
Mumpung sedang mendapatkan izin libur tugas sehari penuh, Bang Jack mengatakan kepadaku bahwa dia ingin mengajakku bertemu dengan ibunya. Dia menjelaskan kepadaku bahwa ibunya tidak sepenuhnya hilang akal. Ada kalanya dia dalam keadaan normal, namun kalau dia dalam keadaan histeris, akan sulit untuk mengendalikannya: tidak cukup hanya dengan tenaga satu perawat, dan, tidak ada perawat yang betah untuk merawatnya. Itulah mengapa akhirnya Bang Jack memutuskan untuk menitipkan ibunya ke tempat rehabilitasi jiwa. Dia sendiri juga tidak bisa untuk terus-menerus berada di sisi ibunya dua puluh empat jam. Dia juga mesti keluar rumah dengan membawa harapan -- harapan semoga dia bisa bertemu dengan adiknya. Entah kapan dan di mana. Jadi, dia berpikir, keputusannya untuk menitipkan ibunya ke tempat pengobatan ahli jiwa -- itu adalah keputusan yang terbaik.
Yeah, aku tidak bisa memberikan komentar apa pun perihal keputusannya itu. Mungkin itu memang keputusan yang terbaik, walaupun sangat disayangkan. Namun, mau bagaimana lagi?
Andai saja, andai keadaan ibunya bisa membaik, aku pasti sangat bersyukur. Apalagi... kalau dia bisa menerimaku sebagai menantunya. Terlebih, jika dia bisa menyayangiku, bisa menjadi temanku di rumah ketika Bang Jack tidak ada. Aku berharap dia bisa segera sembuh.
"Jadi, kamu mau, kan, bertemu ibuku?"
Dengan senang hati, aku menerima ajakan Bang Jack. Apalagi dia berterus terang kepadaku bahwa dia ingin aku berkenalan dengan ibunya. Dia ingin aku tahu apa pun tentang dirinya, tidak terkecuali tentang bagian kelam dalam hidupnya. Dan dia berharap agar aku bisa menerima apa pun keadaannya dan keadaan keluarganya. Termasuk menerima keadaan ibunya yang sedang mengalami masalah mental.
"Aku tidak akan mempermasalahkan apa pun. Aku akan menerima ibumu, bagaimana pun keadaannya. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku sudah berjanji, kan, kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu? Jadi, sekali lagi kukatakan, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Oke?"
Bang Jack mengangguk, tersenyum dengan binar mata bahagia. Dia berterimakasih atas semua ketulusanku terhadapnya.
Yap, sudah seharusnya. Sebagaimana dia yang tulus mencintaiku, seperti itu juga aku mesti tulus mencintainya.
"Sudah, ya. Jangan bahas yang melow-melow begini terus. Aku mau cuci puring," kataku. Kuraih semua perabotan kotor bekas kami sarapan dari atas meja, lalu membawanya ke wastafel. Aku tidak suka menumpuk-numpuk piring kotor. Kata nenekku anak gadis itu tidak boleh pemalas.
Aselole....
"Sayang."
"Emm?"
__ADS_1
"Kamu mau kucarikan asisten rumah tangga?" tanyanya.
"Tidak usah. Lagipula untuk apa? Aku bisa melakukan apa pun sendiri," kataku tanpa menoleh ke belakang, fokus dengan cucian piringku.
"Baiklah. Tapi ingat, ya, aku sudah menawarkan. Kalau nanti kamu butuh asisten rumah tangga, bilang saja padaku. Aku tidak mau kalau kamu sampai kelelahan."
Ya Tuhan, aku terkikik sendiri. Dia berlebihan. "Baiklah. Kita lihat nanti saja, ya. Barangkali saja suatu saat nanti aku butuh. Mungkin nanti, setelah kita menikah, jika kamu sering membuatku kelelahan. Hmm?"
Praktis, pria gagah itu mengangkat kepala dari ponselnya, dia tertawa pelan lalu menaruh ponsel itu begitu saja di atas meja dan langsung berdiri. Dalam detik berikutnya, tiba-tiba dia menyambarku, memanggulku di bahunya. Aku memekik-mekik sementara ia membawaku ke kamarnya. Kemudian, ia menurunkanku di dalam kamar mandi, persis di bawah shower yang langsung menyala.
