Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Momen Manis Yang Sempurna


__ADS_3

Resmi menjadi sepasang kekasih bukan berarti kami berdua bisa mendeklarasikan hubungan kami di depan publik. Jack tetap ingin merahasiakan status hubungan kami, termasuk di depan para anak buahnya. Dia meyakinkan aku kalau berstatus sebagai adiknya itu akan lebih aman jika aku tinggal di apartemennya. Dia sudah berubah pikiran. Menurutnya, tinggal di apartemen miliknya akan membuatku lebih aman daripada aku tinggal di rumahnya yang cukup jauh dari keramaian. Selain itu, itu juga akan mempermudahnya untuk mengunjungiku. Lagipula aku membutuhkan identitas Rose Peterson, aku tidak bisa tinggal bersamanya tanpa status. Selain merahasiakan hubungan kami, Jack juga tidak keberatan kalau aku tetap merahasiakan jati diriku. Dia sama sekali tidak keberatan apa dan siapa aku di masa lalu.


"Yang penting itu kamu seorang perempuan asli, bukan makhluk jadi-jadian, dan yang lebih penting lagi -- kamu cantik luar dan dalam."


Hmm... aku mendelik, sekaligus merasa malu. Jelas dia tahu aku seorang perempuan tulen karena dia sudah melihatku secara utuh.


"Sori, sori, maksudku... kamu asli, bukan produk hasil operasi, dan kecantikanmu natural, kamu cantik bukan sekadar cantik secara fisik, tapi hatimu juga. Jangan berpikiran yang aneh-aneh."


Ckckck!


Menyebalkan sekali, sih! Kata-katanya sendiri yang merujuk: seolah-olah bayangan tubuh polosku terlintas di benaknya.


"Memangnya kamu bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu? Hmm?"


Dia menjawil hidungku. "Jangan membahas hal ini, Rose. Kamu berhadapan dengan seorang pria dewasa."


Uuuh... pagar betis, tapi dia membuatku gemas. Aku justru penasaran dengan makna dewasa yang ia maksud.


Oh, Bang Jack....


Untungnya obat-obatan yang masih harus kukonsumsi itu memberikan efek rasa kantuk. Aku menguap dan Jack menyuruhku untuk tidur.


"Aku percaya padamu, kamu tidak akan pergi dan meninggalkan aku. Jadi, malam ini aku akan membiarkanmu tidur sendiri."


Aku mengangguk. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu identitasku, kamu tempatku berpegang dan tempatku untuk pulang. Terima kasih. Aku mencintaimu."


Jack tersenyum. Dengan satu ciuman sayang di keningku, dia meraih laptopnya dan keluar dari kamarku. Dan malam ini, malam terindah bagiku dan aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku tidak lagi merasa gersang dan sebatang kara di dunia ini. Semua karena dia, Jack Peterson.

__ADS_1


Dan, sebagaimana indahnya malam ini, keesokan malamnya pun tak kalah indah. Jack menyibukkan diri seharian, mengerjakan semua tugas dan laporan yang mesti ia cek dan mesti segera ia serahkan kepada bosnya. Sebabnya, sesampainya kami di Bali nanti, Jack ingin minta libur satu hari demi bisa menemaniku beradaptasi di tempat baru. Jadi, setelah sepanjang siang aku sendirian dan bahkan makan malam pun sendirian, Jack menemuiku ketika malam sudah benar-benar larut. Dia mengetuk pintu kamarku, dan sama seperti dirinya, aku juga belum tidur. Aku belum meminum obatku malam itu.


"Aku tidak bisa tidur sebelum bertemu denganmu," katanya setengah berbisik.


Aku tersenyum, kupersilakan dia masuk dan kami berpelukan setelah pintu tertutup. Tidak perlu ada kata rindu, pelukan itu sudah mewakili segalanya. Untuk sesaat, kami berdua duduk di sofa dan saling menanyakan bagaimana keseharian kami tadi siang.


"Aku jenuh," akuku. "Aku tidak melakukan apa pun selain melamun dan menonton DVD."


Jack mengerti. Sebab itulah, dia mengajakku keluar dari kamar dan naik ke geladak atas. Dan berhubung hari sudah larut, suasana sudah sepi. Para bodyguard lainnya sudah tidur lelap di kamar mereka masing-masing.


"Nah, apa kamu ingin mencoba adegan seperti di film Titanic itu?" tanya Jack.


Tapi aku menggeleng. "Aku takut nanti malah terjatuh lagi."


