
"Tenanglah. Dia tidak akan menyakitimu," kata Bang Jack. Dia menatapku dengan penuh harap. "Please, jangan menolaknya, ya?"
Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya? Tidak akan bisa. Walau dia bukan ibuku, tapi aku suka perasaan yang meliputiku saat ini. Begini rasanya pelukan seorang ibu. Hangat dan menyenangkan. Pelukan yang tidak pernah kurasakan. Karena satu-satunya wanita yang pernah memelukku hanyalah nenekku, itu pun sudah sekian belas tahun yang lalu. Dan sekarang, ada seorang ibu yang memelukku. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?
Aku mengangguk. "Tidak akan," bisikku. Aku justru membalas pelukannya.
"Ini benar-benar Rose. Putriku." Kurasakan tangan tua itu menepuk-nepuk punggungku, diselingi mengelus rambut panjangku. "Jangan menangis, Sayang. Jangan takut, ada Mama di sini. Yang penting Rose sudah pulang."
Aku tidak tahu mesti mengatakan apa. Dan, parahnya, aku tidak tahu bagaimana mesti berlakon sebagai seorang putri sungguhan di depan ibunya. Setidaknya, aku tahu aku harus balas memeluknya dan balas *eremas jemarinya ketika ia memperlakukanku seperti itu. Dan untungnya itu adalah waktunya jam makan siang. Seorang perawat datang membawakan nampan makanan untuknya.
"Ibu mau kusuapi?" tanyaku.
Dia agak tertegun. "Ibu?" tanyanya, lalu Bang Jack menyadarkan kesalahanku. Aku harus memanggilnya mama, bukan ibu.
"Maaf, maksudku... Mama. Mama mau kusuapi? Mau, ya?"
Sekarang ibunya Bang Jack mengangguk-angguk. Kuajak ia kembali ke ranjang rawatnya lalu aku mengambil alih nampan makanan itu dari tangan suster dan menyuapinya. Bang Jack meraih kursi di sudut ruangan dan menariknya ke dekat ranjang. Ia hanya duduk memperhatikan kami.
Sambil makan, ibu yang kusuapi itu terus berceloteh. Dia bilang bahwa dia sangat bahagia bertemu denganku -- dalam artian ia bahagia bertemu dengan gadis yang ia kira adalah putrinya. Dia bahkan bertanya selama ini aku ke mana, apa saja yang kulakukan, dan lain-lain.
Aku hanya bisa menceritakan tentang keseharianku yang sebenarnya, tanpa bisa menyebut bahwa yang membesarkan aku adalah ayah kandungku sendiri. Aku hanya bisa menyebutnya sebagai ayahku dan sekarang ia sudah meninggal.
__ADS_1
Well, semuanya nampak berjalan dengan baik kecuali satu hal: di punggung tanganku tidak ada tanda lahir ataupun tahi lalat. Dan aku menyadari itu ketika ibunya Bang Jack memperhatikan tanganku.
"Tanganku dilaser," dustaku. "Terkena minyak panas, jadi mesti diobati."
Ya Tuhan, maafkan aku karena sudah berbohong.
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu sehat. Ada orang baik yang mau merawatmu. Kamu sudah pulang ke pelukan Mama. Dan Mama tidak mau kehilanganmu lagi. Jangan tinggalkan Mama lagi, ya, Sayang? Mama sangat sayang padamu."
Haru. Aku meraih tisu dari meja samping ranjang. Rasanya seperti ada bendungan yang jebol. Air mataku. Emosiku. Segala sesuatu membanjir keluar. Aku kehilangan kendali.
"Hei, jangan menangis. Mama di sini. Bang Jack juga sudah pulang, kan? Dia akan menjaga kita. Kamu tahu, abangmu sudah berjanji pada Mama, dia tidak akan pergi ke Jerman lagi. Kuliahnya sudah selesai."
Hmm... Bang Jack menarik napas dalam-dalam, mengembangkan paru-parunya. Sesudah mengembuskan napas kembali, ia memejamkan mata dan berkata, "Aku... aku keluar sebentar."
Biarkan saja. Dia akan baik-baik saja. Dia lelaki yang kuat dan bisa mengatasi kepedihannya sendiri.
Bersamaku, wanita tua itu -- yang sekarang kupanggil mama, dia terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum di sepanjang detik kebersamaan kami, dan ia juga tak henti-hentinya mengelus wajahku, rambut, juga tanganku. Di sentuhnya aku di bagian mana pun yang bisa ia jangkau. Dia, tak hentinya mengutarakan penyesalannya sebab tidak bisa menemani putrinya melewati masa-masa pertumbuhan.
Kalau dilihat sepintas saat ini, dia nampak sehat. Tapi sejujurnya tidak, sebab secara perasaan ia tidak bisa lagi merasakan apakah yang ada di hadapannya ini benar-benar putrinya atau bukan. Tadi Bang Jack sempat berbisik, ini bukan yang pertama kali, ibunya selalu bersikap seperti itu kalau melihat seorang gadis muda. Ia selalu menganggap itu adalah putrinya. Tapi baru kali ini ada orang yang mau bertahan, mengiyakan dan menanggapi drama ini. Drama: kebohongan yang manis, yang menghindarkannya dari keadaan down dan kehisterisan, plus menghindarkannya dari suntikan obat penenang.
Tidak apa-apa, kok. Aku bersedia menjadi putrinya. Setidaknya dia bisa kembali tersenyum dan nampak bahagia. Itu sudah cukup.
__ADS_1
"Jack," panggilnya ketika sang putra kembali masuk ke kamar rawatnya lalu duduk di kursi. "Mama mau pulang."
Oh, Tuhan....
"Mama sudah sehat, Nak. Bawa Mama pulang, ya?"
Bang Jack mengangguk. "Tapi nanti, kalau kondisi Mama sudah benar-benar pulih."
"Nak, Mama--"
"Dengarkan Jack, oke?"
"Tapi Mama mau bersama Rose."
"Iya, Ma. Tapi nanti, tunggu kondisi Mama benar-benar pulih. Mama masih butuh dokter. Nanti kalau di rumah Mama kenapa-kenapa, Rose sedih, ya kan? Rose baru pulang, Mama tidak mau membuatnya sedih, kan?"
Mama mengangguk-angguk.
"Aku akan sering datang ke sini," kataku. "Aku janji."
"Kamu janji?" tanyanya sendu seraya memegangi kedua tanganku.
__ADS_1
"Ya, aku janji. Aku pasti akan datang lagi menemui Mama. Jangan khawatir, ya. Aku sayang Mama."
Mama tersenyum dan aku membalasnya. Setelah itu kami berpelukan lagi cukup lama, dia menciumku lagi di kening, lalu mencium pipi kananku, lalu pipi kiriku, kemudian kedua telapak tangan dan punggung tanganku. Aku melakukan hal yang sama kepadanya, dia tersenyum bahagia, dan akhirnya aku dan Bang Jack berpamitan: menyudahi kebohongan yang manis ini, dan tentu akan melanjutkannya lagi di lain hari.