
Belum terlambat, aku menyadari kesalahanku.
Yeah, malam itu ponsel James berdering. Tertulis nama Ny. Harding di layar ponselnya. Aku terkejut. Itu bukan panggilan dari ponselku.
Apa itu telepon dari istrinya?
Perasaanku terusik, bagaimana mungkin aku bisa menghancurkan kehidupan wanita lain? Tetapi aku tidak berani untuk mengangkat teleponnya. Setiap kali deringan itu berhenti dan berbunyi kembali, seolah-olah genderang perang memecahkan gendang telingaku. Kemudian, selang beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali berdering dengan panggilan berbeda. Kali ini telepon dari Justin.
Gawat. Bagaimana kalau dia mencari James ke sini? Ketika besok dia menyadari kematian James, dia pasti akan mencurigaiku. Tidak. Tidak. Tidak, Emilia. Kau bisa mengelak. Kau bisa mengatakan kalau kau sedang istirahat karena kau masih sakit, dan kau tidak tahu apa-apa.
Ting!
Pesan whatsapp masuk. Dari Justin. Aku bisa melihat sebagian isi pesan itu di layar ponsel James yang terkunci.
》Tuan, si kembar panas tinggi. Nyonya membawanya ke rumah sakit dan meminta...
Si kembar? Anak-anaknya? Ya Tuhan, tidak. Apa yang sudah kulakukan?
Nyaris saja aku terjerembab ke lantai. Betapa terkejutnya aku, meski dulu aku pernah mengira James sudah memiliki istri dan anak, tapi aku tidak pernah memikirkan kalau itu benar-benar faktanya.
Suara tangisan bayi waktu itu... itu bayinya? Bayi perempuan? Tidak. Bagaimana mungkin aku merenggut kehidupan bayi itu? Mereka membutuhkan seorang ayah. Aku... aku tidak bisa memisahkan James dari anak-anaknya. Tidak.
__ADS_1
Aku berlari ke kamar mandi. Air sudah memenuhi bak mandi. James baru saja terendam tepat di hadapanku. Gelembung air dari pernapasannya berlomba mencapai permukaan.
Tidak. Dia tidak boleh mati.
Bergegas, aku menarik bangkit tubuh itu. Aku tahu aku belum terlambat. Dia baru saja tenggelam. Dia tidak mungkin mati. Tetapi tetap saja aku kalut. Aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan. Dan, seperti yang seringkali disuguhkan di dalam sebuah drama, aku menekan-nekan perut James dan memberikannya napas buatan sampai dia terbatuk-batuk.
Syukurlah, dia tidak mati. Aku bisa sedikit lega, meski obat tidur masih mempengaruhinya dan dia masih terlelap, setidaknya dia selamat dari tindakanku yang hendak melenyapkan nyawanya.
Tok! Tok!
Pintu diketuk dari luar lalu terdengar suara Justin. Bagaimana ini? Aku kalang kabut.
Cepat-cepat kuseret tubuh James dan membawanya ke ranjang lalu buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.
Sekarang buka pintu dan temui Justin.
Ceklek!
Pintu terbuka. Wajah pias Justin kini ada di hadapanku -- wajah yang sama piasnya denganku, kurasa.
"Ada apa, Tuan Justin?" tanyaku dengan gelisah.
__ADS_1
"Emm... maaf, Nyonya. Saya mencari Tuan James."
"Oh, dia... sudah tidur. Katanya dia tidak enak badan dan dia minum obat tidur. Yah. Jadi... jadi dia tidak bisa dibangunkan."
Aku tahu kejujuranku tentang obat tidur itu adalah kesalahan, tetapi jika tidak berkata demikian, Justin akan curiga kepadaku dan memeriksa sendiri keadaan bosnya dan dia akan berusaha membangunkannya. Dan aku akan ketahuan kalau aku memberinya obat tidur jika James tidak bisa terbangun dari tidurnya. Bahkan dia bisa memanggilkan dokter pada saat itu juga. Jadi, tidak ada pilihan, aku terpaksa mengatakan kalau James meminum obat tidur sehingga tidak bisa dibangunkan.
Putus asa sekaligus rasa khawatir mendominasi di wajah asisten itu. Dia mengangguk, lalu berpamitan.
"Tunggu," kataku.
Langkahnya terhenti, dia kembali berbalik.
"Aku membaca pesanmu di ponsel James."
Justin salah tingkah, dia pasti menyadari bahwa dia sudah bertindak ceroboh dan melakukan kesalahan. "Maaf, Nyonya, itu... tadi... tadi...."
"Tolong diatasi dulu. Berikan alasan apa saja supaya istrinya tenang. James akan ke sana saat dia sudah terbangun nanti."
Melihatku menangis, Justin tidak bisa berbuat apa pun atau mengatakan apa pun. Dia hanya mengangguk dengan perasaan bersalah, lalu ia pergi tanpa kata.
Pelik, bukan? Si asisten itu saja terdiam seribu bahasa. Sesuatu yang mestinya terus ia rahasiakan dariku kini terbongkar karena pesan whatsapp darinya. Dan aku, seluruh rasa bercampur aduk di dalam benakku. Air mataku menetes untuk semua hal: rasa bersalahku yang hampir saja melayangkan nyawa james, nyaris saja membuat putri kembarnya kehilangan sosok ayah. Lalu, kehadiranku di tempat ini, sebagai perempuan yang seperti istri simpanan. Aku marah, aku kecewa, malu, juga merasa bersalah, dan, juga rasa benci. Aku benci ditempatkan di posisi ini. Benci....
__ADS_1