
Di sisi lain, aku merasa bahwa setelah James tersadar nanti akan ada hal baru yang kualami, entah amarah, hukuman, pelampiasan dari kebencian, atau apa pun, apa pun bisa terjadi. Baik ataupun buruk. Tidak. Kemungkinan besarnya adalah hal buruk.
Aku pun meraih ponselku dan menghubungi Bang Jack. Menangis.
"Ada apa?" tanyanya. "James menyakitimu? Apa yang terjadi?"
Yeah, setelah sekian lama aku selalu memberikan kabar kepada Bang Jack bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja, sekarang untuk pertama kalinya aku menghubunginya dalam keadaan menangis.
"Aku tidak sanggup," kataku. "Aku sudah mencoba untuk membunuhnya. Aku sudah memberinya obat tidur dan membawanya ke bak mandi. Tapi aku mengurungkan niatku. Aku tidak bisa membunuhnya."
Hening sesaat, lalu Bang Jack berkata, "Aku tahu. Kamu gadis yang baik. Kamu tidak akan sanggup berbuat kriminal. Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Ingin bertahan di sana... sebagai... istri James, atau...?"
Rasa bersalah menghantamku dengan telak. "Aku tidak ingin berada di sini. Aku hanya milikku. Akan kupikirkan cara lain."
Bodoh! Tidak seharusnya aku meneleponnya dan membuatnya resah.
Aku membuat kesalahan, Bang. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan James padaku saat dia tersadar nanti.
"Rose...?"
"Maafkan aku."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk hal ini."
"Bukan salahmu."
"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik."
"Tidak perlu. Biar aku yang melakukannya."
"Tidak. Abang jangan melakukan apa pun."
"Rose...."
"Aku tutup dulu teleponnya."
Tut!
Aku memutuskan panggilan telepon itu dan menonaktifkan ponselku. Malam ini aku tidak akan bisa tidur. Aku tahu itu. Tapi apa pun yang terjadi, aku yakin aku bisa menerimanya. Sekalipun harus mati di tangan James, tidak apa. Yang penting anak-anaknya tetap memiliki sosok ayah. Dan apa pun tanggapan James atas semua yang sudah terjadi dan apa yang kulakukan padanya tadi, aku akan bersuara kali ini: aku ingin dia kembali kepada keluarganya.
Akhirnya, setelah menghabiskan waktu berjam-jam dalam tangisan, yang kukira aku tidak bisa tidur malam itu, ternyata aku tertidur juga pada dini hari. Aku sempat terlelap di sofa, cukup lama, dan aku bahkan bermimpi tentang ayahku, tentang tragedi pilu itu: saat ayahku tertembak peluru di dadanya. Aku menangis, aku memanggil-manggilnya sampai akhirnya aku terbangun. James ada di depan mataku. Dan ternyata aku sudah terbaring di tempat tidur. Hari sudah pagi, masih di keheningan subuh yang lembab.
Menangis, dan mungkin saja aku masih shock. Aku berusaha duduk dan mencari-cari ayahku. Aku memanggilnya, memintanya untuk tidak meninggalkan aku lagi. Tetapi dia tidak ada. Itu semua hanya mimpi dan ilusi. Ayahku sudah lama tiada. Lagi-lagi mimpi buruk seperti ini menghancurkan hatiku.
"Jangan menangis," James berkata, dia mengusap air mataku. "Kamu merindukan ayahmu?"
__ADS_1
Secara perlahan aku menyadari situasi dan kembali kepada kenyataan. Pria di hadapanku itu bukanlah suamiku, dia suami orang lain, dia ayah dari dua bayi perempuan yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit.
"Aku ingin ikut ayahku. Tolong?"
"Rose...." Dia menatapku sendu.
"Tolong? Dia datang ke mimpiku. Dia pasti juga merindukan aku."
James menggeleng-gelengkan kepala. "Itu hanya mimpi," katanya. "Hanya bunga tidur. Oke? Kamu rindu, dan kamu mengingatnya. Sebab itu kamu bermimpi tentangnya."
"Tidak. Tidak, aku tidak memikirkannya. Aku tidak mengingatnya. Aku... oh, aku memikirkan anak-anakmu. Aku... aku melakukan kesalahan, sebab itu Tuhan menegurku lewat mimpi buruk."
Sakit sekali. Tragedi pilu itu selalu berhasil menarikku pada kelamnya masa lalu.
"Rose...."
"Aku sudah tahu semuanya."
"Ya, aku tahu."
"Tahu?"
Dia mengangguk. "Tadi aku sudah menghubungi Justin."
__ADS_1
"Lalu?"