannya berada di atas kepalaku sementara mulutnya terus mengoceh. "Kamu seperti gadis yang sudah berpengalaman menyenangkan pria. Kalau aku tidak berusaha percaya padamu, aku pasti sudah menilaimu seorang *alang."


Kesal, aku melepaskan mulutku darinya. "Bisa tolong jangan banyak bicara? Aku tidak nyaman, please?"


"Oke, oke. Baiklah. Ayo, lanjutkan lagi, Sayang."


Sumpah, aku curiga kalau benda yang sekarang kusentuh sudah tercelup ke tempat lain sebelum James kembali ke apartemen. Tapi dengan siapa? Apa dia punya istri lain? Yang memanggilnya Pa tadi?


Jujur saja aku tidak peduli andai James punya istri lain selain aku. Aku tidak peduli kalau aku diduakan olehnya. Tapi kalau aku dijadikan yang kedua?


Ya Tuhan... sejujurnya aku juga tidak peduli, tapi jangan jadikan diriku sebagai perusak kebahagiaan istri James yang pertama, atau istri yang ke berapa pun sebelum aku.


Dan selain pemikiran itu, yang membuatku insecure adalah: setelah pusakanya itu digunakan di tempat lain, apakah dia sudah mencucinya lebih dulu? Jangan sampai benda itu tidak dicuci lebih dulu dan sekarang malah langsung masuk ke dalam mulutku.


Aku jijik, Tuhan... jijik....


"Sssssh... ukh! Terus, Sayang. Sebentar lagi, sudah mau sampai. Ukh! Ya ampun, ya ampun, ouch! Lepaskan, lepaskan, Sayang."


Oh akhirnya, batinku. Aku pun melepaskan dirinya dan merasa lega.


Namun, kelegaan itu seketika sirna saat James turun dari counter dan berkata, "Menelungkup!"


"Apa?" Aku terbelalak.


"Jangan banyak tanya. Cepatlah."


"Tapi, My James...."


"Cepatlah!" Dia mendorongku hingga aku tertelungkup di counter, menunggin*, membelakanginya.


Sakit sekali hatiku. Lagi-lagi kau mengingkari kata-katamu, James....


Perasaanku hancur ketika James mengarahkan dirinya kepadaku. Aku sesak menahan amarah. Namun seperti kelegaanku tadi yang seketika sirna, sekarang amarahku pun seketika sirna dan malah berganti kebingungan. Tadi aku mengira James akan memaksakan dirinya kepadaku, walaupun tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Itu tidak seperti yang kuduga. James tidak membenamkan dirinya dengan sempurna kepadaku. Dia hanya masuk sedikit. Hanya ujung dirinya saja. Dia melakukan itu untuk memasukkan cairan putih miliknya ke rahimku.


Kau tahu, sekelebat, apa yang baru saja terjadi itu membuatku berpikir jangan-jangan aku ini benaran masih perawan, dan aku merasa James hanya melakukan permainan licik yang entah apa tujuannya. Namun aku lekas-lekas menepis pemikiran itu.


Jangan terlalu berharap, Rose. Kalau harapanmu tidak sesuai dengan kenyataan, maka nanti akan sangat sakit rasanya.


"Well, selesai. Teruslah menelungkup, Sayang. Biarkan bala tentaraku masuk dan berjuang. Oke? Siapa tahu salah satu di antara mereka akan menjadi junior kita. Aku sangat menantikan anak darimu." Dia mengecup keningku, lalu mengelus-elus *antatku. "Berjuanglah untuk hidup bala tentaraku. Semangat."

__ADS_1


Sinting! Keparat! Kau gila! Dasar psikopat....


"Tunggulah beberapa menit. Tetaplah seperti itu. Kamu hanya boleh berdiri tegap kalau mereka sudah masuk semuanya."


Terserah padamu. Terserah....


Melesak. Aku menahan tangis. Sementara James, dengan riangnya dia melangkahkan kaki ke bawah pancuran, ia memutar keran lalu mandi. Setelah mandinya selesai, dia tersenyum kepadaku yang masih menelungkup di counter wastafel.


Yeah, aku terlihat bodoh dan tolol karena menuruti perintah James, sekaligus menentangnya. Diam-diam, sebisaku, aku berusaha bergerak, berharap apa yang ia tinggalkan di pintu rahimku, keluar dan jatuh ke lantai. Aku tidak ingin hamil dan mengandung benih darinya.


"Tunggulah sebentar lagi, ya," kata James. Dia meraih handuk dan keluar dari kamar mandi. Beberapa menit setelah itu, setelah keheningan yang cukup lama, dia kembali melongo ke dalam kamar mandi dan berkata, "Kurasa sudah cukup. Kamu boleh mandi sekarang. Jangan lama-lama, ya. Aku sudah lapar. Kamu jadi memasakkan lauk untukku, kan?"


Aku yang sudah berdiri tegak menganggukkan kepala. "Ya," kataku.


"Oke. Cepatlah mandi. Aku tidak sabar mencicipi masakanmu."


James berlalu, aku segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, lalu melangkah ke bawah pancuran. Pipis -- berharap benih-benih yang tadi ia masukkan ikut mengalir keluar dari tubuhku.


Tolong, Tuhan, jangan biarkan aku mengandung benih pria sakit jiwa itu. Tolonglah aku....


"Rose, cepatlah," James berseru dari balik pintu beberapa menit kemudian. Dia mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. Aku tahu, sebentar lagi watak pemarahnya itu akan kembali kumat. Jadi, demi terbebas dari amarahnya, aku pun cepat-cepat menyudahi mandiku.


