Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Abang, please, aku mohon?"


"Bagaimana kalau setelah aku memohon padanya, tapi dia tetap membiarkanmu di sini? Itu James, dia--"


"Aku tahu itu akan terjadi. Itulah yang akan terjadi. Sebab itu rencana berikutnya Abang sendiri yang harus mengantarkan aku kepadanya dalam keadaan tidak sadar. Aku ingin ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di kediamannya. Yeah, memang bertele-tele, tapi untuk menjangkau James memang perlu usaha ekstra."


Mengalah. Bang Jack menghela napas dalam-dalam. "Baiklah." Dia mengangguk-angguk, frustasi. "Aku akan mengikuti permainanmu. Akan aku ikuti, oke? Tapi nanti, setelah kita makan. Aku tidak ingin kamu tidur dalam keadaan perut kosong. Dan satu lagi, jangan bicara apa pun tentang James di area depan. Kita tidak tahu kenapa tadi dia ke sini. Mungkin saja dia menyelipkan penyadap suara. Bisa jadi."


Aku mengangguk. Aku paham. Dan, deal.


Semua berjalan seperti yang kuinginkan. Kami berdua makan malam, dan setelah itu Bang Jack melakukan tugasnya. Dia pergi menemui James. Kemudian, seperti yang kupikirkan, James mengabaikan permintaan Bang Jack. Meski Bang Jack sudah memohon padanya untuk meminta maaf kepadaku dan membawaku pulang ke rumahnya, juga sudah menjelaskan kepadanya tentang perasaan hormatku kepada Bang Jack -- dan bukan tentang cinta, James masih tidak bersedia memenuhi permintaannya. Sebab itu, aku mesti menenggak obat tidurku, dan Bang Jack membawaku kepada James dalam keadaan tidak sadar. Ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di kediaman Harding. Pria itu ada di hadapanku dengan senjata api di tangannya. Dia memain-mainkan benda berbahaya itu untuk menakut-nakutiku.

__ADS_1


Tidak mempan!


"Entah kenapa, tapi aku merasa kamu hanya berpura-pura. Kamu tidak ingin bunuh diri sungguhan. Tapi untuk apa, aku belum bisa menebaknya. Tapi hanya ada dua kemungkinan. Karena cinta, atau, justru untuk membunuhku. Mungkin kemungkinan yang ke-dua. Benar begitu, Emilia?"


Oh, jadi instingmu sehebat itu. Aku sudah berada di sini dan masih membutuhkan usaha ekstra untuk membuatmu lengah? Well, yang penting aku sudah ada di sini. Tidak masalah bagiku jika kamu mencurigaiku. Yang penting aku punya kesempatan untuk membuatmu melewati malam panjang bersamaku. Satu ruangan bersamaku.


"So, kenapa kamu diam saja?"


"Jangan begitu, Sayang. Aku suamimu, bukan? Jadi, katakan kepadaku, apa tujuanmu? Aku mohon?"


Well, aku duduk tenang di hadapannya, di atas ranjangnya, lalu aku tersenyum. "Yeah. Aku di sini untuk membunuhmu. Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah sudi mencintai pria sepertimu. Jadi, apa kamu akan memberikan kesempatan itu untukku? Hmm? Berikan pistolmu dan aku akan menembak kepalamu."

__ADS_1


"Oh, jadi aku harus memberikan senjata kepada seseorang yang ingin menghabisiku? Menarik. Sangat menarik."


Aku mengangguk. "Jadi? Mari, jangan membuang waktu." Aku turun dari ranjang, dengan perlahan, aku berjalan menghampirinya.


"Aku pemilik senjata ini, bukan? Bagaimana kalau aku saja yang menembakmu? Setuju? Ini menyenangkan."


James menodongkan pistol itu kepadaku. Tapi, entah memang karena aku sudah mati rasa, atau sama sekali sudah tidak takut mati, tidak sedikit pun aku merasa takut. Aku tidak gentar sama sekali.


"Menarik. Akhirnya momen ini tiba. Apa aku akan mati di tanganmu? Ayo, tembak saja. Lakukan sekarang. Habisi aku, James."


Kupejamkan mataku, dan James membidik sasaran.

__ADS_1


Door!


__ADS_2