
Tidak ada pembicaraan apa pun dalam perjalanan pulang ke apartemen. Kebisuan dan raut wajah Bang Jack mengatakan segalanya: rasa kecewa, marah, putus asa sekaligus prustasi. Sementara aku, aku tidak marah kepadanya. Hanya saja, aku pun sama prustasinya, Bang Jack bukan partner yang sempurna untuk bermain sandiwara. Dia tidak akan bisa berakting dengan baik kalau aku mengatakan apa rencanaku sebelum aku melakukannya, dia tidak akan bisa berakting dengan total. Tetapi, dengan aku tidak mengatakan apa yang kulakukan, kuakui totalitas amarahnya benar-benar mencapai puncak, tetapi sayangnya itu akan berlangsung lama karena itu bukanlah sekadar akting. Amarahnya sungguhan.
Dan sekarang air mataku menetes dalam diam. Sekali lagi, bukan karena aku marah padanya yang telah menamparku, tetapi karena perasaan lelah atas hubungan asmara yang terus saja membuat kami tersakiti. Kalau tidak sesegera mungkin menyingkirkan James, maka takdir kehidupan kami akan terus seperti ini.
Sesampainya di basement, aku langsung membuka pintu dan keluar dari mobil. Kemudian, persis di saat aku hendak masuk ke dalam lift, betapa terkejutnya aku melihat James ada di dalam sana.
Apa dia datang untuk membawaku bersamanya?
Entahlah. Aku tidak tahu jawaban persisnya. Begitu pintu lift terbuka lebar, James melangkahkan kaki dan pergi begitu saja melewatiku. Dan entah kenapa, perasaanku begitu sakit pada saat itu. Seolah-olah -- entah benar atau tidak -- aku merasa tidak bisa menerima kalau James benar-benar tidak peduli terhadapku. Padahal saat itu aku mengetahui itulah kebenarannya, tapi kenapa pada saat itu aku tidak bisa menerima hal itu? Begitu sakit rasanya.
Di belakangku, ketika aku berbalik untuk memastikan apa James benar-benar akan pergi tanpa aku, aku malah melihat Bang Jack berdiri jauh di sana. Langkah kakinya terhenti, dia menatap kepada James, namun pria itu juga mengabaikannya.
Lalu untuk apa dia ke sini?
"Dia bicara apa?" tanya Bang Jack, dia sudah berada di dekatku.
Aku menggeleng. Aku masih tidak ingin bicara dengannya. Aku kembali berbalik lalu menekan tombol lift dan langsung masuk saat pintunya terbuka. Aku mesti membuang muka di hadapan Bang Jack.
"Mungkin semuanya sudah berakhir. Mungkin James akan membiarkanmu di sisiku."
Hah! Omong kosong macam apa ini? James akan membiarkanku di sisimu hanya jika dia merasa aku benar-benar depresi dan terus berusaha bunuh diri. Jika tidak, dia akan membawaku lagi bersamanya. Tentu saja, untuk menyiksaku.
"Kalau benar seperti itu, itu berarti kamu tidak perlu lagi memikirkan bagaimana cara untuk kembali padanya, ya kan? Tidak perlu lagi berusaha bunuh diri. Sandiwara atau apalah itu."
Oh, sepolos itukah pikiranmu? Atau itu caramu untuh membodohiku, atau untuk membujukku supaya aku tidak lagi berbuat nekat? Sayangnya aku lebih mengenal James, dan aku lebih mengutamakan misiku.
"Rose, bicaralah. Tolong lupakan semuanya. Aku akan melakukan tugas yang diberikan James, dan dia pasti akan melepaskanmu setelah itu. Kita akan kembali bersama."
__ADS_1
Ting!
Pintu lift terbuka.
"Aku tidak punya waktu untuk bicara omong kosong denganmu."
