Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Kesempatan?


__ADS_3

"Maaf, Tuan," asisten James menyela. "Setahu saya, Tuan Jack sedang ditugaskan ke Singapura."


Hmm... perasaanku semakin tidak enak. Rasanya mustahil kalau James tidak tahu kalau Tuan Johnson menugaskan Bang Jack ke Singapura.


"O ya?" James balik bertanya pada asistennya, seakan ia benar-benar tidak tahu perihal perjalanan Bang Jack ke Singapura yang ditugaskan oleh ayahnya sendiri.


Asisten itu mengangguk, lalu berkata, "Kemungkinan, baru besok pagi Tuan Jack dan anggotanya akan kembali ke Bali."


"Oke. Terima kasih informasinya." Lalu James nampak berpikir sejenak kemudian ia berpaling kepadaku. "Coba kamu telepon Jack, barangkali dia meninggalkan kunci apartemennya di bagian resepsionis."


Ragu, aku mengeluarkan ponselku dengan gelisah, namun aku sedang tidak bisa berpikir dengan jernih. "Maaf, My James," kataku menepis keraguan, "aku... aku bukannya tidak mau. Tapi... aku takut kalau sendirian di apartemen."


Dan pria misterius itu tersenyum. "Kamu takut diculik lagi?"


Aku mengangguk.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menempatkan beberapa orang bodyguard untuk menjagamu. Di lobi, di basement, dan di mana pun jalan keluar dari apartemen Jack. Kujamin kamu pasti akan aman."


Huffft... aku mengangguk lagi. "Baiklah," kataku.


"Kamu telepon dulu Jack, ya. Sekarang."


Menurut. Aku pun menelepon Bang Jack dan menyampaikan semuanya secara detail. Dan demi tidak menimbulkan kecurigaan, Bang Jack pun tidak banyak bertanya kepadaku. Dia mengizinkanku menumpang di apartemennya selagi James pergi. Dan berikutnya, sesuai yang diinginkan oleh James, dan sesuai izin Bang Jack, kami langsung meluncur ke apartemen dan langsung ke bagian resepsionis. Setelah mendapatkan kunci apartemen Bang Jack, James sendiri yang mengantarkanku sampai ke depan pintu unit apartemennya Bang Jack.


"Ingat, ya," James berpesan seraya menggenggam kedua tanganku. "Apa pun yang terjadi, jangan membukakan pintu untuk orang asing, siapa pun. Tanpa terkecuali. Jangan keluar dan jangan meninggalkan apartemen tanpa izinku. Sekalipun ada orang yang mengancammu, jangan kamu pedulikan. Jangan dibukakan pintu. Mengerti?"


Aku mengangguk.


"Aku akan menghukummu kalau kamu nakal." Dia tersenyum senang.


Yeah, sejujurnya aku mengerti kalau ia bermaksud bercanda denganku selayaknya sepasang kekasih, tapi aku diam saja. Selucu apa pun, kalau tidak cinta, sikap humorisnya itu tidak akan bisa membuatku tertawa.


Oh, sudah berapa hari aku tidak tertawa? Sungguh kehidupan yang menyedihkan.


"Rose?"

__ADS_1


"Emm?"


"Ada apa?"


"Emm... kenapa? Apa... apanya yang ada apa?"


"Kamu lebih murung dari biasanya. Apa kamu...?"


"Tidak usah dibahas, My James," pintaku. Aku menggeleng lalu menundukkan pandanganku.


Dia mengangguk. "Baiklah," katanya. "Kalau begitu aku... oh, ya ampun, aku lupa soal makanan untukmu. Sebentar, ya. Aku--"


"Tidak perlu repot-repot," potongku.


"Lo? Nanti kamu malah kelaparan."


"Tidak perlu khawatir, My James. Aku bisa masak."


"Baiklah. Syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang."


"Rose?"


"Ya?"


"Maafkan aku kalau aku masih sibuk dan jarang meluangkan waktuku bersamamu. Tapi aku janji, begitu aku pulang nanti, aku akan meluangkan waktu yang banyak untukmu. Oke?"


"Ya," kataku lagi, kupaksakan bibirku menyunggingkan senyuman terbaik. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku mengerti, kok." Aku malah senang kalau kamu sering pergi. Lebih sering lebih baik. Pergilah... pergilah, aku mohon....


Semringah. James balas tersenyum kepadaku. "Aku janji aku akan pulang lebih cepat dan langsung menjemputmu. Kuusahakan tidak terlalu larut. Tunggu aku, ya, Sayang?"


"Yeah." Aku tersenyum lagi. Pergilah, tolong....


Tapi James malah menangkup kedua pipiku. Hmm... menyebalkan! Dia mencium bibirku dengan ekstra lembut dan cukup lama, dan setelah menyudahi ciuman lembut itu, dia malah menciumku lagi dan kali ini lebih dalam. Wajahku sampai mendongak karena tangannya berpindah ke belakang kepalaku, mencengkeram helaian rambutku dengan kuat, sementara lengan kirinya melingkar di pinggang dan menghenyakkan diriku ke tubuhnya.


