Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Cinta Sepasang Kekasih


__ADS_3

Kurang dari setengah jam setelah James berangkat meeting, terdengar kembali ketukan di pintu kamarku.


"Siapa?" tanyaku.


Aku baru saja keluar dari ruang ganti untuk melepaskan gaun tidurku dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor sementara aku berganti kimono. Waktu itu aku baru saja hendak mandi.


"Aku."


Bang Jack?


Cepat-cepat aku berjalan ke pintu dan membukanya.


"Abang?"


Entah kenapa tiba-tiba mataku berkaca. Aku senang atas kedatangan Bang Jack, tapi aku juga takut. Sebab, dia pasti akan kecewa kepadaku.


Di sana, aku berdiri kaku. Sementara, Bang Jack, setelah pintu terbuka, ia langsung masuk dan segera menutup pintu kamarku, dan, menguncinya dengan aman. Kemudian, dia pun langsung memelukku.


"Kamu sakit?" suaranya serak. Seakan ia merasakan rasa sakitku -- melebihi demam ini. Dan sekarang, dia menangkup wajahku, menatapku dengan iba.


Tak kuat. Aku hanya mampu menggeleng. Tangisku kini kembali pecah. "Aku hanya demam biasa," kataku seraya mengusap air mata. "Abang tidak perlu khawatir."


"Mana mungkin aku tidak khawatir. Aku cemas. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini."


Argh! Mentalku jadi ciut. Aku memang berharap bertemu dengan Bang Jack. Tapi sekarang, aku begitu takut dia kecewa kalau dia melihatku dalam keadaan seperti ini: dengan dada, punggung, dan leher yang dipenuhi tanda merah.


"Sudahlah. Aku baik-baik saja, kok. Abang membawakan ponselku, kan? Tuan James, kan, yang meminta Abang ke sini? Iya, kan?"


Dia mengangguk.


"Apa aku masih boleh memakai ponsel itu?"


"Kamu berhak atas semua yang kumiliki."


"Ya, maaf. Aku tidak bermaksud... aku...."


"Ssst... itu tidak penting untuk dibahas. Aku ke sini--"


"Aku mau ke kamar mandi. Mau sekalian mandi. Bisa tolong berikan pons--"


"Rose?" Dia menatapku dalam-dalam. "Kenapa? Jangan menghindariku, please?"


"Aku...." Aku menggeleng-geleng dengan tetes air mata semakin deras. "Aku kebelet, mau pipis. Maaf."


Berlari, aku meninggalkan Bang Jack dan masuk ke kamar mandi. Namun, belum sempat aku mengunci pintu, Bang Jack berhasil menyanggahnya. Dia menyelinap, masuk ke kamar mandi.


"Abang, apa yang Abang lakukan? Tolong jangan begini. Ini berbahay--"


Ya Tuhan!


"Eummmmm...."


Pria ini sungguh nekat. Dia menyambar bibirku dan menciumku dengan buas. Aku suka. Aku menginginkannya. Aku ingin menikmatinya. Tapi ini sungguh menakutkan.


Sedikit, aku membalas ciumannya.


Sedikit, aku menikmati ciumannya.


Sedikit, aku membiarkan diriku melebur dalam cintanya. Hasratnya. Cinta yang menggelora di antara kami.


Tapi aku takut....


Kucoba untuk mengendalikan diri.


Tapi tidak dengan Bang Jack. Dia sudah kerasukan Dewa Cinta hingga otaknya tumpul. Dia menciumku, menciumku begitu dalam. Begitu liar. Rakus. Hingga membuatku engap. Aku kehabisan napas.


"Aku kangen. Aku tersiksa, Rose."


Pilu. Bang Jack bergumam dengan putus asa di depan wajahku. Kening kami menempel, dan lengan kokohnya melingkar solid pada tubuhku. Aku tidak pernah melihat seorang pria seputus asa ini.

__ADS_1


Dan ini yang para penculik itu inginkan. Bang Jack tersiksa karena kehilanganku, karena dia tidak bisa menjagaku -- dalam artian menjaga adik kandungnya sendiri, sementara di sisi lain ibunya terbelenggu dengan mentalnya yang tidak stabil.


"Abang pria yang kuat. Abang jangan seperti ini. Abang punya Mama yang harus Abang jaga. Jangan lemah, please...."


Dengan matanya yang merah, dia menatapku. "Aku akan lebih rapuh kalau kamu menghindariku. Kamu paham itu, ya kan?"


"Abang tidak mengerti."