"Tidak akan. Kan ada aku. Ayo."


"Kamu akan terjun lagi ke laut kalau aku terjatuh? Hmm?"


Aku tertawa. "Tidak perlu. Aku percaya kamu akan menjagaku, dan aku tidak akan sampai terjatuh."


Kusambut tangan Jack dan kami mulai menaiki tangga besi di bagian depan kapal. Dengan merentangkan kedua belah tangan, aku merasakan embusan angin malam membelai wajahku. Sementara Jack, dia berdiri di belakangku dengan kedua belah tangan melingkar sempurna di tubuhku.


"Aku mencintaimu," Jack berbisik mesra di antara desauan suara angin. "Please, menikahlah denganku. Akan kujanjikan kebahagiaan yang sempurna di setiap hari-harimu."


Ya Tuhan, untunglah dia mengajakku turun dari tangga besi itu. Kalau tidak, barangkali aku akan terjatuh lagi dan kali ini karena rasa grogi.


Aku menunduk menahan senyum, lalu, kuberanikan diri untuk menghadapnya. Dan, kemudian, tanpa terduga, Jack menangkupkan kedua belah tangannya di lekuk tulang pipiku, lalu berujar lembut, "Aku tidak memiliki apa pun untuk kuberikan padamu saat ini. Tapi, aku merasa ini waktu yang tepat untuk memintamu, bukan sekadar hanya menjadi kekasihku, tapi untuk menjadi istriku. Satu cinta, teman hidupku untuk selamanya."

__ADS_1


Oh, Tuhan. Aku terdiam. Kedua kakiku terasa lemas. Ini pertama kali seseorang memperlakukanku semanis ini. Ada yang mendesir di dalam dada. Sesuatu yang menyejukkan, lebih sejuk daripada embusan angin di malam ini.


Sengaja kunikmati dulu momen manis ini sebelum akhirnya aku berusaha mendongak untuk memandang wajah yang...


Aaaaah... wajah itu lebih dari sekadar tampan, dan dia lebih dari sekadar gagah. Dia sempurna. Garis tampan itu memang jelas nyata dimiliki oleh kekasihku.


Dalam hening kami berdua terpaku, pelan kurasakan tubuh kami kian dekat. Semilir angin yang hadir terabaikan. Saat tubuh kami benar-benar mendekat, Jack sedikit mendongakkan wajahku dan bibirnya kian mendekat. Aku sendiri tidak bereaksi apa-apa. Aku juga tidak menolak.


Tanpa banyak suara, kecupan -- bukan, ciuman itu, ciuman pertamaku, ciuman dari kekasihku tercinta pun mulus mendarat di bibirku. Menempel dengan sempurna.


Dan, aku... aku sangat menikmatinya. Hingga beberapa menit detik waktu berjalan, kurasa aku tak ingin melepaskan ciuman mesra itu. Kurasakan kehangatan yang... entahlah... aku tak dapat menyebutnya. Yang jelas, aku sungguh-sungguh menikmati.


Jack yang lebih dulu menarik wajahnya tersenyum, membuatku tersipu.


Sejenak, Jack kembali mendekatiku, lalu mengecup sisi keningku. Kali ini, entah mengapa, seperti makanan penutup yang menyelesaikan rasa kenyangku. Aku sangat lega setelahnya.


"Aku tidak perlu menunggumu menjawab iya, kan? Aku sudah mendapatkan jawabannya."


Uuuuuh...!


Kalimat itu seperti pelengkap apa yang kurasakan saat ini. Menyempurnakan.


Aku menerimanya. Tidak akan bisa menolaknya. Dengan alasan apa pun.


Aku terdiam sejenak. Semua situasi tak terduga ini seperti membuka satu jendela hati yang selama ini tertutup, tak pernah terketuk.


"Kamu tidak perlu takut pada apa pun. Aku janji akan selalu setia padamu. Bersamamu, apa pun keadaanmu," kembali suara Jack terdengar. Kali ini ia sedikit bergeser. Mungkin dia tahu aku tengah kesusahan menenangkan perasaanku saat ini.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Aku percaya sepenuhnya padamu," akhirnya aku mampu untuk membuka suara.


Jack tersenyum. Kilatan bahagia terpancar jelas dari kedua matanya. Dan, malam yang sempat membuatku panas-dingin itu selanjutnya kuhabiskan berdua dengan Jack. Di dalam kamarku. Kami mengobrol hingga rasa kantuk itu membuatku tertidur dalam hangat pelukannya.


__ADS_2