Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Hanya Lima Menit


__ADS_3

Setibanya kami di apartemen, Bang Jack memintaku untuk membawa sebagian belanjaan kami: dua paper bag barang elektronik itu dan tas sedang berisi produk-produk kecantikan untukku, sementara barang-barang berat lainnya diangkut oleh Bang Jack, dibantu juga oleh beberapa orang karyawan apartemen. Semua belanjaan kami pun sampai ke lantai atas.


Kemudian, pada detik berikutnya, Bang Jack mengeluarkan ponselnya, dia menelepon seseorang dan berkata, "Tolong diantarkan sekarang."


Duuuh... apa pula itu? Tapi aku tidak ingin terkesan kepo. Jadi, aku tidak ikut campur apa pun yang ia rencanakan di belakangku. Kubiarkan dia sibuk dengan layar ponselnya setelah menutup sambungan telepon yang baru saja tersambung ke benda persegi itu.


"Abang."


"Emm?"


"Abang mau makan sekarang?"


"Kalau tidak keberatan kita mandi dulu, ya. Gerah."


Baiklah. Aku mengangguk, lalu berjalan ke tumpukan belanjaan kami.


"Kamu mandi sekarang, gih."


"Em, sebentar."


"Belanjaannya disusun besok saja. Aku tidak mau kalau kamu sampai kelelahan."


Duuuh... cerewetnya dia. "Iya, Abang. Aku cuma mau menggeser--"


"Biar aku. Kamu mandi sekarang."


Tak bisa dibantah. Aku pun bergegas ke kamarku dengan membawa tas belanjaanku, produk-produk kecantikan itu dan menaruhnya ke tempatnya masing-masing: di atas meja rias dan di dalam kamar mandi, di meja dekat wastafel. Kemudian, dengan cerianya, aku mandi menggunakan sabun dan sampo baruku yang menguarkan aroma apel yang segar dan harum semerbak memenuhi ruang kamar mandi. Wewangian itu membuat perasaanku happy, aku sangat senang, sampai-sampai, setelah selesai mandi, dengan riangnya aku keluar dari kamar mandi dan menyelonong begitu saja -- hanya dengan memakai handuk yang melilit di tubuhku.


"Hai, Seksi."

__ADS_1


Arrrrrgh... dasar!


"Abang...!" pekikku.


Aku kaget dan nyaris terperanjat mendengar suara berat Bang Jack yang berada di dalam kamarku, sementara ia malah terkekeh-kekeh seperti biasanya.


"Kamu ngapain di sini? Masuk ke kamarku kok nggak bilang-bilang?" tanyaku dalam bentuk protes seraya menahan handuk yang nyaris terlepas, lalu mengeratkannya kembali.


Kau tahu, dia masih saja tertawa. "Memangnya kenapa? Tidak ada privasi-privasian di sini. Kamu milikku."


"Eh, enak di kamu, dong. Tidak bisa begitu...."


Tapi dia malah berjalan ke arahku dan berhenti tepat di depanku, membuatku terpojok ke dinding. Dan, lelaki di depanku itu menatap lekat kepadaku dengan kedua tangan santai di dalam saku celananya. Tersenyum, mempesona.


"Abang?"


"Emm?"


"Menurutmu?"


"Abang jangan macam-macam."


"Kalau macam-macam?"


"Please...?"


"Kamu ingin mencegahku?"


Aaah... dia. Jantungku ini sudah jumpalitan di dalam dada. Sesak napasku kalau dia bersikap seperti ini.

__ADS_1


"Katakan, kamu ingin mencegahku?"


Ya Tuhan, dengan santainya Bang Jack memegangi kedua tanganku dan menguncikannya ke dinding. Dan, handukku... oh, aku merasa lilitannya melonggar. Dan... dan, pasti, pasti akan segera terlepas.


Oh, ya ampun, bagaimana ini?


"Abang, abang jangan--"


Eummmmm... mulutku terbungkam oleh ciumannya. Dia menggila. Aku tahu priaku ini sudah lama menahan rasa laparnya, sudah lama vakum dari kejantanannya yang buas. Tetapi...


Aku tidak bisa begini, tapi juga tidak bisa mencegahnya. Naif memang. Aku berharap dia bisa menghentikan dirinya sendiri.


Tapi dia belum berhenti. Belum ingin berhenti.


"Beri aku waktu lima menit," bisiknya. "Hanya lima menit."


Aku hanya diam, tak mampu mencegah. Seperti inilah mungkin kesalahan banyak gadis, seperti yang kulakukan saat ini: membiarkan dia menyentuhku. Membiarkan dia mencumbui lekuk leherku, dan pada akhirnya dia tidak tahan -- dia membenamkan giginya dan mengisa* leherku dengan buas.


Bagaimana aku bisa menolak? Rasa ini begitu nikmat, menegangkan semua saraf-saraf di dalam tubuhku. Ada getar nikmat dan seakan memicu hasratku untuk ingin terus disentuh -- lebih dari ini.


Yeah, handukku terlepas, akibat gesekan tubuhku dengan tubuhnya, juga dengan dinding di belakang punggungku, kini aku polos dalam himpitannya. Lalu, lalu dia memelukku, memberiku kehangatan dalam dekapan tangannya yang erat. Kedua tangan kokoh itu memelukku, lalu menelusur ke punggungku, lalu ke pinggul hingga ke pahaku.


Eummm... sumpah demi apa pun, sentuhannya membuatku gila. Meski hanya memelukku, meski hanya menelusurkan hangat telapak tangannya di kulitku, dan meski... hanya mencumbui bibir dan leherku, tanpa melihat keseluruhan diriku, tanpa merasakanku secara utuh, aku gila. Dia membuatku gila.


"Lima menitku sudah berakhir," katanya, tanpa melepaskan tubuhku dari dekapannya. Dia hanya menatap ke dalam mataku dengan kening menempel di keningku. "Terima kasih untuk tidak marah, atau marah tapi tidak kamu lampiaskan. Terima kasih untuk memberiku waktu hanyut dalam perasaan ini. Dalam kesalahan yang manis dan memabukkan. Terima kasih, Cinta. Dan sekarang, please... antar aku ke pintu, atau kalau tidak, aku bisa melihat tubuhmu. Kamu tidak menginginkan itu, kan?"


Iyuuuh... dasar. Tapi, yeah, aku diam saja, tepatnya tersipu malu, dan mengikuti langkah kakinya ke arah pintu.


"Terima kasih atas pengertianmu," ucapnya sekali lagi. "Aku sangat mencintaimu." Bang Jack tersenyum, mencium keningku, lalu melepaskan pelukannya dan meninggalkanku di balik pintu tanpa melihat tubuhku.

__ADS_1


Well, dia sudah gila. Aku, cintaku, dan tubuhku, membuatnya gila, dan lima menit itu -- berhasil membuatku kepanasan.


__ADS_2