Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Modus!


__ADS_3

"Maafkan aku," akhirnya Bang Jack bergumam setelah dirinya berhenti berdenyut di ambang pintu rahimku. Napasnya masih terengah, wajahnya terkubur dalam helaian rambutku, dan kulitnya yang panas masih menyelubungiku.


Aku tertegun mendengar ucapannya. Kata-kata itu membuatku yang tengah menikmati aroma jantan dari kulit lehernya merasa terganggu. Aku heran. "Maaf? Untuk apa?" tanyaku.


"Untuk semua yang kulakukan."


"Maksud... Abang?"


"Tidak seharusnya aku menyentuhmu."


Mataku terpejam. "Abang menyesal? Abang menyesal sudah bermesraan denganku?"


"Bukan, Sayang. Bukan. Bukan itu maksudku." Dia mengangkat kepalanya. "Bukan menyesal... maksudku, bukan menyesal seperti... tepatnya bukan menyesal. Tapi kita sama-sama tahu kalau... James berbahaya. Aku hanya takut...."


Aku menggeleng. "Aku bisa menghadapi semuanya," kataku. "Aku akan menerima risiko apa pun. Jangan khawatirkan aku. Yang pasti, aku bahagia. Aku tidak menyesali apa pun. Aku bahagia karena kita... kita bermesraan. Aku bahagia Abang mencintaiku, Abang menggilaiku seperti tadi. Aku suka. Aku...."


Ah, kenapa aku malah jadi merona? Kata-kata yang panjang itu lenyap bersama pipiku yang memerah.


"Teruskan saja, Sayang," katanya. Senyum bahagianya mengembang sempurna. "Aku suka mendengarmu berapi-api."


Praktis, kututup wajah dengan telapak tangan. "Jangan bicara seperti itu. Abang membuatku malu."


Hah! Memangnya masih punya malu? Eh?


"Well, masih mau bermesraan di sini? Atau udahan?"


Naif. Jelas saja aku masih mau bermesraan, tetapi waktu yang kami gunakan di dalam kamar itu terlalu lama untuk sekadar membersihkan ruangan. Kalau kamera cctv James masih aktif, dia pasti akan curiga kenapa aku lama sekali di dalam kamar Bang Jack. Jadi ya sudahlah. "Sebenarnya...."


"Mungkin lain kali ada kesempatan lagi."


"Baiklah."

__ADS_1


"Sekarang... Cintaku harus berpakaian, terus bawa semua peralatan bersih-bersih itu ke belakang, sekalian kotak sampahnya, oke? Ikat rambutmu dan berpura-puralah seperti orang yang kelelahan setelah beberes."


Aku mengangguk sembari tersenyum. "Tidak perlu berpura-pura, kok. Memang lelah. Kan kita habis olahraga ekstrem."


"Dasar nakal!" Bang Jack tertawa riang lalu mencium pipiku sekilas, dia pun bangkit dari atasku dan turun dari ranjang. Dan...


Euwww...! Konyol, dia membenamkan wajahnya lagi di antara tungkaiku.


"Abang...!" pekikku.


Dia melakukannya sekali lagi. Aku kembali memekik ketika bibirnya kembali terbenam, menyesapku dalam-dalam, lalu ia terkekeh-kekeh. "Aku senang mendengar teriakanmu lagi," ujarnya.


Aaaaah... dia membuatku melow. Aku bangkit dan memeluknya. "Semoga hubungan kita bisa segera kembali normal. Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu." Dia balas memelukku dan mencium puncak kepalaku. "Sudahlah. Jangan bahas ini lagi. Mending kamu cepat berpakaian, masakkan aku sesuatu, ya. Aku lapar."


Aku mengangguk dan tersenyum, lalu memandang wajahnya. "Abang mau makan apa?"


Oh... dia tersenyum manis. Aku ingat jawaban itu ia berikan padaku saat pertama kali aku memasakkan makanan untuknya.


"Tidak ada yang lebih enak dari aku, tahu!"


Bang Jack melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamar mandi. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dia berkata, "Kata-katamu terdengar seperti rayuan, Sayang. Kasihan nanti tanganmu, bisa pegal-pegal."


Hmm... dasar...!


Aku pun menggeleng-gelengkan kepala dibuatnya. Sudahlah, pikirku. Aku mesti buru-buru berpakaian, mengangkut semua peralatan bersih-bersih itu, dan lekas-lekas pergi ke dapur.


"Abang...!" pekikku. "Mau makan apa? Cuma ada makanan instan...."


Dari dalam kamarnya, dia berteriak keras, "Apa saja... terserah. Yang penting enak dan bisa bikin perut jadi kenyang."

__ADS_1


Aku manggut-manggut. "Apa adanya saja."


Telur, sosis, dan mie instan tanpa sayur. Hanya itu. Yang penting pakai nasi.


Yap. Tanpa aku, dapur apartemen Bang Jack kembali seperti semula: sepi tanpa sentuhan tangan seorang wanita. Memang sedih. Tapi aku senang, sekarang aku bisa kembali memasak meski hanya apa adanya.


"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Bang Jack. Dia sudah mengenakan kembali pakaiannya.


Tetapi aku menggeleng. "Masak itu urusanku. Aku tidak butuh bantuan. Tapi... aku butuh minum. Tolong ambilkan minuman dingin, ya. Rasa buah kalau ada."


"Baiklah. Apa pun untukmu, Sayang."


"Hmm... Abang...." Aku mendelik. Bang Jack lupa akan kamera cctv yang barangkali masih aktif.


"Iya... Rose... Adik Abang Sayang. Maaf. Kamu mau minum apa? Ada rasa jeruk, stroberi, mangga, dan jambu biji. Jeruk saja, ya?"


Ya ampun, dia yang bertanya, dia pula yang menjawab. Pria itu membuatku kembali menggeleng-gelengkan kepala.


"Terima kasih," ucapku ketika Bang Jack menyorongkan sebotol minuman rasa jeruk di depan bibirku. Aku ingin mengambilnya dengan tanganku, tapi ia menggeleng. Senyuman nakal menyungging di wajahnya. "Kenapa--?"


Minuman itu tumpah dan tersiram ke dadaku.


"Ops!"


"Abang...!"


"Sori," ucapnya, tapi ia terkekeh kesenangan.


Dia sengaja, dia ingin mendengar aku memekik, berteriak heboh memanggil namanya.


"Omong-omong, saluran air kamar mandi di kamarmu sekarang sedang macet. Jadi... kamu boleh menumpang... di kamar mandi kamarku. Aku tunggu, ya, Sayang!"

__ADS_1


Modus!


__ADS_2