Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Tersiksa Oleh Keadaan


__ADS_3

"Aku mencintaimu," ucapnya.


Aku terdiam, hanya mampu mengangguk.


"Boleh kubuka pakaianmu?"


Ritsletingku sudah terbuka, Bedebah! Kenapa sekarang kau sok minta izin segala? Dasar menyebalkan....


"Boleh, Rose?"


"Em, boleh."


"Terima kasih, Istriku tersayang. Kamu memang yang terbaik. Aku semakin cinta padamu."


Argh... hatiku menjerit, meski mulutku tak mampu bersuara. Seperti raga yang tak mampu memberontak, aku hanya membiarkan gaun tidurku terlepas dari tubuhku, beserta pakaian dalam yang tak bersisa satu helai pun.


"Kesempurnaan yang kurindukan." Senyum renyah penuh kemenangan itu kembali mengembang, dan, kini aku terbaring dengan James di antara kedua tungkaiku. Kakiku tertekuk, terlipat ke atas. Dan pria itu... dia membenamkan wajahnya kepadaku.


Perih. Meski kenikmatan itu menjalar di bawah sana, yang tak mampu kutepis, namun di hati tetap saja terasa perih. Sangat perih.


Bayangkan dia adalah kekasihmu, Rose. Bayangkan dia pria yang sangat kau cintai. Nikmati saja. Nikmati setiap sentuhannya. Nikmati... pejamkan matamu.


Tapi nyatanya sangat sulit. Batinku merontah, ada peperangan di dalam hatiku. Meski James menyentuhku seperti yang Bang Jack lakukan, tapi kenyataannya -- karena dia James, hatiku tak bisa menerimanya, meski nikmat, hatiku tak bisa meresapinya. Saat lidahnya masuk lebih dalam, saat rasa geli menggelitik, saat sensasi asing menjalar, hatiku tetap terus berusaha keras untuk menolaknya. Terlebih ketika jari ahlinya itu menyelinap ke dalam, aku membenci diriku sendiri, aku benci ada di momen ini. Aku benci karena kebodohanku yang tidak meminum obat tidur sialan itu. Obat tidur itulah yang menyelamatkanku dari momen ini: kenikmatan yang benar-benar menyiksa. Dalam arti yang sesungguhnya. Bukan kiasan.

__ADS_1


"Rose, bangunlah."


Apa lagi ini? Meski enggan, aku membuka mataku. James sudah berdiri tegap. Ia menjulang tinggi di hadapanku. Polos, tanpa apa pun. Dia hidup, berdiri, tegap, dan menantang.


"Kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan?"


Sialan...! Aku akan menggigitmu....


Tetapi nyatanya aku hanyalah seorang pengecut. Pecundang yang jalan*. Mana berani aku menggigitnya. Yang ada aku hanya mampu menjadikan diriku sebagai sosok istri yang penurut. Aku bangkit, aku duduk tegap di hadapannya. Aku menyentuhnya, menggenggamnya dengan tanganku, dan aku... aku memberinya kenikmatan dengan mulutku.


"Sebenarnya aku ingin berbaring santai, dan kamu yang di atas. Tapi kurasa berdiri akan lebih nikmat. Aku sudah sering menikmati momen ini dengan berbaring, bukan? Seperti yang dilakukan pria pada umumnya."


Apa maksudnya? Apa dia menyindirku dan Bang Jack? Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin ada cctv di dalam kamar Bang Jack. James hanya ingin menyelidiki aku. Pasti itu. Dia hanya sedang mencari tahu lewat reaksiku. Tenanglah, Rose. Tenang. Lakukan saja tugasmu ini.


Aku berdeham, lalu mendongak, memandang pria yang menjulang tinggi di atasku itu. "My James, tolong diam, aku mohon? Aku tidak bisa berkonsentrasi dalam dua hal sekaligus. Jadi... bisakah aku mengerjakan tugasku dulu? Dan... nanti aku akan mendengarkanmu, apa saja yang ingin kamu bahas. Ini berbeda dengan mengobrol saat kita makan di meja makan. Kamu... memahami maksudku, kan? Maafkan aku, dan tolong jangan tersinggung. Tolong?"


"Tentu saja. Tentu aku paham." Dia tersenyum dan mengelus lembut puncak kepalaku. "Baiklah. Akan kupenuhi permintaanmu. So, silakan, lakukan tugasmu... Sayang."


Aku mengangguk, dan aku memulai lagi tugas itu.


"Tapi biar aku mengatakan satu hal lagi."


Deg!

__ADS_1


Kau selalu saja membuatku takut. Aku berhenti, kembali melepaskannya dan mendongak. "Ap-apa, My James?"


"Jangan berhenti, lakukan terus tugasmu, biarkan aku di dalam dirimu sampai aku sendiri yang menarik diri darimu. Paham, Rose?"


Aku menggeleng. Aku ingin menolak. Tapi mulutku ini... mulutku tetap saja terbungkam.


"Jangan lepaskan aku sampai denyutan terakhir. Bisa kamu pahami itu, Sayang? Hmm?"


Apa kau sedang menghukumku, James?


"Paham, Sayang?"


Aku mengangguk. Terserah. Biarkan saja, Rose. Biarkan saja. Jangan membantahnya.


Tetapi hatiku sakit. Setiap desaha* yang lolos dari bibir pria itu menyiksa hatiku. Setiap reaksi nikmatnya menyakiti hatiku. Aku benci... sangat... sangat benci kepadanya.


Tetapi apa yang kurasakan itu tidak ada pengaruhnya bagi James. Dia menikmati sentuhanku. Dia mengeran*, dia mendesa*, dia mericau tak jelas, dan dia... dia menahan kepalaku untuk tetap berada di hadapannya, tetap di bawah kendalinya. Bahkan, ketika dia sendiri tahu bahwa dia akan mencapai puncaknya, dia tetap menahanku di sana, dengan dan dalam posisi itu.


"Jangan dilepas," *rangnya, dan matanya terpejam.


Dan tak pelak, dia membuatku mual hingga aku tidak tahan dan langsung muntah di sana. Aku benci merasakannya hingga denyutannya yang terakhir. Aku benci dia memuntahkan diri di dalam mulutku. Sementara, pria itu, dia hanya menatapku dengan penuh kemenangan.


"Itu akan membuatmu awet muda, Sayang."

__ADS_1


Berengsek! Kau jahat, James. Kau sangat jahat...! Aku sangat membencimu.


__ADS_2