Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Purnama Terindah


__ADS_3

Ya Tuhan, kenapa aku menangis? Jangan seperti ini, Emilia. Jangan.


Napas berat lolos dari bibir James. Dia mengangguk. Aku mengerti dia terluka. Setelah sekian lama dirinya menyimpan luka karena cinta pertamanya. Dan sekarang saat dia jatuh cinta lagi, dia malah mencintai orang yang salah, di waktu yang salah.


Semoga kamu tidak salah mengambil langkah. Aku tidak mau kamu kembali dikuasai oleh kebencian. "Kita bisa berteman. Hmm?"


"Perteman itu omong kosong, Emilia. Jika kita dekat, aku takut... aku takut aku semakin tidak bisa mengontrol perasaanku terhadapmu."


Aku mengerti. Air mataku kian deras menetes. Kenapa sakit sekali rasanya berada di situasi ini?


"Aku hanya akan melihatmu dari jauh. Aku akan mencintaimu dan menyimpan perasaan ini sendiri. Dan walaupun kita jauh, kita tidak akan bersama, aku janji, aku akan menjadi seseorang yang akan selalu ada untukmu. Aku akan menjagamu, seperti bayangan."


Tidak. Aku harus menolak. "Jangan, James. Kalau kamu terus menjaga perasaan itu, kamu tidak akan pernah bisa mencintai istrimu. Itu tidak benar. Tolong jangan...."


"Aku tahu. Tapi, nyatanya... ada atau tidak adanya perasaan ini, aku tetap tidak pernah bisa mencintainya. Sedangkan aku, aku juga tidak bisa membunuh perasaanku padamu."


Tidak ada gunanya berdebat. James tipikal lelaki yang sulit untuk jatuh cinta. Biarkan saja, Emilia. Biarkan dia dengan apa yang dia inginkan.


"Rose... Emilia...."

__ADS_1


"Oke. Aku mengerti."


"Em, aku hanya akan mencintaimu dan menjagamu dari jauh. Tidak lebih."


Aku tidak bisa menjawab. Aku terharu, sekaligus merasa sakit. Dicintai tanpa ada beban-beban lain pastilah akan sangat bahagia rasanya. Tetapi dalam posisiku, ini benar-benar menyiksa perasaanku.


"Emm... besok aku akan menyiapkan... surat cerai... surat cerai kita. Kita akan resmi bercerai setelah menandatangani surat itu. Besok aku akan meminta Justin untuk mengantarmu pulang."


Aku tidak ingin membahas ini lagi. Aku tidak tahan....


Tapi pria itu malah mengusap air mataku. Kemudian, dia memelukku, dia sendiri malah menangis dan menumpahkan air matanya di pundakku.


"Please, jadi istriku untuk malam ini saja."


"Hanya untuk satu malam, cintai aku."


"Aku...."


"Malam ini saja, terima cintaku. Hanya untuk malam ini."

__ADS_1


James melepaskan pelukannya dariku, dia menatapku penuh harap.


Tetapi aku menggeleng. "Aku tidak bisa."


"Please...?"


"Kamu tidak suka wanita yang bisa dipakai bersama. Kamu sendiri yang--"


"Ssst... kamu tidak pernah mengkhianatiku. Aku yang salah karena mengikatmu dengan pernikahan yang terpaksa. Apa pun hubunganmu dengan Jack, itu tidak akan mengubah nilaimu di mataku."


Hening. Tatapan kami bertemu untuk sepersekian detik. Terpaku.


"Please, hanya malam ini?"


Aku mengangguk: menyetujui dan memenuhi tugas terakhirku sebagai istrinya. Kemudian, dengan sejuta rasa yang berkecamuk di dalam dada, James menggendongku dan membawaku melewati tirai-tirai di belakang kami. Sebuah ruang kaca dihias indah di belakang sana: kamar pengantin yang indah seindah kamar pengantin di malam pernikahan kami waktu itu. James menurunkan aku dari gendongannya dan berkata, "Kupikir aku akan mempertahankan egoku, memaksamu bertahan dalam pernikahan ini. Aku menyiapkan segalanya untuk memulai kehidupan baru bersamamu, dengan cinta. Tapi... aku kalah. Ini malam terakhirku bersamamu."


"Jangan membahas apa pun lagi. Tolong?"


Dia mengangguk, dan kusadari, James, pria yang selama ini selalu membuatku takut setiap kali aku berhadapan dengannya, malam itu dia menangis di hadapanku. Rapuh dalam ketidakberdayaan, dan tenggelam dalam cintanya yang begitu besar.

__ADS_1


Yeah, malam itu, untuk satu malam saja, aku merelakan diriku menjadi purnama terindah baginya. Tanpa penyesalan.


"Malam ini aku milikmu... My James...."


__ADS_2