
Hari ini, Bang Jack akan pergi ke pelabuhan jam empat pagi. Jadi, demi menyempatkan diri membuatkan sarapan untuknya, aku sengaja memasang alarm di ponselku sehingga aku bisa terbangun tepat pukul tiga pagi. Aku tidak ingin terburu-buru dan menghabiskan waktu dalam kerepotan, sebab itu aku mesti bangun satu jam sebelum dia berangkat, sementara Bang Jack sendiri masih terlelap dalam tidurnya.
Menit berikutnya, setengah jam berlalu, aku sudah selesai dengan kesibukanku: menggorengkan telur mata sapi, kerupuk, dan menggorengkan nasi plus membuatkan kopi dan menghidangkan semuanya di atas meja. Lalu, persis di saat aku hendak mengetuk pintu kamar Bang Jack, ternyata dia sudah bangun, dan membuka pintu sebelum aku sempat mengetuknya.
"Kamu sudah bangun," katanya.
"Hu'um. Aku sudah selesai masak. Sarapan, yuk?"
"Ya ampun, Sayang. Kok kamu repot-repot segala, sih?"
"Tidak, kok. Sudah menjadi tugasku, kan? Aku senang melayani suamiku. Maksudku, melayani calon suamiku."
Bang Jack tersenyum senang meski dengan wajahnya yang masih mengantuk. Aku pun meraih tangannya dan kuajak ia ke dapur dalam gandengan tanganku, kemudian aku memintanya duduk, dan menyuruhnya makan.
"Habiskan, ya. Nanti baru mandi."
"Aku mandinya nanti saja, agak siangan. Gampang, kok. Bisa mandi di kapal." Bang Jack meminum kopinya.
"Oh." Aku manggut-manggut. "Baiklah. Yang penting kamu makan dulu sampai kenyang. Wajib dihabiskan, oke?"
Hmm... perasaan melow itu singgah kembali di benakku. Tidak rela rasanya ditinggal pergi selama berhari-hari olehnya.
"Aku tidak suka melihat wajah senduhmu, Rose."
"Tidak, kok," sangkalku. "Aku... aku biasa saja. Serius."
"Kamu tidak bisa berbohong padaku," katanya santai seraya tetap melanjutkan makannya.
"Well, memang. Tapi aku hanya sedih karena akan terpisah jarak ribuan mil jauhnya dari Abang. Hanya itu."
"Aku tahu," katanya, lalu ia tersenyum samar. "Karena ini baru pertama kali. Nanti lama-lama akan terbiasa. Yang pasti aku akan sangat merindukanmu."
Nah... itu. Karena ini awalnya. Yang pertama kali. Aku belum siap, apalagi terbiasa. Sama sekali belum. "Aku juga. Aku akan merindukan Abang dalam hari-hariku yang kesepian."
"Rose... jangan bicara seperti itu. Tolong?"
"Iya, iya. Itu hanya curahan hati semata, kok."
"Jangan bahas hal ini lagi, oke? Aku akan sering meneleponmu. Geser tombol yang hijau. Kamu ingat, kan?"
Ya ampun, memangnya aku sudah pikun? Aku ingat apa yang ia ajarkan semalam. Anak kecil saja bisa dengan mudah belajar memainkan ponsel, masa aku kalah?
"Aku ingat, Abang," sungutku. "Tenang saja."
__ADS_1
Bang Jack pun mengangguk. "Rose, kuharap kamu tidak akan tersinggung. Tapi, please, jangan memberitahukan pada siapa pun nomor ponselmu. Tidak ada teman baru ataupun teman lama. Dalam duniamu saat ini hanya ada kita berdua. Kamu dan aku. Hanya kita berdua. Kamu paham?"
Aku balas mengangguk, kemudian kutatap mata itu dengan harap. "Hanya sementara, kan? Tidak untuk selamanya?"
"Rose...."
"Hanya sementara? Iya, kan?"
"Em. Hanya sementara."
"Kita akan punya anak?"
Bang Jack tertegun.
"Dia akan sekolah, kan? Dia akan punya banyak adik? Dia akan punya kehidupan yang bebas, bergaul dengan teman-teman sebayanya, dan suatu saat aku akan berinteraksi dengan ibu dari teman-temannya? Dengan guru-gurunya? Aku akan punya teman, ya kan? Please... tidak selamanya kita hanya hidup berdua, ya kan, Abang?"
Ah, andai saja Bang Jack tidak memulai, mungkin obrolan ini akan bisa terhindar untuk sementara. Setidaknya tidak untuk sekarang ini.