Sewaktu aku keluar, James duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia sudah berganti pakaian, hanya mengenakan kaus dan celana santai. Aku bisa menerkanya, pria itu pasti menyuruh anak buahnya membelikan pakaian baru untuknya, atau ia membawa pakaian ganti di dalam mobilnya. Yang ia pakai itu bukanlah pakaian Bang Jack.


"Aku sudah lapar. Cepat, ya."


"Silakan," kataku.


Dia mengangguk. "Sisir rambutmu," perintahnya. "Kita makan bersama. Aku akan menunggu. Waktumu hanya lima menit."


Hmm... banyak sekali maunya. Tapi aku tidak bisa menentangnya. Aku lekas kembali ke kamar dan menyisir rambut, sekalian mengambil dan mengenakan pakaian dalam. Dan, sebelum mendengar teriakan James, aku buru-buru kembali ke dapur dan makan malam bersamanya.


"Masakanmu enak. Lezat. Kurasa aku tidak sulit untuk menyesuaikan lidahku dengan rasa masakanmu. Serius, ini enak." James sudah mencicipi semua lauk yang kumasakkan.


Aku tersenyum, sedikit terpaksa. "Terima kasih atas pujiannya, My James."


Dia balas tersenyum, lalu mengangguk. "Omong-omong, aku punya satu pertanyaan."


Ya ampun, aku gelisah. "Ap--apa itu?"


"Seandainya kamu punya kesempatan dan pilihan berpisah denganku...."


Deg!

__ADS_1


Apa dia akan menceraikanku?


"Hanya seandainya, bukan berarti aku akan menceraikanmu. Tidak. Sama sekali bukan begitu. Konsepnya adalah kamu punya kesempatan itu, kesempatan untuk meninggalkan aku, entah apa pun faktornya, mungkin ada pria lain, pria yang kamu cintai dan bisa membawamu pergi, apa kamu akan ikut pergi bersamanya? Dan kamu bersedia meninggalkan aku demi dia? Please, jawab pertanyaanku. Jujur."


Aku akan mengambil kesempatan itu. Tapi mana mungkin aku bisa menjawab iya, mana mungkin aku bisa jujur padamu. Itu cari mati namanya.


"Jawab pertanyaanku, Rose."


Aku menggeleng.


"Kamu tidak jujur. Matamu mengiyakan pertanyaanku. Kamu akan memilih pergi. Aku tahu itu. Iya, kan?"


Dan aku semakin ketakutan. Bisa kurasakan tanganku gemetar dan aku terpaksa melepaskan sendok dari tanganku. Sekarang aku merema* tanganku di bawah meja.


"Tidak apa-apa. Aku tahu itulah jawabanmu. Kamu akan rela mengorbankan pernikahan kita demi cinta. Tapi, Rose, apa orang tuamu tidak mengajarkanmu untuk balas budi? Bersyukur pada Tuhan, dan berterimakasih pada orang yang sudah menolong dan menyelamatkanmu? Orang tuamu tidak mengajari hal itu?"


Jangan salahkan ayahku, James. Tapi keadaan....


"Kamu masih ingat, kan, akulah orang yang sudah menyelamatkanmu? Apa salahku sehingga kamu tidak bisa menjunjung tinggi kesetiaan dan menjaga kesucian pernikahan kita? Aku menyelamatkanmu, dan aku menginginkan cintamu, juga kesetiaanmu sebagai balasannya. Apa aku salah?"


Salah! Jelas salah! Itu salah, James. Cinta tidak untuk dimanfaatkan. Bukan untuk membalas budi.


"Satu pertanyaan lagi. Jika benihku tumbuh di rahimmu, dan dia terlahir ke dunia ini, apa kamu akan tetap memilih pergi jika ada yang mengajakmu kawin lari? Jelas kamu tidak akan bisa membawa anakku. Apa kamu tega meninggalkan anakmu demi hidup bersama dengan lelaki lain?"


Kali ini aku menggeleng. "Tidak akan, My James," bantahku. "Kalau aku punya anak, maka dialah segalanya bagiku. Aku tidak akan menukarnya dengan apa pun. Tidak akan meninggalkannya demi apa pun. Tidak akan."


"Itu berarti kamu akan selamanya hidup bersamaku?"


Aku mengangguk.


"Bagus. Berarti kunci kebahagiaanku ada pada anakku. Dengan anak, aku akan memiliki kehidupan yang utuh. Kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan aku."


Sebab itu aku tidak ingin hamil anakmu.


"Rose, seandainya pun kamu punya kesempatan melarikan anakku, tolong jangan lakukan itu, ya? Tinggal bersama orang lain itu tidak enak. Seorang anak lebih baik tinggal bersama ayah dan ibu kandungnya, ya kan? Paman dan bibinya belum tentu akan menyayanginya, apalagi ayah tirinya, ya kan?"


What?


Aku tersedak. Sungguh, aku merasa tersindir. James seakan benar-benar tahu semuanya.


"Ya Tuhan," gumamnya. Dia menyorongkan gelas ke depan mulutku. "Minum ini. Maafkan aku kalau kata-kataku membuatmu kaget."


Argh! Kamu itu menyebalkan, James....

__ADS_1


"Maaf, ya, Sayang?"


Gemetar. Aku mengangguk, dan meminum air dari gelas itu.


__ADS_2