Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Ceritaku


__ADS_3

"Omong-omong, sumpah, lo, Sayang. Meski ini menu yang sangat sederhana, tapi rasa nikmatnya itu luar biasa. Rasanya serba pas, telurnya empuk lagi. Kamu benar-benar jago memasak. Aku salut."


Tentu saja, aku sudah terbiasa memasak sedari kecil sejak nenekku meninggal, aku harus menggantikan tugasnya dalam mengurusi ayahku. Sebab, ayahku tidak menikah lagi semenjak ibuku meninggal pasca melahirkan aku. Walaupun aku tahu itu bukan berarti dia bersih dari... kau tahulah, kehidupan lelaki dewasa. Aku tahu ayahku suka memacari janda-janda cantik dan *ahenol yang sama kesepiannya seperti ayahku. Tapi dia tidak pernah menikahi pacar-pacarnya. Lagipula, yang dipacari oleh ayahku itu bukanlah wanita baik-baik yang patut dihormati dengan status pernikahan. Ibaratnya, ibaratkan ikan yang sengaja menggelepar-gelepar di depan mata kucing garong, tentu saja kucing itu bereaksi dan langsung beraksi.


Bukan. Bukannya aku merendahkan mereka. Bukan pula sok suci dan merendahkan cara mereka dalam menggaet dan menggoda lelaki hidung belang. Itu terserah mereka, urusan mereka. Hanya saja, aku berhak menilai, kan? Sebab, yang mereka goda itu ayahku. Jadi, kalau wanita-wanita itu tidak sengaja mengumbar-umbar tubuh mereka dengan maksud memancing hasrat ayahku, tentu saja ayahku tidak akan mendatangi dan masuk ke sarang mereka. Yeah, ayahku seorang lelaki normal. Saking normalnya, dia tidak akan pernah mau melewatkan suguhan gratis nan nikmat yang ditawarkan oleh partner-partner ranjangnya yang seksi itu.


Tentu saja, sekali lagi, itu bukanlah urusanku. Itu urusan mereka. Toh, itu tubuh -- tubuhnya mereka, lubang -- lubangnya mereka, rumah mereka sendiri, dan urusan dosa, itu dosa mereka sendiri. Lagipula, dulu itu aku masih anak-anak, bukan?


Aku ingat betul, pernah -- dan sangat sering sekali, saat aku dan ayahku pulang dari pasar pagi, ayahku disapa oleh ibu-ibu jankes alias janda kesepian yang sengaja berdiri di teras rumahnya dengan daster tipis tanpa dalaman. "Mampir, Mas," ajaknya. Ayahku tersenyum dan mengangguk. Lalu, pada siang harinya, dengan pura-pura mengajakku bermain dengan anaknya si ibu jankes itu, ayahku dan si ibu jankes itu pun turut bermain. Namun, berbeda denganku dan si anak yang bermain di ruang tamu, ayahku dan perempuan itu bermainnya di dalam kamar. Ber-hah-huh-hah-huh ria di dalam sana. Lebih tepatnya, mereka bermain sambil olahraga sehingga menghasilkan keringat yang bercucuran.


Yap, kesenangannya dapat, sehat jiwa raganya juga dapat. Singkatnya, kebutuhan jasmani mereka terpenuhi. Sebab itulah, secara lahiriah, ayahku tidak merasakan kekurangan. Jadi, untuk apa dia menikah lagi, pikirnya. Urusan sumur dan dapurnya ada aku yang mengurusi, sedangkan untuk urusan kasurnya, dia punya banyak tempat dan tinggal pilih saja dia hendak berlabuh ke mana. Toh, dia tetap akan tidur di rumah, menjaga dan menemani putri kecilnya melewati malam-malam dingin yang selalu terasa panjang -- tanpa seorang ibu. Dan aku tahu, salah satu alasan ayahku tidak ingin menikah lagi karena dia takut kalau sosok istri yang ia pilih nanti tidak akan menyayangi putrinya dengan tulus.