"Mengerti apa, Rose? Hmm? Apa yang tidak kumengerti?"


"Aku... aku bukannya menghindari Abang. Bukan. Sama sekali--"


"Lalu kenapa?" potongnya. "Kalau bukan menghindar, apa namanya?"


"Ini!" Kubuka kimono yang membalut tubuhku. Kuperlihatkan semua tanda merah pada tubuhku kepadanya. "Aku tidak mau Abang melihat ini. Aku takut. Aku takut Abang kecewa padaku. Maka dari itu sebaiknya Abang pergi. Tolong pergi...."


Aku terisak-isak, tak mampu menahannya apalagi meredamnya meski aku sudah berusaha, setidaknya aku bisa menutup mulutku supaya suara tangisku tidak terdengar sampai keluar kamar. Seperti aku, juga Bang Jack, yang berusaha menahan suara kami walaupun kami bicara dengan emosi yang mengepul di atas kepala.


"Maafkan aku...."


Bang Jack mendekapku erat-erat. Dapat kurasakan emosinya yang tertahan dari kedua lengannya yang memelukku begitu kuat seakan-akan ia ingin meremukkan tulang-tulangku.


"Pria itu tidak menepati janjinya. Kurang ajar!"


Aku bingung. Bagaimana aku menjelaskan soal ini pada Bang Jack?


"Aku masih perawan," kataku.


Bang Jack menatapku dengan bingung.


"Tuan James... dia... dia bilang... dia tidak akan... emm... katanya janji itu... maksudnya dia tidak akan... memaksa untuk... untuk ber... bercinta denganku. Tapi... untuk hal lain, katanya... katanya dia... dia berhak untuk hal-hal yang lainnya. Aku... aku...."


Jemari Bang Jack menutup mulutku. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan sakit, namun tajam.


"Aku jijik... aku jijik pada diriku sendiri. Aku merasa kotor dihadapanmu. Aku--"


Aku ternganga. Bang Jack menarik paksa kimono putih itu dari tubuhku hingga terlepas. Dia membuatku polos di hadapannya.


"Abang?"


"Ssst...."


"Abang mau apa?"


"Kamu tidak akan jijik pada sentuhanku, pada bekas sentuhanku, ya kan?"


Oh Tuhan, kata-katanya yang lembut itu membuaiku sebagaimana sentuhan jemarinya yang membelaiku dengan begitu lembut.


"Tapi aku kotor...," kataku lirih.


Tapi Bang Jack tidak peduli. Yeah, walaupun sebenarnya aku tidak begitu kotor secara fisik. Sebab, semalam, setelah James menggilaiku, aku mandi dengan air hangat. Dan bekas cipratannya tadi pagi, aku mencucinya dengan air, bahkan dengan sabun plus tisu basah. Tapi secara batin, aku merasa begitu kotor karena dijama* oleh pria yang memaksakan dirinya terhadapku.


"Bagiku kamu tidak pernah kotor, Rose. Tidak akan pernah."


Oooooh... Tuhan. Perasaan yang menyenangkan dan membuai ini membuatku lupa akan di mana kami berada. Aku begitu menikmati sentuhan dan belaian tangan Bang Jack. Dengan perlahan, kaki kami melangkah hingga kami mencapai dinding.


"Aku mencintaimu. Jangan merasa kotor lagi. Kalaupun iya, aku bersedia kotor bersamamu. Hmm?"


Ah, tatapannya begitu intens. Menuntutku untuk mengangguk.


Tapi... apa aku harus memberitahumu kalau tanganku ini...? Atau sebaiknya kudiamkan saja...?


"Jangan pikirkan apa pun. Nikmati saja momen ini. Setelah ini, aku ingin kamu melupakan kesedihanmu atas apa yang dilakukan oleh James kepadamu. Lupakan."


Aku mengangguk. "Ya, asalkan aku masih bersamamu," isakku. "Sekalipun aku seperti seorang jalan*, aku--"


"Ssst... kamu bukan jalan*, kita saling mencintai. Kita akan menikah, dan kamu akan menjadi ratuku. Oke?"


Aku mengangguk bahagia. Lalu... lalu...

__ADS_1


Bang Jack kembali menciumku. Ciuman gila yang begitu dalam. Sungguh aku merindukan kebuasan dan keliaran pria itu.


"Aku kangen. Aku kangen sekali padamu," aku tersengal-sengal dibuatnya.


Bang Jack tersenyum. Kemudian...


"Eummmmm...."


Gilaaaaaa....


