
"Yeah, Nyonya, kami hanya diminta oleh Tuan James untuk mengantarkan makanan ini kepada Nyonya. Selain itu, kami harus memenuhi apa pun yang Nyonya inginkan. Apa saja, tanpa terkecuali."
James muncul di ambang pintu. Sama, dia pun hanya mengenakan celan* *alam. "Hai, Sayang. Ada apa ini? Kenapa, Sayang? Kenapa kamu berteriak?" Kemudian ia berpaling kepada ketiga orang itu. "Kalian semua boleh pergi."
Aku masih gemetar, bahkan ternyata wajahku sudah bersimbah air mata.
"Hei? Ada apa?" James duduk di hadapanku.
Kini tangisku semakin jadi, aku sesenggukan. "A--a--ap--apa... apa... apa kamu... apa kamu... kamu... kamu menyuruh mereka un... untuk... untuk meng--menggilirku?"
"Apa? Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Tentu saja tidak, Sayang. Aku tidak akan menghukummu kalau kamu tidak bersalah. Eh, tunggu dulu," --dia melayangkan tatapan curiga-- "atau kamu telah melakukan kesalahan sehingga kamu nampak ketakutan seperti ini? Iya, Rose?"
Aku menggeleng -- sekuat-kuatnya. Ketakutan. "Tidak... tidak, My James. Sama sekali tidak. Aku tidak melakukan apa pun. Sumpah. Tolong percaya padaku."
"Lalu, kenapa kamu takut?"
"Bagaimana aku tidak takut kalau...."
"Kalau apa?" Dia merema* tanganku.
"Aku baru bangun, tapi ketiga orang itu masuk ke sini, nyaris telanjan*. Wajar, kan, kalau aku ketakutan? Aku pikir kamu...."
James tertawa terbahak-bahak. "Kamu berpikir mereka akan menggilirmu? Tidak, Sayang. Kami semua tadi dari geladak atas. Berenang. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya. Oke? Keep calm. Relax. Kalau kamu tidak melakukan kesalahan, maka aku tidak akan menghukummu. Tapi aku akan melakukannya."
Lagi. Aku terbelalak dan ternganga. Kembali ketar-ketir. "Jangan, My James. Jangan. Tolong jangan. Jangan. Aku mohon jangan."
"Ssst...." Jarinya menempel di bibirku. "Kalimatku belum selesai, Sayang," bisiknya. Dia membelai wajahku dengan bibirnya. "Tapi kamu sudah ketakutan. Seperti inikah kamu menyambut kepulangan suamimu?"
Kembali, aku menggeleng-geleng. "Maafkan aku...."
"Well, jadi kamu mengerti, kan, maksudku tadi?" Sekarang jemarinya mengelus bibirku. "Aku tidak akan menghukummu, Sayang. Selagi kamu menjadi istri yang baik dan manis, kamu setia dan menurut padaku, maka aku tidak akan berbuat jahat padamu. Kamu percaya padaku, kan?"
Aku mengangguk-angguk.
"Kamu percaya?"
"Ya. Ya, My James. Ya."
__ADS_1
"Sekarang boleh?"
"Bo--bo--boleh?"
"Terima kasih."
"Hah? Tung--tunggu dulu."
"Ada apa, Sayang?"
"Emm... maksudku... boleh itu... boleh apa?"
James mengembuskan napas dengan berat. Mulai kesal. "Sudah dua minggu aku meninggalkanmu. Kamu masih saja tidak mengerti."
Aku menggeleng.
"Aku kangen. Aku kangen pada rasa tubuhmu. Kamu paham itu? Paham, kan?" nada bicaranya naik satu oktaf.
Aku semakin menggeleng tidak jelas.
Pria itu marah. Dia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar. Lalu...
Ctek!
Pintu terkunci dari luar.
Ya Tuhan, tolong aku. Tolong....
Dari dalam kamar, aku mendengar James berteriak memanggil-manggil anak buahnya. Lalu, dalam menit berikutnya, pintu kamar kembali terbuka dan ketiga pria tadi kembali masuk ke dalam kamar. Masih sama seperti tadi, hanya memakai celan* *alam.
"James...!" teriakku.
Ketiga pria itu menghampiriku.
"Jameeeeesss... tolooooong...!"
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kembali terbuka, James masuk, lalu pintu kembali tertutup.
"Ada apa, Sayang?"
"Tolong jangan begini. Ampuni aku...."
"Ya ampun, Sayang. Lagi-lagi kamu salah paham."
Dasar psikopat! Kamu hanya ingin membuatku ketakutan, begitu? Berengsek....
"Lady...," James memanggil seseorang.
Ceklek!
Pintu kembali terbuka. Seorang wanita berbikini muncul, dia ikut masuk, lalu pintu kembali tertutup.
"Ap--ap--apa maksudnya ini? Tolong jangan... jangan hukum aku, My James."
James, si pria tidak waras itu hanya tersenyum penuh kemenangan. "Santai saja," katanya seraya menghampiriku. Dia naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimutku."
"Kamu mau apa? Untuk apa mereka di sini?"
Lagi-lagi dia menaruh jarinya di bibirku. "Mereka ke sini untuk menunjukkan padamu, bagaimana rasanya jika satu perempuan dijamah oleh banyak pria sekaligus. Kamu mau melihatnya, kan? Kamu mau tahu bagaimana jadinya? Atau... mau sekalian merasakannya?"
Ya Tuhan, aku menggeleng-geleng ketakutan. Aku memohon kepada pria itu untuk menghentikan kegilaannya. Tapi dia tidak mau mendengarkanku.
"Untuk apa aku mendengarmu kalau kamu sendiri tidak mau mendengarkanku?"
Argh!
Lama-lama aku juga akan sakit jiwa. Berengseeeeek....
"Lakukan. Tunjukkan pada istriku ini bagaimana rasanya kalau dia kuberi hukuman."
Keempat orang itu pun mulai beradu di atas lantai. Aku memekik, ketakutan dan menutup mata.
"Ingat, ini hanya pertunjukan. Bukan hukuman yang sebenarnya. Kalau kamu penasaran ingin tahu bagaimana rasanya, silakan, terus saja kamu menentangku."
__ADS_1