Keluar. Kulangkahkan kakiku dan meninggalkan Bang Jack di belakang sana. Setelah aku masuk ke dalam apartemen, aku mengunci pintu kamarku dan lekas ke kamar mandi. Aku butuh waktu untuk berendam, mendengarkan musik dan menghirup wewangian aroma terapi.
Dan kau tahu, yang kupikirkan adalah aku harus mencoba menyingkirkan James. Aku sangat tidak percaya jika dia akan mengembalikanku kepada Bang Jack saat Bang Jack menyelesaikan tugasnya. Itu mustahil. Kebencian James pada Bang Jack tentu saja akan membuat James terus menahanku di sisinya. Dengan begitu, selamanya dia bisa menyakiti perasaan Bang Jack, sekaligus menjadikannya boneka yang akan selalu menuruti perintahnya. Tidak. Aku tidak sudi jika James menakdirkan hidup Bang Jack seperti itu. Lagipula, di sisi lain, seandainya aku bisa menyakiti hati Bang Jack, aku akan bertahan dan bersedia hidup untuk James. Bahkan mungkin aku akan berusaha membuatnya benar-benar jatuh cinta kepadaku. Tetapi nyatanya aku tidak bisa. Sengaja membiarkan diriku hidup untuk James adalah sebuah pengkhianatan bagi hatiku. Dan aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa mengkhianati Bang Jack. Ini bukan tentang cinta, tapi tentang dedikasi, rasa terima kasih, dan sebuah pengabdian. Lebih dari itu semua, ini adalah caraku menghargai seorang pasangan: dengan tidak menyakitinya dan tidak mengkhianatinya.
Entah berhasil atau tidak, aku harus mencoba. Jika tidak berhasil, aku akan mati dengan rasa ikhlas. Sebab, aku sudah berusaha untuk Bang Jack.
Setelah ritual mandiku selesai, aku ingin meminum obat tidurku. Tetapi sial, tidak ada air mineral di dalam kamarku. Aku mesti pergi ke dapur.
"Aku sudah pesan makanan. Sebentar lagi sampai," kata Bang Jack. Dia duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Hei, jangan diamkan aku."
Oh, aku harus bermanis-manisan begitu? Dasar menyebalkan!
"Rose."
"Emilia."
"Ya Tuhan, kamu ini...."
Terserah. Aku tidak mau menggubrisnya. Air mineralku sudah siap, dan aku hendak mengeluarkan obat tidurku dari botolnya, tetapi Bang Jack merebutnya dariku.
__ADS_1
"Berhentilah minum obat tidur!"
"Aku ingin tidur."
"Rose, makan dulu."
"Aku tidak lapar."
"Rose...."
"Kembalikan obat tidurku."
"Rose, please, kita bicara baik-baik."
"Kamu menamparku! Kamu tidak mendukung rencanaku! Apa lagi yang harus dibicarakan?"
Dia menggeleng pelan. "Maafkan aku," katanya, lalu dia mengelus pipiku. "Sakit? Aku tidak sengaja. Maaf? Akan kulakukan apa pun untuk mengobati rasa sakitmu."
"O ya? Kalau begitu dukung rencanaku."
"Rose... please...?"
"Temui James. Memohon padanya."
"Aku tidak ingin kamu bersamanya lagi."
"Dia membiarkanku di sini hanya untuk sementara! Kamu tahu itu. Ketika aku berhenti mencoba bunuh diri, dia akan membawaku lagi untuk menyiksaku. Jangan bodoh! Jangan mengira dia akan merelakanku begitu saja!"
__ADS_1
Bang Jack terdiam, dan dari situ aku mengerti kalau dia sebenarnya tahu dan dia paham betul tentang pemikiranku. Dia sebenarnya memiliki pemikiran yang sama denganku. Hanya saja, dia berusaha menahanku untuk tetap bersamanya sebab itu dia berkata seolah semuanya akan seperti yang ia katakan barusan. Dia hanya sedang berusaha mempengaruhi pikiranku.