Well, kurasa waktu itu usiaku sudah cukup besar untuk mengerti suara-suara *esahan panas ataupun *rangan-*rangan puas, makanya aku sudah mengerti tentang ranjang panas yang sering dijajal oleh ayahku. Ini bukan terjadi -- sekadar sekali atau dua kali -- kebetulan lokasi pasar pagi itu tidak terlalu jauh dari desa kami, ayahku selalu menemaniku ke pasar karena ia tidak tega membiarkan aku pergi belanja seorang diri. Jadi, dengan sepeda milik ayahku, kami akan melewati jalan di depan rumah-rumah jankes-jankes cantik itu. Seringkali, bukan hanya dengan si jankes tetangga, ayahku pun sering berpacaran dengan pedagang-pedagang pasar. Dengan alibi meminta nomor telepon untuk memesan belanjaan segar untuk esok hari, ayahku malah mendapatkan sesuatu yang lebih segar ketimbang sekadar tempe atau sayuran yang baru dipetik. Dan, selain itu, ayahku juga tidak pernah menolak servis sebagai ucapan terima kasih tatkala ada yang meminta bantuannya. Misal, sewaktu kami lewat, ada yang memanggil dan minta dibetulkan sambungan listrik, atau sekadar membetulkan saluran air kamar mandi yang tersumbat, ayahku akan mampir meskipun notabenenya ia bukanlah seorang tukang. Tugas alibi beres, ucapan terima kasih pun diterima dengan senang hati. Jelas saja, sewaktu ayahku berkutat dengan saluran kamar mandi si jankes, wanita itu sudah menanggalkan semua pakaiannya. Jadi, ayahku pun bersemangat dan mesti buru-buru menyelesaikan tugas kecilnya, dan, segera lanjut ke tugas berikutnya.


Sekarang, kalau kau bertanya bagaimana semua ini bisa terjadi, jawabannya karena kami tinggal di lingkungan yang masih sepi, maksudku dulu. Desaku tergolong desa pedalaman yang dikelilingi perkebunan. Ayahku bukanlah seorang lelaki kaya, dia juga tidak punya banyak uang untuk membeli kenikmatan dari penjajak apem atau onde-onde tak bertulang dan tak pernah terbungkus kutan*. Tapi, ayahku sosok lelaki yang tampan, jangkung, kekar, dan berisi, dia tahu bagaimana menjaga penampilannya agar tetap terlihat keren meski dengan pakaian yang ala kadarnya, dan, dengan kesehariannya sebagai kuli panggul, tentu saja kekuatan ototnya menjanjikan kenikmatan -- hanya itu modal yang ia miliki, yang membuat jankes-jankes itu terpikat padanya.

__ADS_1


Duh, jadi ngalur-ngidul ke mana-mana, ya, bestie. Intinya, postur tubuhku yang tinggi, padat, dan berisi, itu menurun dari ayahku. Sedangkan paras wajah yang cantik dan kulit yang putih bersih, itu menurun dari ibuku.


Eh? Sori, hanya pemberitahuan sedikit. Hehehe. Intinya begini: aku sudah pandai memasak sejak aku kecil. Nenekku yang mengajariku, dan setelah ia meninggal, memasak dan berbenah rumah sudah menjadi keharusan bagiku. Jadi, aku tahu benar, hasil masakanku itu pasti enak dan dijamin Bang Jack pasti akan menyukainya.


Well, dengan kemampuanku dalam urusan memasak makanan -- yang ternyata sekarang berguna karena mampu memuaskan seleranya Bang Jack, aku jadi bersyukur, meski jalan kehidupanku dulu sebegitu berat, tapi sekarang aku mendapatkan hikmah dan berkahnya. Aku bisa memasak tanpa mesti kursus apalagi sekolah yang tinggi. Sebenarnya dari dulu ada berkahnya juga, sih. Sebab, dengan bisa memasak, aku bisa memasak untuk ayahku. Jadi, dengan begitu, kami bisa menghemat pengeluaran.


Kau tahu, meskipun ayahku seberengsek itu dalam urusan ranjang dan wanita, tapi dia tetaplah seorang ayah yang terbaik untukku. Kenapa? Karena dia sosok ayah yang bertanggung jawab. Dia tidak pernah meninggalkan aku, apalagi menelantarkan aku. Sebagaimana kewajiban seorang orang tua tunggal, ayahku memenuhi kewajibannya terhadapku. Dia tidak pernah membuatku kelaparan. Meski makan dengan lauk seadanya, makanku cukup tiga kali sehari, dan aku bisa makan sampai kenyang. Tidak penting lauknya apa, dia selalu menjamin ada beras di rumah kami. Prinsipnya, meski hanya makan dengan lauk sayur yang direbus dengan garam, yang penting putrinya tidak kelaparan.


Tapi, kalau kuingat-ingat, tidak pernah juga kami makan hanya dengan sayur. Ayahku tukang kuli panggul yang giat. Kalau tidak khawatir meninggalkanku sendiri di saat hari masih gelap, dia pasti sudah ke pasar sejak dini hari, seperti dulu saat nenekku masih hidup. Sejak nenekku meninggal, ayahku pergi bekerja bersamaan dengan waktu aku berangkat ke sekolah. Jadi, dia selalu punya uang untuk memberiku makan tempe, tahu, telur, atau ikan asin. Itu pun dengan catatan kalau aku sedang bosan makan ikan. Ayahku rajin memasang perangkap ikan di sungai atau di rawa-rawa di dekat rumah kami, rutin, setiap hari menjelang petang, dan pagi-pagi sekali dia menyempatkan diri mengambil perangkapnya. Jadi, asupan proteinku cukup. Bahkan kadang-kadang, demi aku, dia dengan senang hati mencarikan belut, siput, atau keong sawah. Kalau sedang beruntung, dia akan membawa pulang seekor burung yang kena perangkapnya. Yeah, tidak ada ayam, burung pun jadi. Malah lebih enak daging burung, ya kan?


