Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Baik-Baik Saja


__ADS_3

Dengan mata terpejam, kubiarkan air dingin dari pancuran membasahiku. Menyamarkan derai air mata yang kini kembali tak terbendung. Berharap ia -- air mata itu, segera habis dan berhenti dengan sendirinya. Tapi aku tahu, aku hanya sedang menghibur diriku sendiri. Berusaha terus menegarkan diri, namun pada dasarnya aku tahu -- betapa aku rapuh. Sangat rapuh.


Beberapa menit berlalu, aku keluar dari pancuran air dan mengusapkan punggung tanganku ke cermin yang berkabut. Kemudian, seraya mencengkeram pinggiran wastafel, aku menatap ke cermin, mengamati mata yang menatap balik ke arahku. Aku menggeleng. Menggeleng lagi.


"Tidak. Aku tidak gila," kataku pada bayangan di hadapanku. "Aku tidak gila. Aku hanya tidak bisa melupakan tragedi itu. Dan itu wajar. Itu wajar...."


Tapi nyatanya aku kembali terisak. Aku marah pada diriku sendiri yang sampai saat ini tidak bisa mengatasi ketakutanku. Aku marah karena kegelapan itu masih saja menarikku ke peristiwa kelam itu: mengingatkan aku tentang duka yang terus menghantui. Yang tak akan pernah bisa kulupakan.


Bagaimana bisa? Ingatan itu menyergapku dengan telak. Wajah ayahku yang sedang sekarat membanjiri ingatanku setiap kali kepanikan itu terjadi. Dan suaranya... suaranya yang menahan sakit, suara itu selalu menggema di kepalaku. Dia sekarat bersimbah darah sebab sebuah peluru terbenam di dadanya, lalu dia mengembuskan napas terakhirnya di pangkuanku.


Sungguh menyakitkan. Aku kembali terisak keras sampai tubuhku terguncang-guncang hebat.


Tapi aku harus bisa mengendalikan diri.


"Aku bisa," aku berkata pada diri sendiri. "Aku akan menepati janjiku. Aku pasti bisa hidup dengan baik. Aku akan bahagia seperti yang ayah inginkan." Kuseka air mata di pipiku, namun butiran lain dengan cepat menggantikannya.

__ADS_1


Dan akhirnya aku menyadari, Bang Jack berdiri di ambang pintu kamar mandi. Melihatku dengan matanya yang berkaca, dan mendengar semua... kata-kataku. Tapi ia memilih untuk tidak mendekat: tidak memelukku. Tidak melingkarkan lengannya di tubuhku sambil mengelus punggungku, mengusap kepalaku, atau sekadar mengusap air mataku. Tidak semuanya.


Dia hanya tersenyum, lalu berkata, "Mandinya jangan terlalu lama, nanti masuk angin."


"Yeah," kataku. Aku mengangguk dan membalas senyumannya.


Dua puluh menit kemudian, aku sudah bersih dan mengenakan handuk. Dan saat aku keluar dari kamar mandi, Bang Jack sudah kembali ke kamarku. Dia sudah rapi dengan pakaiannya. Seperti biasanya, dia tampan.


"Aku ingin melihatmu dengan pakaian ini," katanya, ia menyerahkan dress putih ke tanganku. "Kita jadi pergi, kan?"


Dan, beberapa menit kemudian...


"Apa ini bagus?" tanyaku, berpaling ke arah Bang Jack yang kini duduk di tepi tempat tidurku sambil menatapku. "Aku tidak ingin terlihat berlebihan."


Aku merapikan bagian kerah dress-ku dan menatap seksama diriku di cermin.

__ADS_1


"Aku bukan pria yang mengerti mode, tapi kamu tampak sangat cantik menurutku. Selalu."


Ah, Bang Jack. Dia membuatku tersipu. Aku tersenyum ke arahnya dan menyandang tas tanganku yang nampak serasi dengan dress putihku.


"Kamu sudah melihat semua pakaianmu di lemari? Apa kamu suka?"


Aku mengangguk.


"Serius, ya? Kalau kamu mau, nanti kita bisa beli lagi yang baru. Kamu pilih sendiri yang sesuai dengan seleramu. Nanti kutemani."


Aku menggeleng. "Kamu sudah memberiku pakaian selemari penuh. Itu sudah cukup, kok. Semuanya bagus. Lagipula kan kalau memang dasarnya cantik, mau pakai apa pun juga, tetap saja cantik, ya kan?"


Dia nyengir. "Hu'um. Kamu cantik. Apalagi kalau tidak memakai apa pun."


"Abang...."

__ADS_1


Dia terkekeh geli. Dasar!


__ADS_2