Dia mendesis tertahan, mengeran*, dan menarikku lebih dekat ke dalam dekapannya. Aku dapat merasakan keseluruhan dirinya, terlepas dari gaun tidurku, kami bergerak mundur, sampai punggungku menyentuh dinding. "Aku akan membuatmu kelelahan," ujarnya, persis lima senti di depan wajahku. "Kau tahu, kau membuat jiwaku bergairah, Rose. Aku terbakar. Dan kau harus bertanggung jawab untuk semua yang telah kau lakukan padaku."
Deg!
Jantungku berdegup dengan kencang.
Kami berciuman. Tak bisa berhenti. Saling mencicip, menyentuh, dan meraba-raba dengan bebas. Dan sepanjang waktu itu aku merasa gila, terbakar api dari dalam yang mencabik-cabik diriku. Aku tersesat. Dalam keliaran. Bersamanya. Kekasih yang sangat kucintai.
"Sekali kau menjadi milikku, kau tak akan pernah bisa terlepas dariku. Selamanya, Rose. Kau hanya milikku." Dia melepaskan bibirku, lalu mencium leherku. Mengisa*, kuat dan dalam, membuatku merinding. Aku gemetar di dalam pelukannya. Ia menyentuh titik sensitif di bagian bawah telingaku, dan lututku goyah. Napasku sesak, dalam artian yang berbeda. Aku mengeran*.
Nikmat.
"Aku mencintaimu, Rose," bisik Bang Jack lagi. Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu menautkan jemari kami dan mengunci tanganku ke dinding. Mata hitamnya tampak membara ketika ia menelusurkan satu tangan dengan lembut ke wajahku. "Aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini. Menemukan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Kau sangat berarti, Rose. Betapa aku mencintaimu."
__ADS_1
Oh Tuhan, aku terbuai. Gadis belia ini tak mampu menolak pesona pria dewasa itu. Kata-katanya melambungkan, tatapannya menghipnotis, dan sentuhannya...
Menyalurkan sejuta kenikmatan bagi jiwa mudaku yang baru pertama kali jatuh cinta. Hasratku menggelora.
Aku haus -- haus akan sentuhan dan belaian kasih sayangnya.
Kubiarkan ia mendaratkan bibirnya lagi untuk satu ciuman lain, dan kali ini kami berdua lebih tersesat. Rasa laparku terhadap dirinya tak dapat terpuaskan. Ia menggoda ujung bibirku, dan kubuka mulutku untuknya. Membiarkan lidahnya menguasai mulutku, lincah dan liar. Dia meliuk-liuk masuk ke belakang tenggorokanku.
"Aku mohon... izinkan aku, Rose. Bebaskan jiwaku."
Aku mengangguk. Kami berciuman lagi dalam waktu yang lama, dengan kedua telapak tangan Bang Jack yang panas, yang kini menjelajahi setiap inci kulitku, dan akibat sentuhan itu, darah di pembuluh darahku mendidih. Dan aku melingkarkan lengan di sekitar lehernya, kaki di sekitar pinggangnya, lalu membenamkan wajahnya di dadaku.
Tak dapat lagi kutahan. Kutekankan tubuhku kepadanya. Lebih kuat. Lebih dalam. Dan sekarang kurasakan Bang Jack mendekapku dengan satu lengan, dan menggunakan tangannya yang lain untuk mengangkat kakiku. Dibelainya bagian dalam pahaku, dan aku merasa ingin berteriak, Ya, ketika ia membuatku lepas kendali. Jemarinya menuruni punggungku, membelai tulang belakangku, dan aku melengkungkan tubuh seperti kucing di bawah sinar matahari yang hangat, berusaha menahan *rangan. Di bawah bimbingan tubuh kekar dan lengan kokohnya, aku terbaring -- dengan dia berada di atasku.
Dalam keheningan, deru napas kami berbalas, dari balik celana pendek yang masih menempel pada tubuh masing-masing, diri kami bertemu. Menekan meski tak menyatu. Tersalur meski tak terpuaskan. Dan, terasa -- meski tak sempurna.
"Ini penyiksaan," kataku.
Dan, dia tersenyum, mencumbuku lagi dan mengisa* tengkuk leherku dengan buas. Teramat kuat.
"Aku ingin. Aku sangat menginginkanmu. Aku sangat ingin melampiaskan hasrat ini padamu," bisiknya, dalam suara serak tersiksa lalu ia menghentak-hentakkan dirinya padaku dengan ekstra.
Aku mengeran*. Kucengkeram helaian rambutnya dengan kasar dan aku berteriak, "Please...."
__ADS_1
Lalu...
Lalu...