Nah, jangan salah. Aku pun pernah makan steak. Aku bisa memasak steak ala-ku sendiri dengan bumbu sederhana dan ala kadarnya. Aku pun pernah makan sate kambing, sup iga, sup buntut, bahkan rendang. Yang penting nikmat. Dagingnya dari mana? Dari hewan kurban yang satu kali setahun kami dapatkan. Kuakui, umat muslim itu baik.


Sedari kecil, nenek mengajariku menanam dan merawat sendiri bumbu-bumbu masakan. Memang tidak semuanya, tapi paling tidak beberapa di antaranya aku tidak perlu membelinya di pasar, seperti cabe rawit, cabe merah, serai, kunyit, kencur, jeruk purut, jeruk nipis, kemangi, dan banyak lainnya. Tidak perlu banyak-banyak, toh bukan untuk dijual. Cukup untuk aku memasak sehari-hari, kan lahan kami kecil. Jadi, untuk yang tidak kutanam, aku mesti membelinya di pasar, seperti kentang, wortel, daun bawang, dan lain-lain. Apalagi bumbu-bumbu instan berikut gula dan garam.


See, kami orang miskin, tapi hidup kami cukup karena dicukup-cukupkan. Ayah dan nenekku mengajariku bagaimana mesti bertahan hidup dalam kesulitan dan keterbatasan.

__ADS_1


Selain itu, ayahku rajin menyisihkan uang sebagai tabungan untuk biaya sekolahku. Dia ingin aku bisa bersekolah dengan layak. Punya buku, punya tas, punya sepatu, dan seragam yang baru kalau seragamku sudah lusuh. Dia ingin aku sama dengan anak-anak lain, atau lebih tepatnya dia tidak ingin aku minder dengan seragam sekolah yang sudah lusuh, apalagi sudah tidak layak pakai. Terutama sepatu, dia tidak pernah menunggu sepatuku sampai jebol, atau kaus kakiku sampai bolong. Dia memperhatikan benar hakku sebagai seorang anak.


Dia ayah yang baik, bukan?


Bahkan, dengan perhatiannya, ayahku rajin menanamkan beberapa pohon pisang dan pohon pepaya di pinggir batas lahan milik kami, di tempat yang benar dan tidak menghalau cahaya matahari untuk tanaman lainnya. Jadi, kebutuhanku akan serat dan vitamin pun terpenuhi. Tidak hanya kedua buah itu, seminggu sekali, ayahku pasti membelikan aku buah-buah yang biasa dibeli oleh keluarga mampu, meski hanya sebutir atau dua butir, atau cuma setengah kilo, yang penting bagi ayahku putrinya ini bisa mencicipi bagaimana lezatnya buah selain pisang dan pepaya. Dan, sesekali, dia membelikan es krim untukku, atau cokelat. Lumayanlah, meski hanya sesekali.


Ayahku yang baik, dan juga perhatian. Dia rajin menanyaiku bagaimana sekolahku, bagaimana nilai-nilaiku, bagaimana kegiatanku di sekolah, dan berbagai bentuk perhatian lainnya, termasuk menanyakan PR sekolahku sehari-hari. Sebab itulah, dia memiliki cinta, rasa sayang, dan rasa hormatku sepenuhnya -- meski dia seberengsek itu dalam urusan ranjang.


Yeah, beginilah hidupku. Aku tumbuh besar di lingkungan yang kurang baik, tanpa kelembutan dan hangatnya pelukan seorang ibu, mesti berkutat dengan urusan rumah, dan tidak pernah menghabiskan waktu untuk bermain dengan anak-anak seusiaku setelah jam pulang sekolah. Bahkan... kehidupanku malah semakin terjatuh ke titik terendah setelah ayahku meninggal. Rumah dan lahanku dijual oleh pamanku, dia bilang dia berhak sebab itu warisan dari orang tuanya. Nenekku. Sedangkan bagianku, dia juga yang menyimpannya. Perampokan secara halus. Dasar!


"Terima kasih untuk ceritanya." Bang Jack tersenyum dan merema* jemariku.


Haha! Rupanya aku sudah menyerocos panjang sedari tadi.


"Terima kasih. Kamu sudah mau mendengarku. Kamu satu-satunya orang yang mau mendengarkan ceritaku."

__ADS_1


Dia mengangguk. "Sama-sama, Sayang. Intinya sekarang kamu tidak sendirian lagi. Kamu memiliki aku, lelaki yang siap mengambil alih semua tanggung jawab ayahmu."


Uuuuh... Bang Jack. Manis sekali, sih....


__ADS_2