Takdir dan kehidupan yang "lucu" -- dalam tanda kutip. Aku dengan segala kemelut kehidupanku di masa lalu, dengan semua rasa kesepianku, sekarang aku malah bertemu dan menjalin asmara dengan seorang Jack Peterson -- dua kehidupan yang sama sepinya. Meski dia sendiri sudah berjanji akan mengajakku pergi jauh suatu saat nanti, tapi tetap saja, di depan sana -- tanda tanya (?) itu tetap menggantung dengan samar: akan bagaimana kehidupan kami di masa depan nanti?
"Aku menjanjikan kehidupan yang normal untukmu. Untuk masa depan kita dan anak-anak kita nanti." Dia mengangguk yakin seraya menggenggam satu tanganku.
Baiklah. Kuanggukkan lagi kepalaku dan aku tersenyum. "Kuharap suatu saat nanti Mama bisa sembuh, saat kita memberinya cucu. Jack dan Rose kecil untuk Mama." Karena kita tidak pernah tahu apakah Rose-nya akan kembali. Bahkan, apakah dia masih hidup atau tidak, tidak ada yang tahu.
"Aamiin. Aku harap. Dan aku paham. Semoga saja, Rose. Semoga."
"Abang tidak tersinggung, kan? Maksudku...."
"Tidak, Sayang."
"Ya. Aku bukan bermaksud pesimis soal Rose--"
"Aku mengerti. Aku paham. Oke?"
"Terima kasih."
"Em. Sama-sama. Bikin si kecilnya dari sekarang, yuk?"
"Ih, Abang...."
"Lebih cepat lebih baik, Sayang. Kita bikin anak yang banyak. Mau, kan?"
Dia terkekeh. Amat sangat senang. Mood-nya begitu mudah teratasi.
__ADS_1
"Sudah bercandanya, ya. Sekarang fokus. Habiskan makananmu."
Well, dia mengangguk. Walaupun mulutnya berceloteh, Bang Jack nampak jelas menikmati nasi goreng buatanku. Seperti ayahku dulu. Dia pun menyukainya.
"Abang?"
"Emm?"
"Aku boleh bertanya sesuatu, soal... pekerjaanmu?"
"Apa?"
"Kalau di film-film...."
"Em?"
"Pekerjaan... maksudku... dunia hitam itu... biasanya identik dengan... narkoba, obat-obatan terlarang. Apa Abang...?"
Lagi-lagi Bang Jack tertegun, tapi kemudian ia menggeleng. "Yang perlu kamu percaya bahwa aku bersih. Aku bukan pemakai dan juga bukan pengedar. Tapi... yap, itu hal biasa dalam dunia hitam yang kugeluti. Sori, maksudku, dalam bidang pekerjaanku."
Aku manggut-manggut, menyimak dengan antusias.
"Transaksi itu ada di mana-mana. Di hotel, tempat karaoke, club malam, rumah bordil, dan semuanya. Bahkan di kapal dan pelabuhan-pelabuhan. Di mana pun. Walaupun bos bukan pengedar, tapi dia mendapatkan bagian dan tips dari setiap transaksi, sebab dia memfasilitasi tempat transaksinya." Bang Jack menatapku serius, tepat ke dalam kedua mataku. "Kamu percaya padaku, kan? Aku bersih."
Yeah, entah dia pembohong yang andal atau bukan, dan entah aku ini bodoh atau tidak, tapi aku tidak melihat kebohongan di kedua mata itu. Hatiku percaya kepadanya.
"Aku sudah selesai makan." Bang Jack melirik ke jam dinding. Sudah pukul 03.45 WITA. "Aku mau siap-siap."
Hmm... aku melow lagi. Tapi aku berusaha mati-matian melawan perasaanku. Kuambil piring kotor bekas Bang Jack sarapan, lalu membawanya ke wastafel -- menyembunyikan wajah sedihku.
"Aku tidak suka melihatmu seperti ini."
Ya ampun, katanya dia mau siap-siap.
"Aku baik-baik saja," kataku, lalu aku berbalik menghadap Bang Jack yang berdiri rapat di belakangku. Memelukku. "Jangan khawatir, oke?"
Tapi dia menggeleng. "Baiklah. Akan kuberikan kenangan dan perpisahan yang manis untukmu."
Eh?
"Abang...!"
Dasar pria gila! Dengan entengnya Bang Jack menggotongku di pundaknya dan membawaku ke kamarnya. Di sana, di atas tempat tidurnya dia menjatuhkanku dan langsung menindihku. Plus, mencumbuiku.
__ADS_1
"Untuk lima belas menit yang berkesan," bisiknya di depan wajahku. Wajahnya dihiasi cengiran yang edan.
Oh, Abang... kau membuatku memekik dalam kesenangan. Yeah, aku tahu, kekasihku itu, dia hanya ingin bercanda, dan, dia tidak akan melewati batas. Dia buas, sekaligus jinak.