"Andai aku punya waktu luang," ia berkata pelan di depan wajahku, "sudah pasti aku ingin terus bermesraan denganmu."

__ADS_1


Argh! Hatiku malah semakin jengkel. Dan James, dia malah membenamkan giginya di tengkuk leherku.


Sakiiiiit... sekali. Sumpah. Ingin sekali aku berteriak, namun aku tahu keadaan dan situasiku. Apalah daya, aku hanya bisa menahan rasa sakitku itu sendiri.


"Kita bisa bermesraan lagi nanti saat kamu kembali," kataku. "Aku tahu kamu akan merindukanku."


Untuk sesaat pria sakit jiwa itu tidak menghiraukan perkataanku. Dia terus saja menempel dan mengisa* kuat tengkuk leherku. Untung saja dia manusia, kalau dia vampir, mungkin aku sudah mati kehabisan darah.


"Tanda merah ini akan membuatmu selalu mengingatku," ujarnya, lalu ia mengecup mesra di sana. Di atas tanda merah yang ia jejakkan di tengkuk leherku.


Yeah, terserah padamu. Berbicaralah sesuka hatimu.


"Sssssh... huh! Baiklah," James berkata lagi dengan sedikit *rangan, lalu dia memelukku singkat dan mencium keningku. "Aku pergi dulu, ya. Kamu langsung masuk dan tutup pintunya."


Menurut. Aku segera masuk, dengan menyunggingkan senyuman kecil, kututup pintu dan aku langsung bersandar. Mataku terpejam, lega. Wajah itu sudah enyah dari hadapanku. Tetapi...


Oh Tuhan... begitu aku membuka mata, tatapanku langsung tertuju pada kamera cctv yang mengarah ke pintu, ke arahku.


Sialan! Apa pun yang sudah dilakukan James kepadaku barusan, semua itu sudah terekam jelas di cctv itu.


Maafkan aku, Bang. Lagi-lagi aku menorehkan luka di hatimu.


Tapi ini bukan waktunya untuk terus larut dalam kesedihan. Kuhela napas dengan berat. Sekarang aku memikirkan cara untuk menyampaikan pesan kepada Bang Jack. Aku ingin menceritakan kepadanya, lebih tepatnya aku ingin memberitahukan perihal keperawananku yang sudah terenggut lama, dan aku tidak tahu kapan itu terjadi. Namun aku tidak bisa menelepon Bang Jack ataupun mengirimkan whatsapp. Satu-satunya jalan aku mesti menuliskan surat dan meninggalkan surat itu di tempat yang mungkin akan diperiksa oleh Bang Jack. Kuputuskan untuk menyelinap ke dalam kamar Bang Jack lalu mengambil kertas dan pulpen, aku menulis di meja kerjanya.


Abang, maafkan aku. Tapi aku harus jujur kepadamu walaupun itu berarti aku terpaksa membuatmu sakit hati. Ternyata aku sudah tidak perawan. James sudah menyentuhku dan dia sempat marah dan kecewa setelah dia tahu kalau aku sudah tidak perawan. Aku tidak tahu kapan, dan tidak tahu siapa yang merenggut keperawananku. Barangkali sebelum kamu menemukanku waktu aku terdampar di pantai. Atau bisa jadi sewaktu aku pingsan setelah polisi biadab itu menembak mati ayahku. Entahlah. Yang jelas, James sudah menyentuhku beberapa kali sewaktu aku tidur dalam pengaruh obat tidur. Maafkan aku. Aku sangat merasa bersalah padamu. Aku akan mengerti kalau kamu tidak akan sudi lagi memperjuangkan aku. Jika memang akhirnya seperti itu, tolong, tetaplah menganggapku sebagai keluargamu. Sebagai seorang adik. Itu pun jika kamu berkenan. Dan kuharap iya. Jika tidak, maka aku akan berusaha menerimanya. Aku akan menghormati apa pun keputusanmu. Tapi, jika ternyata kamu masih mau memperjuangkan kebebasanku, kamu masih ingin kita bersama dalam ikatan cinta kita, maka aku masih di sini. Aku masih menunggumu.


Love


Rose


"Please, bacalah suratku," aku bergumam sendiri.


Well, aku berpikir sejenak, kemudian keluar dari kamar dan melipat kertas itu lalu menaruhnya di bagian bawah rak sepatu. Jika Bang Jack melihat cctv, maka dia akan tahu kalau aku menulis surat untuknya dan menaruh surat itu di rak sepatu itu.


Lega. Sekarang aku melangkahkan kakiku ke dapur, ke ruangan yang sangat kurindukan selain kamarku. Perasaanku pun jadi riang kembali, meski jadi sedikit sedih mengingat semua isi kulkas yang masih utuh dan tak tersentuh.

__ADS_1


Oh Tuhan... aku rindu. Apartemen ini sudah seperti rumahku sendiri. Andai aku bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Andai....


__ADS_2