Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Geli


__ADS_3

Demi tidak meninggalkan jejak apa pun, kubawa surat dari Bang Jack ke toilet dan membuangnya ke kloset. Seperti yang dikatakan oleh Bang Jack, aku mesti berhati-hati dalam segala tindakanku, setelah memastikan surat itu lenyap, aku bergegas kembali ke dapur dan membuat teh hangat, setelahnya, aku bersantai di sofa sembari menunggu Justin.


Hampir dua puluh menit berlalu, pria itu akhirnya tiba dan mengetuk pintu apartemen. Dan setelah aku membukakan pintu untuknya, pria itu membawakan sekantung besar pembalut dengan berbagai merek dalam berbagai ukuran, plus jenisnya: untuk siang dan malam.


Sejujurnya aku ternganga, tapi akhirnya aku tertawa geli. Dan kurasa, aku perlu berterimakasih kepada Justin, pembalut sebanyak itu berguna untuk beberapa bulan ke depan. Yeah, kuanggap itu adalah doa dan isyarat untukku: semoga aku selalu menstruasi setiap bulannya demi tidak hamil anak dari seorang psikopat gila seperti James Harding.


Kemudian, seorang bodyguard yang menemani Justin memberikan sekantung besar es krim kepadaku dan dua paper bag besar berisi berbagai jenis roti dan kue. Aku tahu, James memberikan es krim dan kue-kuean itu untukku supaya aku betah ditinggalkan sendirian di apartemen dalam waktu yang cukup lama. Oke, tidak masalah.


"Tuan James sedang pergi keluar kota," kata Justin. "Beliau berpesan kalau Nyonya membutuhkan apa pun, Nyonya bisa langsung menghubungi saya."


Aku hanya mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Dengan dua kantung besar plus paper bag di tangan kanan dan kiriku, aku menutup pintu dan segera ke dapur. Pertama-tama, aku mesti memakai pembalut dulu, dan setelah itu barulah aku menaruh semua es krim itu ke dalam freezer.


Well, tidak masalah aku tinggal sendirian. Yang penting sekarang aku bisa berkomunikasi dengan Bang Jack. Jika perlu, James tidak usah kembali lagi. Aku menggeleng-geleng. "Huh! Jangan berharap berlebihan, Rose. Itu mustahil, tidak mungkin terjadi kecuali kalau pria itu mati."


Setelah urusanku selesai di dapur, aku pun beranjak, membawa dan menyusun pembalut-pembalut itu ke dalam laci meja riasku.


Dan sekarang waktunya ke kamar Bang Jack.

__ADS_1


Dengan semringah, aku mengangkat bantal dan menemukan ponsel yang ia tinggalkan di sana, kemudian aku menghempaskan diri di kasur empuk itu dan mengaktifkan ponsel baru itu. Kurang dari satu menit kemudian, ponsel di tanganku itu bergetar. Ada panggilan video masuk dari Bang Jack.


"Hai, Sayang," sapanya. Wajahnya yang tampan seketika menghiasi layar ponsel baru itu dengan senyuman yang menawan.


Oh... bahagianya aku. "Hai juga, Abang."


"Aku kangen...," katanya lirih.


"Uuuh... jangan begitu nada bicaranya. Aku kasihan, tahu...."


"Iya-iya. Aku kangen," ulangnya dengan nada datar. "Kamu tidak masak dari kemarin? Kok lama nemuin suratku?"


"Hmm... kamu ini, ya. Bandel. Kita kan sudah sama-sama berjanji untuk menjaga diri kita masing-masing dengan baik. Kok kamu malah begitu?"


Aku mengangguk lesu. "Maaf," kataku.


"Aku tidak mau tahu, ya. Pokoknya mulai sekarang kamu tidak boleh lagi seperti itu. Mengerti?"

__ADS_1


Semringah. Aku senang mendengar Bang Jack mengocehiku seperti itu. Aku merasa sangat diperhatikan, dipedulikan, dan sangat disayangi.


"Malah senyum-senyum," protes Bang Jack kemudian. "Sana, gih. Kamu makan dulu. Aku tidak mau kalau kamu sampai jatuh sakit."


Tapi aku menggeleng. "Nanti...," tolakku. "Aku masih kangen. Aku masih mau melihat Abang."


"Maaf, Sayang, tapi aku tidak bisa berlama-lama. Teman-temanku sedang menungguku di geladak atas. Aku tidak mau ada yang mencurigaiku kalau aku terlalu lama di dalam kamar. Kamu paham, kan?"


Aku mengangguk. Aku paham akan hal itu.


"Jadi... aku harus menutup teleponnya. Kamu makan, ya. Jangan lupa, oke?"


Hmm... pada akhirnya aku harus menurut. "Baiklah," kataku dengan sedikit rajukan. "Tapi cium dulu."


Iyuuuh... Bang Jack tersenyum nakal lalu bertanya, "Mau dicium di bagian mana, Sayang?"


Eh?

__ADS_1


"Abaaaaaang...."


Bang Jack terkekeh-kekeh. Dasar sinting! Tapi nyatanya, malah kesintingannya itulah yang membuatku bahagia.


__ADS_2