Aku dimabuk cinta. Walaupun pikiranku membuatku merasa bahwa aku ini sangat jalan*, tapi aku bahagia. Jelas berbeda dengan sentuhan James yang membuatku begitu sakit. Dengan Bang Jack, aku merasa terbebas, aku ingin diriku menjadi liar bersamanya.


Biarlah. Biarlah aku menjadi jalan*!


"Ouch! Abang... Abang... eummmmm...."


Aku memekik dengan pelan -- berusaha menahannya sepelan mungkin -- ketika Bang Jack menangkup dadaku dan mengaktifkan jemarinya. Begitu nikmat rasanya. Bang Jack memberikan pijatan lembut pada dadaku yang belum pernah terjama*.


"Ini masih utuh," bisik Bang Jack. "Kamu tidak marah, kan, aku menyentuhmu di sini? Aku tidak ingin kamu menyesal jika James menyentuhmu sebelum aku. Aku tahu kamu akan menyesal jika pria itu menyentuhnya lebih dulu, ya kan?"


Aku mengangguk. Mataku terpejam menikmati *ijatan sensua* dari jemarinya.


"Jika nanti kamu tidak bisa melawan ketika dia menyentuhmu di sini, dan dia bertanya kenapa ini... maaf, sudah tidak utuh, katakan saja kalau berandalan yang menculikmu yang telah melakukan ini kepadamu. Kamu mengerti, kan? Jangan tersinggung dengan kata-kataku. Aku hanya tidak ingin dia mencurigaiku dan mengacaukan segalanya."


Aku mengerti. Kuanggukkan kepalaku dan aku terus menikmati momen ini.


"Ingin yang lebih?"


Tentu saja. Aku tersenyum girang, kemudian Bang Jack mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di samping wastafel.


"Aku mencintaimu," ucapnya, kemudian ia membenamkan wajahnya di dadaku. Dengan lembut, ia menjumput puncak dadaku dengan mulutnya dan menyalurkan sensasi asing yang menggelitik, nikmat, dan menyenangkan. Mau tak mau aku menggelinjan* karena nikmatnya sentuhan cinta dari kekasihku.


Bukan. Dia bukanlah seorang selingkuhan. Dia kekasihku yang sesungguhnya.


"Kamu bahagia? Saat ini?"


Oh, pasti! Senyumku melambangkan semuanya. Dan, kemudian, tangan Bang Jack menyelinap turun di antara pangkal pahaku. Jemarinya menyentuh lembut, membelai, dan... ah, kau tahulah.


"Tidak marah?"


Aku menggeleng. "Sebelum James mendahului, please?"


"Tidak sepenuhnya, Sayang. Barangkali dia juga tidak akan melakukannya sekarang. Mungkin dia akan benar-benar menunggu usiamu sampai genap sembilan belas tahun. Tapi sebelum itu, aku akan memenangkan pertarungan ini. Aku janji."


Tapi aku tidak yakin. "Kalau dia ingin menyentuhku dengan... jarinya, atau mulutnya, bagaimana? Aku tidak ingin, please? Aku ingin mempertahankan kegadisanku untukmu. Aku rela mati untuk ini."


Sejenak Bang Jack terdiam. "Baiklah. Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Pertahankan. Walau harus mati. Tapi aku tidak akan menyalahkanmu jika dia bisa merampasnya secara paksa. Aku akan tetap mencintaimu."


Dan aku kembali menangis.


"Jangan menangis. Aku tahu kamu akan menjaga dirimu untukku."


"Tapi aku takut. Aku takut kalau kamu merasa jijik padaku kalau dia--"


"Aku mengerti. Tapi aku tidak akan merasa jijik sedikit pun padamu. Tenang, ya? Kamu tidak akan pernah ada celanya di mataku. Percaya padaku?"


Well, kata-kata Bang Jack menenangkan. Kuanggukkan kepalaku dan aku berhenti menangis.


"Sekarang lebih baik kamu mandi." Bang Jack mengusap air mataku, senyum manisnya mengembang sempurna. "Tapi mandinya jangan lama-lama, ya. Aku rindu. Jangan membuang-buang waktu berharga kita untuk bersama. Kekasihmu menunggu."


Oh manisnya.


Bang Jack memberikan satu kecupan mesra di tengkuk leherku sebelum meninggalkanku sendiri di kamar mandi.


"Kamu tetaplah Rose Peterson milikku. Aku janji, kita akan selalu bersama."


Yeah, aku mengulangi janji itu di dalam hati.


Kita akan selalu bersama....

__ADS_1


__ADS_2