
2 tahun yang lalu...
Kala itu aku masih duduk di bangku SMA, berkat ayahku yang selalu memberiku motivasi belajar, aku tumbuh menjadi anak yang rajin. Semua nilaiku bagus, dan aku termasuk murid yang berprestasi, meski tidak selalu menyandang juara 1 di kelas, tapi aku tidak pernah keluar dari peringkat tiga besar. Sebab itu, ayahku ingin sekali aku bisa melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat universitas. Demi untuk mewujudkan impian itu, ayahku semakin giat bekerja. Dia semakin rajin menabung. Hingga pada suatu hari, ayahku ikut bekerja di perkebunan sawit yang diurus pamanku, dan sewaktu ada pengiriman sawit ke luar daerah, ayahku diajak oleh paman, sementara aku dititipkan di rumah bibiku.
Di situlah tragedi itu dimulai. Malam itu aku terbangun dan hendak ke kamar mandi, tetapi sewaktu aku keluar dari kamar, aku melihat bibiku sedang bersama dengan seorang lelaki. Ternyata selama ini bibiku berselingkuh dengan anak pemilik perkebunan sawit itu, seorang abdi negara, anggota polisi. Mereka berdua berada di dalam kamar bibiku, pintunya terbuka, dan mereka berdua telanjan* -- sedang berhubungan *ntim.
Aku kaget bukan main melihat mereka berdua. Apalagi, si lelaki yang dalam keadaan telanjan* itu langsung menghampiriku. Aku ingin lari, tapi dia berhasil menangkapku, lalu mereka berdua mengurungku di gudang. Gelap sekali. Tidak ada cahaya sedikit pun. Dan saat itu, sewaktu bibiku sedang mencari sesuatu untuk menyumpal mulutku, lelaki selingkuhan bibiku itu sempat-sempatnya melecehkan aku di dalam ruangan yang gelap itu. Dia mencengkeram pergelangan tanganku, lalu mengarahkan tanganku ke bagian terlarangnya yang sudah terangsan*. Aku ketakutan. Tapi untuk yang pertama itu aku selamat. Bibiku keburu datang, mulutku langsung disumpal dan kedua tanganku diikat. Aku dikurung di gudang semalaman tanpa cahaya sama sekali. Ada tikus, ada kecoa, ditambah lagi malam itu hujan dan gentingnya bocor. Lantai gudang itu basah dan aku kedinginan. Tidak tahu apa saja yang menggigitku, entah nyamuk, entah lintah atau apa, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyingkirkan binatang-binatang itu dari tubuhku.
__ADS_1
Lalu, menjelang subuh, saat bibiku pergi ke pasar untuk belanja pagi, lelaki itu datang lagi. Dengan nafsu dan rasa penasarannya, dia masuk ke gudang, hendak memperkosaku. Waktu itu hari masih sangat gelap, tidak ada yang mendengar teriakanku saat penyumpal mulutku terlepas, lalu aku dibekap, pakaianku dirobek, dan aku nyaris saja dijamah kalau ayahku tidak keburu datang menolongku.
Tetapi itu bukanlah keberuntungan. Terjadi perkelahian di antara ayahku dan lelaki itu. Ayahku ditembak, tepat di dadanya. Aku histeris. Ketakutan. Hendak menjerit tapi tidak bisa. Aku mencoba berdiri, menghampiri ayahku, aku ingin menyelamatkannya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, tanganku masih terikat. Sebelum meninggal, ayahku berusaha untuk memelukku, tapi dia sudah tidak mampu, dia terjatuh di pangkuanku, masih sempat tersenyum dan menyampaikan pesan untukku: katanya aku harus kuat, dan aku harus bahagia. Lalu dia meninggal.
Sampai sekarang aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. Ayahku tewas di pangkuanku. Berlumuran darah dengan sebuah peluru bersarang di jantungnya. Bersamaan dengan embusan napas terakhirnya, aku pun jatuh pingsan.
Sewaktu aku sadarkan diri, aku berada di ranjang puskesmas bersama polisi itu. Dia menodongkan pistol ke kepalaku.
__ADS_1
Polisi itu mengancamku seperti itu, membuatku semakin ketakutan. Tapi andai saja dia hanya mengancam untuk membunuhku, mungkin aku akan berontak atau minta langsung ditembak mati saat itu juga. Jangan membawa-bawa orang lain, apalagi sampai menyeret pamanku.
Seolah tidak cukup dengan itu semua, nasibku bertambah malang, ayahku sudah dimakamkan saat aku keluar dari puskesmas. Bahkan lebih dari itu, ayahku diberitakan meninggal sebab polisi itu mengatakan bahwa dia terpaksa menembak ayahku untuk melindungi dirinya dalam perkelahian itu. Dan lebih parahnya, dia memfitnah ayahku sebagai predator yang hendak memperkosa anak kandungnya sendiri.
Jahat! Itu fitnah yang sangat keji.
Sungguh aku ingin menyuarakan kebenaran, tapi aku berada di bawah tekanan, aku stres. Di sekitarku selalu ada yang mengawasi gerak-gerikku, aku selalu diawasi, dan di puskesmas, pamanku juga dalam pengawasan anak buah polisi bejat itu. Peluru dari senjata mereka siap bersarang di kepala pamanku kalau aku berani bicara sedikit saja. Aku tidak berdaya. Mereka sangatlah kejam.
__ADS_1
"Demi Tuhan, aku sangat membenci polisi. Mereka sangat bejat!"
Dan malam ini tangisku pecah lagi. Ingatan tentang peristiwa tragis itu kembali merongrongku dari dalam.